Oleh Ustadz Agus Sutisna
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اجتهادُكَ فيما ضُمِنَ لك، وتقصيرُكَ فيما طُلبَ منك، دليلٌ على عمى البصيرة
“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah), dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu merupakan tanda butanya bashirah (mata batin).”
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita terjebak dalam upaya mengejar materi dan hal-hal yang sudah dijamin dan menjadi ketetapan Allah, sehingga lupa untuk fokus pada janji kepada Allah yang merupakan tanggung jawab moral dan spiritual yang sesungguhnya menjadi ujian hidup.
Merujuk aforisma atau hikmah kelima dari Matan Hikam sebagaimana dikutip diatas, Ibnu ‘Atho’illah menyebut fenomena yang demikian itu sebagai buta Bashiroh, buta mata hati. Yakni fenomena ketika kita lebih fokus dan menjadikan urusan duniawi sebagai prioritas sambil melalaikan kewajiban kepada Allah.
Bashiroh atau matahati (mata bathin) adalah terma yang merujuk pada pandangan yang berdimensi spiritual. Yakni kemampuan hati untuk memahami kebenaran, membedakan yang baik dan buruk, hak dan bathil, serta melihat tanda-tanda kebesaran Allah, yang muncul melalui kedekatan spiritual (muqorrobah), kontemplasi dan ilmu.
Seseorang yang tidak dapat membedakan hak dari bathil, kebaikan dari keburukan, ia berada dalam situasi kebutaan mata hati. Bekerja keras, fokus dan menjadikan ikhtiar untuk meraih capaian-capaian duniawi seperti rizki, jabatan, dan kedudukan sosial sebagai prioritas dalam hidup seraya melalaikan kewajiban kepada Allah merupakan bentuk paling nyata dari kebutanaan mata hati.
Di dalam Al-Quran Allah menggunakan terma Bashiroh dalam banyak ayat. Misalnya alam surat Al Israa ayat 72 dan surat Al Baqoroh ayat 7 berikut ini :
وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا
“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, di akhirat pun dia pasti buta dan lebih tersesat jalannya.”
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.”
Sesuatu yang sudah dijamin itu adalah rizki dan semua urusan duniawi yang sudah Allah tetapkan untuk setiap orang di dunia ini. Dalam konteks ini kita hanya diwajibkan melakukan ikhtiar sesuai kadar yang kita mampu lakukan.
Al Quran surat Hud ayat 6 dengan lugas menjelaskan bahwa Allah menjamin rizki bagi setiap manusia, bahkan rizki semua bagi makhluk bernyawa :
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
Sedangkan sesuatu yang dibebankan kepada kita sebagai manusia, dan karenanya Allah tidak memberikan jaminan kelak di akhirat adalah kewajiban menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya. Sholat misalnya, dan/atau semua bentuk kebaikan yang bernilai ibadah, adalah kewajiban yang seharusnya menjadi prioritas dalam hidup ini.
Dalam Al Quran surat Ad-Dzariyat ayat 56 Allah menegaskan perihal prioritas yang seharusnya menjadi pilihan setiap manusia :
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku…”
Secara filosofis, hikmah ini mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Rezeki dan kehidupan adalah bagian dari sistem kosmik yang telah Allah tetapkan dengan QadarNya. Sementara manusia dituntut untuk menjalankan ibadah dan amanah dengan penuh kesadaran.
Kegagalan dalam membedakan prioritas ini mencerminkan ketidakmampuan mata batin untuk melihat hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Dalam konteks etika, pesan ini menuntut disiplin moral agar energi hidup tidak terbuang sia-sia untuk hal-hal yang sudah pasti, melainkan diarahkan pada kewajiban sosial dan spiritual.
Di era modern, relevansi hikmah ini semakin nyata. Dalam masyarakat yang sangat konsumtif dan digital, manusia sering kali terperangkap dalam obsesi terhadap materi, popularitas, dan status sosial.
Kesibukan mengejar pengakuan di dunia maya misalnya, seperti jumlah follower atau popularitas algoritma, dapat menjadi bentuk baru dari kesungguhan pada hal-hal yang sudah dijamin, sementara tanggung jawab etika dan adab digital sering terabaikan.
Secara praktis, hikmah ini mengajak individu untuk memprioritaskan kewajiban spiritual dan moral di atas kecemasan berlebihan tentang rezeki dan urusan-urusan duniawi lainnya.
Akhir kalam. Hikmah Kelima Kitab Hikam adalah panggilan untuk reorientasi hidup: dari obsesi terhadap hal-hal yang bersifat dan berwujud material yang sudah dijamin menuju kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial yang sejati. Dengan memahami dan mengamalkan pesan ini, kita mestinya dapat menghindari kebutaan batin dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna dengan jiwa yang tenang (Bersambung).
