Oleh Ust. H. Agus Sutisna
Pengantar
Pada Hikmah Kedua Puluh Tiga As-Sakandari telah memperingatkan kita agar tidak menanti kekosongan dari selain-Nya. Ia mengajarkan bahwa menunda kehadiran karena menunggu kondisi ideal justru memutuskan kesadaran muraqabah di detik ini.
Beranjak ke Hikmah Kedua Puluh Empat ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada kesadaran yang lebih realistis dan menenangkan. Bahwa dunia ini memang tempat kekeruhan. Ia menggugat rasa heran dan kaget kita setiap kali kesulitan, kesedihan, atau kekacauan datang menerpa kita.
Jika sebelumnya kita diajak hadir di tengah gangguan, kali ini kita digugat tentang harapan yang tidak realistis terhadap dunia. Apakah kita masih mengira bahwa dunia ini seharusnya selalu mulus, tenang, dan menyenangkan? Padahal, sifat asli dunia adalah menampakkan apa yang layak menjadi cirinya, yakni kekeruhan.
Melalui untaian aforisma yang sederhana namun dalam, As-Sakandari menanamkan sikap siap sedia menghadapi realitas dunia tanpa kaget dan tanpa protes berlebihan. Berikut bait aforismanya:
لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقٌّ وَصْفَهَا وَوَاجِبٌ نَعْتَهَا
“Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kekeruhan (kesulitan dan kesedihan) selama engkau masih berada di dunia ini. Karena dunia ini tidak menampakkan kecuali apa yang layak menjadi sifatnya dan wajib menjadi cirinya.”
Kajian Referensi
Peringatan yang sangat realistis ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam. Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi (1333–1390 M) dalam Syarh Ibnu ‘Abbad Ghaisul Mawahib al-Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah menjelaskan bahwa “al-akdar” (kekeruhan) mencakup segala bentuk kesulitan, kesedihan, kekecewaan, dan ketidaknyamanan. Ibnu ‘Abbad menekankan bahwa rasa heran terhadap kesulitan adalah tanda bahwa seseorang masih memiliki harapan yang keliru terhadap dunia. Dunia memang diciptakan dengan sifat seperti itu. Siapa yang heran, berarti ia belum memahami hakikat tempat tinggalnya.
Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba (1747–1809 M) dalam Iqazh al-Himam fi Syarh al-Hikam menyoroti bahwa hikmah ini merupakan obat bagi penyakit “terkejut spiritual”. Bin Ajiba menegaskan bahwa orang yang arif tidak pernah kaget ketika kesulitan datang, karena ia tahu bahwa dunia ini tidak mungkin menampakkan selain sifat aslinya. Justru yang aneh adalah jika dunia ini selalu mulus tanpa ujian. Kesadaran ini melahirkan sikap ridha yang tenang, bukan kepasrahan yang pasif.
Sementara itu, dalam karyanya Al-Hikam al-Athaiyyah: Syarh wa Tahlil, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi (1929–2013) memberikan ulasan yang sangat tajam terkait psikologi manusia modern. Al-Bouthi menjelaskan bahwa banyak orang tersiksa bukan karena kesulitannya sendiri, melainkan karena rasa heran dan penolakan terhadap kesulitan itu. Mereka bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” seolah dunia seharusnya menjadi surga. Padahal, menurut Al-Bouthi, dunia ini memang “dar al-bala’” (tempat ujian). Siapa yang memahami sifat aslinya, ia akan lebih siap dan lebih tenang.
Syarah Kontemporer
Kontekstualisasi untaian retorika sufistik abad ke-13 ini dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit yang sangat akut, yakni harapan yang tidak realistis terhadap dunia.
Kita hidup di era yang menjual ilusi kesempurnaan. Media sosial menampilkan kehidupan yang selalu indah, motivasi modern menjanjikan “hidup tanpa masalah jika kamu cukup positif”, dan budaya konsumerisme membuat kita merasa berhak atas kenyamanan terus-menerus. Akibatnya, ketika kesulitan datang—baik berupa sakit, kehilangan, kegagalan, atau kekecewaan—kita merasa kaget, marah, dan terkhianati.
Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kekeruhan” menjadi kritik tajam bagi cara kita memandang hidup. Ketika kita kaget dan protes setiap kali ada masalah, sejatinya kita sedang lupa bahwa dunia ini memang tempat kekeruhan. Kita gagal menyadari bahwa kesulitan bukanlah “kesalahan sistem”, melainkan sifat asli dari tempat tinggal kita saat ini.
Kehidupan modern yang penuh tekanan justru sering membuat orang mencari “dunia tanpa masalah”. Padahal, kesadaran yang sejati bukanlah kesadaran yang hanya tenang ketika semuanya mulus, melainkan kesadaran yang tetap stabil ketika kekeruhan datang. Rasa heran terhadap kesulitan sering kali lebih menyiksa daripada kesulitan itu sendiri.
Refleksi
Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika kesulitan datang dan hati kita mulai heran serta protes, tanyakan: Apakah kita sedang kaget karena lupa bahwa dunia ini memang tempat kekeruhan?
Jika hari ini kita merasa terbebani oleh masalah, ingatlah bahwa dunia ini tidak menampakkan kecuali apa yang layak menjadi sifatnya. Jangan biarkan rasa heran memperberat beban yang sudah ada.
Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita memandang setiap kesulitan. Jangan lagi kaget. Jangan lagi merasa dikhianati oleh dunia. Anggaplah setiap kekeruhan sebagai pengingat bahwa kita masih berada di “dar” yang memang seperti itu. Jika kesulitan datang, hadapi dengan kesadaran, bukan dengan keheranan.
Dengarkan suara kebenaran di dalam batin kita yang terus memanggil: Wahai diri, jangan heran. Dunia ini memang demikian adanya. Ia tidak akan pernah menampakkan selain sifat aslinya. Hadirlah dengan tenang di tengah kekeruhan, karena di situlah ujian yang paling nyata.
Sebab, jika kita adalah hamba yang sadar, kita tidak akan pernah lagi terkejut oleh sifat dunia. Jiwa kita akan tetap stabil, siap menerima setiap kekeruhan sebagai bagian dari perjalanan, dan berbisik penuh ketetapan iman. Wallahu’alam bi shawab.
