Images

Hikmah Keenambelas: Ilusi Kedekatan dan Ketakmungkinan Menutupi Cahaya Ilahi

Oleh: Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

 

Pengantar

Pada Hikmah Kelimabelas kita telah dibukakan mata batin mengenai manifestasi sifat Al-Qahhar, di mana Allah Swt. mampu memanipulasi persepsi manusia sehingga hal yang aslinya fana (dunia) tampak begitu nyata dan menghijab Dzat Yang Maha Ada. Melangkah pada Hikmah Keenambelas ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada level logika makrifat yang lebih tinggi dan radikal.

Jika sebelumnya kita membahas mengapa kita terhijab, kali ini As-Sakandari menggugat kewajaran dari hijab itu sendiri melalui serangkaian pertanyaan retoris yang mendalam. Bagaimana mungkin sesuatu yang diciptakan dapat menutupi Sang Pencipta? Melalui bait-bait puitis yang terstruktur ini, kita akan diajak menyadari bahwa hijab yang selama ini kita keluhkan sebenarnya tidak pernah benar-benar ada secara hakiki. Ia hanyalah akibat dari kebutaan batin kita sendiri dalam memandang realitas. Berikut bait-bait aforismanya.

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ

“Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab (menutupi) Allah, padahal Dia-lah yang tampak (nyata) pada segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia-lah yang tampak dalam segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia-lah yang menampakkan diri bagi segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي كَانَ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia lebih nyata (terang) dari segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia-lah yang Esa, yang tidak ada sesuatu pun beserta-Nya?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin dibayangkan sesuatu dapat menghijab-Nya, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu?”

Kajian Referensi

Pertanyaan retoris yang diulang sebanyak tujuh kali oleh Syekh Ibnu Atha’illah ini dibedah secara konseptual oleh para ulama dan pensyarah ulung kitab Al-Hikam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa pengulangan kata “Kaifa yutashawwaru…” (Bagaimana mungkin dibayangkan…) adalah bentuk pengingkaran rasional dan spiritual (inkar) terhadap klaim bahwa makhluk memiliki daya untuk menutupi eksistensi Sang Pencipta.

Menurut Ibnu ‘Abbad, alam semesta ini laksana cermin. Ketika seseorang melihat cermin, yang ia lihat sejatinya adalah pantulan objek. Maka sangat tidak logis jika keberadaan cermin justru membuat orang tersebut mengingkari keberadaan objek yang memantul di dalamnya. Sifat Zhahir (Maha Nyata) Allah mewujud pada, dalam, dan untuk segala sesuatu.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti dimensi ontologis kedekatan (qurb) dan kejelasan (azhhar). Bin Ajiba mengibaratkan Allah laksana matahari di siang bolong, sedangkan makhluk adalah debu yang berterbangan.

Sungguh sebuah kekonyolan jika ada orang yang mengklaim tidak bisa melihat matahari yang begitu terang benderang hanya karena matanya terhalang oleh sebutir debu kecil yang melayang. Ketiadaan kemampuan melihat tersebut bukan karena matahari yang redup atau debu yang terlalu perkasa, melainkan karena kerusakan pada organ penglihatan si pengamat itu sendiri.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang lebih menekankan pada aspek runtutan waktu dan keesaan (Kana qabla wujudi kulli syai’).

Al-Bouthi menegaskan bahwa secara hukum akal, sesuatu yang baru ada (hadits) tidak akan pernah bisa mendahului ataupun membentengi Dzat yang sudah ada sejak azali (Qadim). Sesuatu yang bersandar pada pertolongan-Nya untuk wujud, tidak mungkin memiliki kekuatan mandiri untuk menjadi dinding penghalang bagi Dzat yang memberinya kehidupan.

Syarah Kontemporer

Menarik untaian retorika sufistik abad ke-13 ini ke dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit psikologis akut masyarakat urban: Kebutaan di tengah kelimpahan informasi dan fasilitas. Kita hidup di era di mana tanda-tanda kebesaran, keteraturan, dan kasih sayang Allah berserakan secara instan, namun kita kerap kali merasa menjadi manusia yang paling sendirian dan tidak dipedulici oleh Tuhan.

Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Bagaimana mungkin Dia terhijab padahal Dia lebih nyata dari segala sesuatu?” menjadi kritik tajam bagi cara pandang sekuler kita. Kita sering kali begitu mengagungkan sistem algoritma, kehebatan kecerdasan buatan (AI), ketepatan analisis data ekonomi, hingga struktur organisasi korporasi. Kita mengaitkan setiap kesuksesan hidup pada efektivitas sistem-sistem buatan manusia tersebut.

Ketika sistem itu berjalan lancar, kita memuji sistemnya. Ketika sistem itu runtuh, kita mengalami kecemasan eksistensial yang luar biasa. Di sinilah letak ilusinya. Kita gagal melihat bahwa seluruh kecerdasan manusia, hukum fisika yang membentuk teknologi, hingga keteraturan pasar adalah instrumen kecil yang sedang digerakkan oleh Allah untuk menampakkan kebesaran-Nya (Zhahara bi-kulli syai’).

Ketakutan kita akan masa depan, kepanikan akan stabilitas finansial, atau rasa hampa di tengah kemewahan material sebenarnya muncul karena kita mengizinkan “debu-debu modernitas” ini menempel erat di lensa mata batin kita.

Kita mengira Allah itu gaib dan jauh di atas langit sana, sementara masalah domestik dan pekerjaan kita terasa begitu dekat menjerat leher. Padahal, teks ini menegaskan sebaliknya: Allah lebih dekat kepadamu (aqrabu ilaika) ketimbang denyut nadi dan kecemasan itu sendiri.

Refleksi

Mari kita bawa pulang ketujuh pertanyaan retoris dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika malam mulai larut dan bisingnya dunia mereda, tanyakan pada diri kita yang sedang dirundung lelah: Mengapa batin ini masih saja merasa sepi dan dipenuhi ketakutan?

Jika Allah sudah menampakkan kasih sayang-Nya melalui setiap helai napas yang gratis, detak jantung yang tak pernah berhenti tanpa perlu kita perintah, dan rida-Nya yang masih memberikan kita kesempatan hidup hari ini, pantaskah kita mengeluh bahwa Allah itu jauh?

Kesulitan hidup yang menimpa kita saat ini bukanlah sebuah dinding beton yang memisahkan kita dari Allah. Kesulitan itu justru adalah “panggung” yang sengaja Allah ciptakan agar kita bisa melihat bagaimana cara Dia menolong dan merengkuh kita kembali.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita membaca keadaan. Jangan lagi melihat dunia sebagai tabir gelap yang memisahkan kita dari Sang Pencipta. Lihatlah setiap jengkal kejadian (baik itu berupa nikmat yang melegakan maupun ujian yang menyesakkan dada) sebagai surat cinta dari Allah yang dikirimkan langsung ke hadapan kita.

Sebab, tidak ada satu pun ruang di semesta ini yang kosong dari kehadiran-Nya. Ketika kita sadar bahwa Dia selalu ada sebelum masalahmu ada, Dia lebih nyata dari ancaman manusia, dan Dia lebih dekat dari kesendirianmu, maka segala bentuk hijab ilusi itu akan sirna seketika. Jiwa kita akan merdeka, tenang, dan melangkah dengan penuh keyakinan di bawah naungan cahaya-Nya yang tak pernah padam. Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *