Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP.,M.Si.
Pengantar
Pada Hikmah Kedua Puluh As-Sakandari telah memperingatkan kita akan jebakan kepuasan spiritual dan pesona zahir makhluk yang sering membuat salik berhenti di tengah jalan. Ia mengingatkan bahwa setiap kasyaf dan setiap keindahan dunia hanyalah terminal sementara, bukan tujuan akhir.
Beranjak ke Hikmah Kedua Puluh Satu ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita lebih dalam lagi, menyentuh akar persoalan yang lebih halus: bagaimana cara kita “meminta” dan “mencari”. Ia membongkar empat bentuk permintaan yang sejatinya merupakan tuduhan yang salah fatal dan tersembunyi terhadap Allah SWT.
Jika sebelumnya kita diperingatkan agar tidak berhenti menikmati karunia, kali ini kita digugat tentang kualitas kehadiran batin kita saat berdoa dan mencari. Apakah permintaan kita lahir dari keyakinan penuh, atau dari rasa takut, jauh, dan kurang malu kepada-Nya?
Melalui untaian aforisma yang tajam dan berlapis ini, As-Sakandari membongkar ilusi permintaan yang sering kita anggap sebagai ibadah, padahal bisa menjadi hijab. Berikut bait aforismanya:
طَلَبُكَ مِنْهُ اتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ مِنْكَ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ
“Permintaanmu kepada-Nya adalah tuduhan terhadap-Nya. Pencarianmu akan Dia adalah tanda ketidakhadiranmu dari-Nya. Permintaanmu kepada selain-Nya adalah karena kurangnya rasa malu terhadap-Nya. Dan permintaanmu dari selain-Nya adalah karena adanya jarakmu dari-Nya.”
Kajian Referensi
Peringatan empat lapis ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam. Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa “tolabuka minhu ittihamun lahu” (permintaanmu kepada-Nya adalah tuduhan) bukanlah larangan berdoa secara mutlak. Doa yang diperintahkan syariat tetap mulia.
Namun yang digugat adalah permintaan yang dilandasi rasa curiga bahwa Allah tidak akan memberi kecuali jika kita memaksa. Seolah-olah Allah bisa lalai atau pelit. Padahal, bagi orang yang benar-benar yakin, diam di bawah aliran takdir sering lebih tinggi daripada doa yang dilandasi keraguan.
Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti bagian “tolabuka lahu ghaybatun minka ‘anhu”. Mencari Allah dengan cara yang masih disertai rasa “jauh” justru membuktikan bahwa sang pencari belum hadir. Orang yang benar-benar hadir di sisi-Nya tidak lagi merasa perlu “mencari”, karena yang dicari sudah lebih dekat dari urat lehernya sendiri. Mencari dalam kondisi ghaibah hanyalah pengakuan bahwa hati masih terhijab oleh diri sendiri.
Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan tajam terkait dua kalimat terakhir. Meminta kepada selain Allah (baik harta, jabatan, maupun pujian manusia) adalah bentuk kurangnya haya’ (rasa malu) kepada-Nya.
Dan meminta dari selain-Nya adalah bukti nyata bahwa jarak batin masih ada. Al-Bouthi menekankan bahwa ini bukan sekadar kesalahan lahir, melainkan gejala penyakit hati yang harus disembuhkan melalui mujahadah kehadiran.
Syarah Kontemporer
Kontekstualisasi untaian retorika sufistik abad ke-13 ini dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit yang sangat masif, yakni doa yang dilandasi kecemasan dan pencarian yang dilandasi rasa kosong.
Kita hidup di era di mana orang berbondong-bondong “meminta” kepada Allah hanya ketika merasa terdesak, dan “mencari” Allah hanya ketika merasa hampa. Doa sering kali menjadi sarana pelampiasan ketakutan, bukan ungkapan keyakinan.
Kita meminta rezeki karena takut miskin, meminta kesehatan karena takut sakit, meminta jodoh karena takut kesepian, seolah-olah Allah tidak tahu kebutuhan kita sebelum kita meminta.
Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Permintaanmu kepada-Nya adalah tuduhan terhadap-Nya” menjadi kritik tajam bagi cara kita berdoa. Ketika kita memohon sambil khawatir “jangan-jangan tidak dikabulkan”, sejatinya kita sedang menuduh Allah kurang kasih atau kurang kuasa. Kita gagal menyadari bahwa doa yang paling tinggi adalah doa yang lahir dari rasa cukup akan-Nya, bukan dari rasa kurang akan selain-Nya.
Begitu pula “pencarianmu akan Dia adalah tanda ketidakhadiranmu”. Banyak orang hari ini sibuk mencari “pengalaman spiritual”, mengejar kelas-kelas dzikir, retreat, atau konten-konten motivasi agama, namun hati mereka tetap jauh. Mereka mencari Allah di luar, padahal yang dibutuhkan justru kehadiran di dalam.
Keindahan dunia modern yang menjanjikan solusi instan (baik melalui orang lain, sistem, maupun teknologi) sering kali membuat kita berpaling. Kita meminta kepada “selain-Nya” karena merasa lebih cepat dan lebih nyata. Padahal setiap permintaan kepada selain-Nya adalah pengakuan bahwa jarak kita dengan-Nya masih ada.
Refleksi
Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika tangan kita terangkat untuk berdoa, tanyakan pada kedalaman nurani kita: Apakah permintaan ini lahir dari keyakinan bahwa Dia Maha Pemberi, atau dari rasa takut bahwa Dia mungkin tidak memberi?
Ketika hati kita gelisah mencari “kedekatan”, tanyakan: Apakah aku sedang mencari-Nya karena merasa jauh, atau karena aku ingin semakin tenggelam dalam kehadiran-Nya?
Jika hari ini kita masih merasa perlu meminta kepada manusia, atau menggantungkan harapan pada selain-Nya, sadarilah bahwa itu adalah tanda jarak. Jangan biarkan jarak itu mengeras menjadi tembok, atau melebar semakin jauh.
Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita meminta dan mencari. Mintalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan, seolah-olah sudah diberikan. Carilah Dia dengan kehadiran, bukan dengan rasa kosong. Dan jika harus meminta kepada selain-Nya, mintalah hanya sebagai wasilah, bukan sebagai tempat bergantung.
Dengarkan suara kebenaran di dalam batin kita yang terus memanggil: Wahai diri, jangan tuduh Tuhanmu dengan keraguanmu. Jangan mencari-Nya seolah Dia hilang. Jangan malu-maluin diri dengan meminta kepada selain-Nya. Dan jangan biarkan jarak itu terus menjauhkanmu.
Sebab, jika kita adalah pencari sejati, kita tidak akan pernah meminta kepada Raja dengan tuduhan, dan tidak akan pernah mencari-Nya dengan perasaan jauh. Jiwa kita akan tetap hadir, tenang di bawah aliran takdir-Nya, dan berbisik penuh ketetapan iman. Wallahu’alam bi shawab.
