Sumit

Dahsyatnya Misi Kemanusiaan untuk Gaza

Jejak Nurani Ustadz Agus Sutisna

Ketika dunia seakan membisu, Gaza berseru. Ketika diplomasi nyaris gagal dan semua ikhtiar politik mentok di tangan veto kesewenangan Amerika di PBB, nurani bergerak. September 2025 kemarin menjadi saksi dari salah satu misi kemanusiaan paling dahsyat dalam sejarah modern, yakni Global Sumud Flotilla. Konvoi maritim internasional yang menantang blokade Israel demi menyampaikan bantuan dan pesan solidaritas ke Gaza Palestina.

 Global Sumud Flotilla: Armada Harapan dari 44 Negara

Misi kemanusiaan itu bertajuk “Sumud”. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan. Dan inilah semangat yang diusung oleh lebih dari 50 kapal yang berlayar dari berbagai penjuru dunia. Misi ini melibatkan sekitar 1.000 peserta dari 44 negara, terdiri dari dokter, pelaut, jurnalis, artis, aktivis, pengacara, hingga veteran militer dari berbagai negara, termasuk Eropa yang selama ini pemerintahannya cenderung menyokong rezim jahat Netanyahu.

Konvoi pertama bertolak dari Spanyol, disusul oleh kapal-kapal dari Tunisia, Turki, Malaysia, dan Indonesia. Mereka membawa 300 ton bantuan vital. Mulai dari makanan, air bersih, pakaian dan obat-obatan. Namun lebih dari itu, mereka membawa pesan politik kemanusiaan : bahwa Gaza tidak sendiri.

Maka seperti dikemukakan Nathan Brown, Profesor Hubungan Internasional Universitas George Washington : “Barang-barang dalam armada ini memang tidak memenuhi seluruh kebutuhan warga Gaza, tetapi konvoi Sumud Flotilla menarik atensi publik internasional atas situasi kemanusiaan yang mendesak.”

 Siapa Saja Global Sumud Flotilla ?

Dari berbagai sumber informasi yang saya telusuri, misi ini bukan aksi spontan. Melainkan hasil komunikasi intensif dan koordinasi dari aliansi sipil global lintas agama dan ras. Mereka terdiri dari, antara lain : Freedom Flotilla Coalition (FFC), organisasi kemanusiaan yang berpengalaman sejak tahun 2010, termasuk dalam misi kemanusiaan legendaris menggunakan kapal Mavi Marmara yang diserbu tentara Zionis Israel di Laut Mediterania, akhir Mei 15 tahun silam.

Selain FFC, dalam konvoi ini juga ada organisasi Global Movement to Gaza (GMTG),  gerakan masyarakat sipil internasional yang mengorganisir solidaritas lintas negara. Kemudian Maghreb Sumud Flotilla, konvoi dari Afrika Utara yang membawa semangat regional. Dan Sumud Nusantara, armada kapal dari Malaysia dan delapan negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dalam misi kemanisiaan Global Sumud Flotilla ini, Indonesia sendiri mengirimkan 5 kapal kemanusiaan melalui Indonesia Global Peace Convoy (IGPC). Delegasi Indonesia terdiri dari aktivis, jurnalis, artis, dokter, dan tenaga medis. Bahkan beberapa publik figur yang aktif di bidang kemanusiaan turut bergabung.

Selain berbagai organisasi kemanusiaan, misi kemanusiaan untuk Gaza Palestina ini juga diikuti oleh sejumlah public figur internasional. Mereka antara lain Greta Thunberg (aktivis lingkungan, Swedia), Ada Colau (mantan Wali Kota Barcelona), dan Liam Cunningham (aktor serial film Game of Thrones yang sangat populer itu.

Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, tetapi bentuk keberanian moral untuk menyuarakan keadilan. Mereka menyatakan bahwa Gaza bukan hanya isu umat Islam, tetapi sudah menjadi isu kemanusiaan. Kepada media saat sesi konferensi pers di Tunisia, Greta Thunberg mengungkapkan, bahwa Gaza adalah luka dunia. Jika kita diam, maka kita ikut melanggengkan penderitaan.

Misi Global Sumud Flotilla tentu bukan tanpa risiko. Kapal-kapal flotilla sempat diserang drone Israel saat singgah di Tunisia. Israel menegaskan bahwa blokade laut tetap diberlakukan, dengan dalih mencegah masuknya senjata ke Hamas. Namun organisasi HAM menyebut blokade ini sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional. Yang cukup mengharukan, setelah drone Israel menyerang, dua negara Eropa (Italia dan Spanyol) mengirimkan kapal perang untuk melindungi kapal-kapal misi kemanusiaan itu.

Namun seperti dikemukakan Amjad Iraqi dari International Crisis Group :“Terlepas dari apakah armada ini berhasil mencapai Gaza atau tidak, pesan kemanusiaan telah sampai kepada dunia.” Kini Israel kian terpojok di pentas global setelah sebelumnya sebanyak 142 negara menyetujui Deklarasi New York di Majelis Umum PBB untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka, berdaulat dan setara.

Akhir kalam. Global Sumud Flotilla sejatinya bukan hanya konvoi kapal, tetapi konvoi nurani dan kemanusiaan. Ia mengingatkan kita bahwa solidaritas bukan sekadar retorika, tetapi keberanian untuk bergerak. Dalam konteks ini penting bagi umat Islam untuk selalu mengingat pesan Rasulullah ﷺ dalam satu haditsnya:

مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani). Bagi umat Islam, misi Global Sumud Flotilla adalah bentuk nyata pengejewantahan pesan Rasulullah itu.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *