Pasrah pada allah

Hikmah Kedua: Syahwat Tersembunyi di Balik Tajrid

Ustadz Agus Sutisna

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِرَادَتُــكَ الـتَّجْرِيْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِيَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَةِ الْخَفِـيـَّةِ

وَإِرَادَتُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan keinginan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, dimana Allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan), adalah termasuk dalam bisikan syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari himmah (tekad spiritual) yang luhur.”

Dinamika kehidupan seringkali menempatkan kita pada persimpangan antara Tajrid dan Asbab. Tajrid adalah melepas ikatan dunia, dan hanya fokus pada Allah. Sedangkan Asbab menjalani sebab-sebab duniawi seperti pekerjaan, bisnis, keluarga, berorganisasi dan tanggung jawab sosial.

Dalam Hikmahnya yang Kedua ini Ibn ‘Athaillah mengingatkan bahwa keinginan untuk berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, tanpa memahami penetapan Allah atas diri kita, bisa menjadi jebakan halus ego spiritual.

Tajrid tanpa kesiapan adalah ketika seseorang ingin meninggalkan segala hal yang berwatak duniawi, padahal Allah masih menegakkannya dalam peran-peran sosial yang harus dijalani, keinginan ini bukanlah zuhud sejati, melainkan syahwat spiritual tersembunyi. Ada ego yang ingin terlihat suci, padahal hakikatnya lari dari amanah.

Dan sebaliknya, Asbab tanpa kesadaran, yakni ketika seseorang sudah diberi Allah jalan tajrid (hidup sederhana, menghindari segala perkara duniawi dan fokus ibadah), lalu ia memaksakan diri kembali ke hiruk-pikuk dunia, hasrat ini berarti menurunkan derajat himmah yang tinggi.

Hikmah ini mengajarkan kepasrahan elegan. Jangan tergesa-gesa mengatur panggung hidup sendiri. Biarkan Allah yang menegakkan kita di posisi yang paling tepat. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, dan bekerja bukan berarti meninggalkan Allah. Keduanya bisa menjadi jalan menuju-Nya, asal kita tidak dikendalikan oleh syahwat tersembunyi dan ego spiritual.

Di dalam Al Quran Surat Al-Qashash 77, Allah mengingatkan :

                           وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat tersebut mengisyaratkan kita untuk menciptakan keseimbangan hidup antara ikhtiar untuk kepentingan akhirat nanti dan kebutuhan duniawi saat ini. Mengejar urusan-urusan duniawi hingga kita melupakan kepentingan akhirat dan lalai terhadap ibadah, adalah bentuk degradasi (kemerosotan) posisi kita di hadapan Allah.

Namun sebaliknya, berusaha menghindari urusan-urusan duniawi (misalnya profesi sebagai jalan menafkahi keluarga, atau beraktifitas sebagai bentuk tanggungjawab sosial sebagai khalifatullah fil ardhi) boleh jadi merupakan bentuk syahwat tersembunyi dari ego spiritual.

Dengan cara demikian kita ingin terlihat suci di tengah kehidupan dunia yang serba kotor. Lalu berupaya keras melakukan tajrid, memilih Uzlah (mengasingkan diri dari pergaulan sosial), dan menjalani Zuhud tanpa benar-benar memahami posisi diri yang telah Allah tetapkan untuk kita untuk kurun waktu tertentu sesuai kehendakNya.

Didalam magnum opusnya, Ihya ‘Ulumuddin, Imam Ghozaly mengingatkan : “Ketahuilah, banyak orang mengira, orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud (zahid). Padahal tidak mesti demikian. Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan “buruk” itu mudah dan ringan saja bagi mereka yang berambisi dipuji sebagai seorang Zahid.”

Dan Zuhud ungkapnya, bukanlah berarti ketiadaan harta duniawi, bukan hidup dengan jalan meninggalkan urusan-urusan dunia. Melainkan hidup tanpa bergantung pada dunia, pada harta dan perkara-perkara duniawi. Bukankah Nabi Sulaiman sendiri adalah orang yang berlimpah dengan kekayaan bahkan kekuasaan, tapi toh beliau tetaplah tergolong orang yang zuhud.

Di era digital, godaan untuk “melarikan diri” dari maqam yang telah Allah tetapkan untuk seseorang pada kurun waktu tertentu sangat nyata dan masif. Di sisi Tajrid, ingin terlihat sebagai “sufi” atau “salik”, padahal yang sedang dikejar adalah sekedar branding dan pencitraan diri.

Di sisi Asbab, seseorang sudah Allah berikan kesempatan untuk fokus pada ibadah, tetapi tergoda kembali ke hiruk-pikuk dunia maya, scrolling nyaris tanpa henti, atau memburu follower dan mengejar popularitas.

Relevansi pesan Ibn ‘Athaillah dalam konteks kekinian: jangan mudah tergoda oleh citra digital. Tetaplah pada maqam yang Allah tetapkan, baik sebagai akademisi, pekerja, pebisnis, atau pendakwah dan pendidik. Jadikan dunia dan piranti digital sebagai asbab untuk ilmu, dakwah, dan ibabah, dan berharaplah kelak ia menjadi jalan untuk beranjak ke maqom yang lebih dekat dengan Allah.

Akhir kalam. Hikmah Kedua ini mengajarkan bahwa maqam hidup adalah amanah Allah. Jangan tergesa-gesa berpindah demi citra diri. Tajrid dan Asbab sama-sama bisa menjadi jalan menuju Allah, asal dijalani dengan sabar dan ikhlas. Jangan biarkan ego tersembunyi mengendalikan pilihan kita. Tetaplah tegak dan istiqomah di maqam yang Allah tetapkan, sambil menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat. (Bersambung)

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *