Images

Hikmah Kelimabelas: Hakikat Hijab dan Ilusi Optik Spiritual

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si

 

Pengantar

Pada Hikmah Keempatbelas kita dibawa menyelami samudera makrifat tentang bagaimana alam semesta ini aslinya adalah kegelapan yang hanya benderang karena pantulan cahaya Ilahi. Sekarang Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari mengajak kita untuk membedah sebuah ironi terbesar dalam psikologi spiritual manusia.

Secara umum, kita sering kali merasa bahwa Tuhan itu tersembunyi, gaib, dan berada di balik tirai alam semesta yang begitu nyata. Kita menganggap dunia fisik ini sebagai sebuah benteng konkret yang menghalangi pandangan kita untuk bersua dengan Sang Pencipta.

Namun, melalui Hikmah ke-15 ini, logika terbalik kembali disuguhkan dengan sangat puitis oleh As Sakandari. Bagaimana mungkin sesuatu yang hakikat eksistensinya “tidak ada” (fana) justru mampu menutupi Dzat Yang Maha Ada dan Maha Menampakkan diri? Di sinilah kita akan belajar meruntuhkan berhala-berhala visual di sekitar kita agar mampu melihat realita yang sesungguhnya.

مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معه

“Di antara bukti yang menunjukkan betapa Maha Perkasa-Nya Allah (sifat Al-Qahhar) adalah bahwa Dia mampu menghijab (menghalangi) engkau dari melihat-Nya melalui perantara sesuatu yang aslinya tidak ada di sisi-Nya.”

Kajian Referensi

Teks pendek ini mengandung kedalaman ilmu tauhid tingkat tinggi yang sering kali diulas secara hati-hati oleh para pensyarah agar tidak menimbulkan salah paham bagi pembaca awam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menitikberatkan ulasannya pada konsep Sifat Al-Qahhar (Maha Perkasa/Maha Menundukkan). Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa keperkasaan Allah di sini tidak melulu soal menghancurkan kaum yang lalai dengan azab, melainkan kemampuan-Nya dalam memanipulasi persepsi manusia.

Allah mampu membuat makhluk yang aslinya lemah, fana, dan tidak memiliki wujud hakiki, tampak begitu raksasa, memikat, dan menakutkan di mata manusia, hingga manusia lupa pada Dzat yang menciptakan makhluk tersebut. Hijab itu, menurut Ibnu ‘Abbad, adalah sebuah ilusi optik spiritual yang diciptakan oleh keperkasaan-Nya untuk menguji siapa hamba yang benar-benar menggunakan akal batinnya.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam mempertegas kalimat “laisa bi-maujūdin ma‘ahū” (sesuatu yang tidak ada bersama-Nya). Secara ontologis dalam ajaran tasawuf murni, satu-satunya yang memiliki wujud mutlak dan mandiri hanyalah Allah. Sementara manusia, uang, jabatan, dan seluruh isi bumi ini hanyalah wujud majazi (semula tidak ada, lalu diadakan, dan kelak akan hancur kembali menjadi tidak ada).

Bin Ajiba menyatakan bahwa sangat ajaib ketika manusia terhalang dari melihat Dzat yang Maha Nyata hanya karena silau oleh bayangan fana yang aslinya nihil. Beliau mengibaratkan seperti seorang anak kecil yang ketakutan setengah mati melihat bayangan boneka di dinding kamar yang gelap, padahal bayangan itu tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa adanya lampu dan objek aslinya.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi dalam syarahnya menarik hikmah ini ke dalam koridor hukum sebab-akibat (hukum asbab). Al-Bouthi menjelaskan bahwa keperkasaan Allah menuntut manusia untuk hidup di dunia fisik ini dengan segala aturannya. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar hati kita tidak ikut menuhankan sebab-sebab fisik tersebut.

Ketika seseorang mengira bahwa kesuksesannya murni karena kerja kerasnya, atau kesembuhannya murni karena kehebatan obat yang diminumnya, di situlah ia sedang terhijab oleh sesuatu yang aslinya tidak memiliki wujud kuasa di hadapan Allah.

Syarah Kontemporer

Membawa diktum teologis abad ke-13 ini ke dalam dinamika abad ke-21 memberikan kita sebuah pisau analisis yang sangat tajam untuk membedah kecemasan-kecemasan hidup manusia modern. Kita hidup di era di mana “sesuatu yang tidak ada” itu telah menjelma menjadi berhala-berhala baru yang menyerap seluruh perhatian, waktu, dan energi kita.

Dalam konteks psikologi masyarakat modern, hijab yang memenjarakan kita hari ini berbentuk metrik-metrik sosial yang semu. Kita sering kali merasa ketakutan yang luar biasa terhadap masa depan, cemas akan kehilangan pekerjaan, atau stres berat karena tidak mampu memenuhi standar gaya hidup yang dicitrakan oleh lingkungan.

Uang di dalam rekening, jumlah followers di akun media sosial, atau selembar kertas surat jabatan adalah contoh nyata dari benda-benda duniawi yang aslinya fana dan tidak membawa serta esensi kebahagiaan.

Namun, karena keperkasaan Allah yang sedang menguji kita, benda-benda fana tersebut tampak begitu perkasa mengendalikan emosi dan kedamaian batin kita. Kita rela mengorbankan waktu salat, mengabaikan kejujuran, bahkan merusak hubungan keluarga demi mengejar sesuatu yang di dalam teks ini disebut dengan “laisa bi-maujud”,  yakni sesuatu yang hakikatnya nihil dan tidak kekal.

Ketika kita membiarkan diri kita ketakutan secara berlebihan terhadap ancaman kemiskinan atau penilaian buruk dari manusia, kita sebenarnya sedang terjebak dalam ilusi optik tersebut.

Kita menganggap makhluk memiliki kekuatan mandiri untuk menentukan nasib kita. Kita lupa bahwa makhluk yang kita takuti itu, detak jantungnya sendiri sedang berada di dalam genggaman kekuasaan Allah. Mereka tidak memiliki daya apa pun untuk memberi manfaat atau mudarat tanpa izin-Nya.

Refleksi

Sembari kita duduk bersama menikmati sisa kopi kita di malam ini, mari kita bawa bait ke-15 ini ke dalam ruang kontemplasi batin yang paling jujur. Cobalah tengok masalah terbesar apa yang saat ini sedang membuat dada kita terasa sesak dan pikiran kita bising? Apakah itu urusan karier, politik, finansial, atau penilaian orang lain terhadap diri kita?

Sadarilah dengan penuh ketenangan, bahwa semua hal yang sedang merisaukan hati kita itu adalah makhluk, dan hakikat makhluk adalah ketiadaan yang fana. Mereka tampak begitu besar dan menakutkan hanya karena kita meletakkannya tepat di depan mata batin kita, sehingga mereka sukses menghijab pandangan kita dari Allah yang Maha Mengatur segala urusan. Kita sedang mengizinkan bayangan yang rapuh untuk mengintimidasi jiwa kita yang berharga.

Tuhan kita adalah Al-Qahhar, Dzat yang Maha Mampu membalikkan segala keadaan dalam sekejap mata. Maka, langkah pertama untuk merdeka dari segala kecemasan modern ini adalah dengan mengembalikan segala sesuatu pada ukuran aslinya. Pandanglah dunia ini sebagai tirai tipis yang transparan. Jangan gantungkan harapan pada makhluk yang besok lusa bisa mati atau hancur, dan jangan pula biarkan ketakutan kita dikendalikan oleh keadaan yang sifatnya sementara.

Ketika kita mampu melihat bahwa di balik bos yang galak, di balik tagihan yang menumpuk, atau di balik pujian manusia, ada Allah yang sedang menguji dan mendidik jiwa kita, maka saat itulah hijab ilusi itu akan runtuh. Hati akan dipenuhi oleh ketenangan mutlak yang tidak bisa diguncang oleh badai apa pun. Sebab, kita tidak lagi bersandar pada dunia yang aslinya tiada, melainkan telah melabuhkan seluruh jiwa kita pada Dzat Yang Maha Ada, Maha Dekat, dan Maha Menjaga hidupmu dengan sempurna. Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *