Peristiwa Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa, tetapi peristiwa agung yang mengandung pesan akidah, ibadah, dan akhlak yang terus relevan sepanjang zaman. Melalui Isra’ Mi‘raj, Allah SWT meneguhkan keimanan Rasulullah SAW sekaligus menghadiahkan kepada umat Islam sebuah kewajiban mulia: shalat lima waktu.
Makna Isra’ Mi‘raj dalam Al-Qur’an
Isra’ Mi‘raj memiliki dasar hukum yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَىٰ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa nyata atas kehendak Allah, yang terjadi pada diri Rasulullah SAW sebagai bentuk kemuliaan dan keistimewaan kenabian beliau.
Perjalanan di Tengah Ujian Berat
Isra’ Mi‘raj terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Rasulullah SAW, setelah wafatnya Sayyidah Khadijah r.a. dan Abu Thalib, serta penolakan penduduk Thaif. Dalam kondisi duka dan tekanan dakwah, Allah mengangkat Rasul-Nya untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zād al-Ma‘ād menjelaskan bahwa Isra’ Mi‘raj merupakan bentuk penghiburan dan penguatan spiritual dari Allah kepada Rasulullah SAW agar tetap teguh dalam menjalankan risalah.
Kepemimpinan Rasulullah SAW di Hadapan Para Nabi
Dalam peristiwa Mi‘raj, Rasulullah SAW dipertemukan dengan para nabi terdahulu dan menjadi imam shalat bagi mereka. Para ulama menafsirkan peristiwa ini sebagai penegasan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin para nabi dan penutup seluruh risalah.
Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW sekaligus pengakuan langit atas kepemimpinan beliau bagi seluruh umat manusia.
Shalat: Hadiah Langit untuk Umat Islam
Puncak dari Isra’ Mi‘raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Kewajiban ini ditetapkan langsung oleh Allah tanpa perantara, menunjukkan kedudukan shalat yang sangat agung dalam Islam.
Dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa shalat awalnya diwajibkan lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala tetap lima puluh. Hal ini mencerminkan kasih sayang Allah sekaligus pentingnya menjaga shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyebut shalat sebagai mi‘raj-nya orang beriman, yakni sarana seorang hamba untuk mendekat kepada Allah dalam setiap sujud dan doa.
Pandangan Ulama
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah berpendapat bahwa Isra’ Mi‘raj terjadi secara jasmani dan ruhani. Pendapat ini dijelaskan dalam berbagai kitab klasik seperti Tafsīr Ibn Kathīr dan Tafsīr al-Baghawi.
Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Marāḥ Labīd menegaskan bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh hukum kebiasaan manusia. Oleh karena itu, mempercayai Isra’ Mi‘raj merupakan bagian dari keimanan kepada perkara gaib yang diberitakan oleh Rasulullah SAW.
Hikmah bagi Santri dan Umat Islam
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa di balik kesulitan hidup, selalu ada jalan penguatan dari Allah. Shalat menjadi sarana utama untuk menjaga hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, terutama di saat menghadapi ujian.
Bagi santri dan umat Islam pada umumnya, Isra’ Mi‘raj adalah pengingat bahwa kemuliaan hidup tidak diukur dari dunia semata, tetapi dari seberapa dekat seseorang dengan Allah melalui shalat, akhlak, dan ketaatan.
Penutup
Isra’ Mi‘raj bukan hanya peristiwa bersejarah, tetapi pesan abadi agar umat Islam senantiasa menjaga shalat sebagai fondasi kehidupan. Dari perjalanan langit Rasulullah SAW, kita diajak untuk menata kembali perjalanan hati menuju Allah SWT
Semoga peringatan Isra’ Mi‘raj semakin menguatkan iman, memperbaiki ibadah, dan meneguhkan komitmen kita dalam meneladani Rasulullah SAW. (piriries)
