Studio 20210129 105807

Hikmah Keempat: Uruslah yang Menjadi Bagian Kita Saja

Oleh Ustadz Agus Sutisna

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi) dengan susah payah. Karena sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (yakni Allah), tidak perlu engkau turut mengurusnya.”

Di era yang serba kompleks dan kompetitif, yang didukung oleh pikiran dan kepercayaan bahwa untuk meraih segala harapan serta mewujudkan setiap keinginan, kita cenderung untuk mengatur segalanya, mengatur semua bagian dari A sampai Z. Bahkan juga bagian-bagian yang secara teknis dan substantif sesungguhnya bukanlah porsi kita untuk mengurusnya.

Sebagai manusia, kita jelas memiliki keterbatasan, bahkan ketika berbagai instrumen digunakan untuk mendukung ikhtiar mewujudkan setiap harapan dan keinginan. Mulai dari metode, teknik, strategi, hingga prosedur. Semua kita rancang, kita siapkan, kita lakukan, lalu dengan sepenuh keyakinan segala yang menjadi harapan dan keinginan bakal terwujud.

Kita sering lupa, bahwa hasil akhir dari setiap ikhtiar adalah mutlak otoritas Allah SWT. Bahkan juga sering lupa, bahwa ada bagian-bagian dari rangkaian proses yang tidak mungkin kita kontrol sepenuhnya. Meski ilmu manajemen, proyeksi dan mitigasi paling canggih sekalipun kita gunakan, kendali kita tetaplah terbatas atas setiap urusan yang direncanakan dan dikerjakan.

Relate dengan fenomena itulah, aforisma dari untaian Hikmah Ibnu ‘Atho’illah dalam matan Hikam menarik untuk difahami dengan sepenuh penghayatan. “Istirahatkanlah dirimu dari melakukan Tadbir…” pesannya lugas. Tadbir artinya merencanakan, mengatur, mengelola dan mengendalikan suatu urusan.

Khazanah literasi Islam menggunakan istilah Tadbir dalam kerangka hubungan (relasi) antara manusia dengan Tuhan. Dalam bukunya Tadbir al-Mutawahhid misalnya, Ibnu Bajjah (seorang filsuf Spanyol) menjelaskan Tadbir dengan terminologi “Mengatur tindakan untuk sebuah tujuan yang direncanakan.”

Dalam kerangka relasi itu, Tuhan adalah Mudabbir (Yang Maha Pengatur) dengan kuasa dan otoritas mutlak. Sementara manusia adalah subyek yang diatur. Maka Tadbir sejati, Tadbir yang hakiki adalah Tadbir Allah. Dialah yang mengatur segala urusan, termasuk bagian-bagiannya yang dengan piranti akal fikiran, kita diberikan kesempatan untuk merencanakan dan melaksanakannya. Dengan demikian istilah Tadbir yang disematkan pada manusia hanyalah analogi dengan keterbatasan kuasa dan kemampuan mutlak.

Firman-Nya dalam surat Yunus ayat 3 :

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa atas ʻArasy (seraya) mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun pemberi syafaat, kecuali setelah (mendapat) izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka, sembahlah Dia! Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Ayat diatas dengan tegas menyebutkan bahwa Allah “yudabbirul amr,” mengatur segala urusan. Kemudian pada Al Quran surat Al Insan ayat 30 berikut ini Allah juga menegaskan perihal kehendak mutlak-Nya, mengatasi segala bentuk kehendak setiap manusia.

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ

“Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Namun demikian Tadbir sebagaimana diuraikan diatas sama sekali tidak dimaksudkan agar kita menjadi pasif. Berhenti dari memikirkan, merencanakan, dan melakukan ikhtiar untuk setiap harapan, cita-cita atau kehendak. Ikhtiar tetaplah wajib dilakukan, yakni Ikhtiar yang  diikuti dengan sikap Tawakal kepada Allah.

Tawakal adalah sikap berserah diri dan sepenuhnya mempercayakan segala urusan kepada Allah SWT setelah berusaha maksimal (ikhtiar), dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang menentukan hasil terbaik untuk setiap usaha kita.

Dalam Al Quran surat Al Jumu’ah ayat 10, Allah berfirman :

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka berteberanlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah (rizki) dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”

Perihal ikhtiar dan tawakal, Rosulullah SAW telah memberikan isyarat melalui beberapa hadits yang diriwayatkan para sahabat, misalnya hadits berikut ini :

 قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُرْسِلُ نَاقَتِيْ وَأََتَوَ كُّلُ قَالَ : اِغْقِلهَا وَتَوَ كَّلْ

“Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah“

Akhir kalam. Ikhitar tetaplah perlu, namun jangan sampai setiap ikhtiar yang kita lakukan menjadi Tadbir obsesif hingga membuat kita lupa, bahwa sekeras apapun usaha, secanggih apapun ikhtiar, kita tidak akan pernah mampu mengendalikan semua bagian dan hasilnya. Maka pilihan yang tersedia setelah ikhtiar hanyalah tawakal, berserah diri kepada Allah sambil terus berdoa untuk memperoleh hasil terbaik yang Allah pilihkan untuk kita. (Bersambung). 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *