Oleh Ustadz Agus Sutisna
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ
“Janganlah karena tiadanya pemenuhan atas apa-apa yang dijanjikan, padahal telah jatuh waktunya, membuatmu ragu terhadap janji-Nya; agar yang demikian itu tidak menyebabkan bashirah-mu buram dan cahaya sirr-mu padam!”
Dalam mengarungi lautan kehidupan yang amat luas ini, serta perjalanan spiritual yang kita tempuh, ujian terberat seringkali bukan terletak pada musibah yang dihadapi. Melainkan pada penantian atas janji Allah yang belum juga terwujud meski dalam pikiran kita, janji itu seharusnya sudah Allah penuhi karena doa-doa kita dan ikhtiar-ikhtiar kita telah sedemikian intensnya kita lakukan.
Kemudian oleh sebab pengalaman hidup dan spiritual itu, banyak diantara kita yang menjadi ragu (skeptis) atas komitmen Allah. Lalu suudzon (bersangka buru) kepada-Nya, dan tanpa sadar kemudian berpaling dari-Nya. Padahal dalam Al Quran Surat Ar-Rum ayat 60 misalnya, eksplisit dan lugas Allah mengingatkan :
فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَࣖ
“Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu membuat engkau bersedih.”
Atau, yang terkait langsung dengan permohonan dan doa-doa kita, Allah menegaskan :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ
“Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Ghafir: 60).
Maka suudzon kepada Allah, meragukan kesetiaan-Nya atas janji yang ditawarkan kepada kita, dan keberpalingan dari-Nya adalah tanda-tanda bashiroh (mata bathin) menjadi buram dan sirr (cahaya bathin) meredup atau bahkan padam. Demikian saripati aforisma atau Hikmah Ketujuh dari kitab Hikam Ibnu ‘Atha’illah. Janji Allah itu pasti, dan jangan pernah sesekali meragukannya.
Bashiroh adalah kemampuan spiritual untuk melihat kebenaran dan hakikat yang tersembunyi di luar tampilan fisik. Muasal Bashiroh adalah cahaya ilahi yang menerangi hati, yang dengannya setiap manusia dapat membedakan antara yang benar (haq) dan yang salah (batil).
Buramnya Bashirah (mata batin) sebagaimana dimaksud Ibnu ‘Atho’illah adalah ketika kita mulai meragukan janji Allah hanya karena realitas lahiriah tidak sesuai dengan ekspektasi. Maka penglihatan batin kita akan tertutup kabut. Kita tidak lagi mampu melihat hikmah di balik tabir, dan hanya terpaku pada apa yang tampak di permukaan.
Sedangkan Sirr merujuk pada tingkatan terdalam kesadaran spiritual, pengenalan sejati kepada Allah (ma’rifat), dan amalan hati (dzikir sirr). Padamnya Sirr dalam bathin ketika kita mulai meragukan janji Allah atas doa-doa dan ikhtiar.
Saat cahaya itu padam, seorang hamba akan kehilangan ketenangan (sakinah) dan terjatuh ke dalam kegelapan dan kondisi frustatif. Dalam situasi demikian, hidup akan terasa disesaki kegelisahan karena ia merasa “ditinggalkan” oleh Allah SWT.
Hikmah ini mengajarkan kita tentang Husnudzon (prasangka baik) yang radikal dan total. Seorang mukmin yang sejati harus memiliki keyakinan yang melampaui waktu dan pikiran terbatas manusia.
Jika waktu yang kita sangka harapan-harapan kita terwujud telah datang namun hasilnya belum terlihat, katakana pada diri kita sendiri: “Saya yakin, Allah sedang menunda untuk memberi yang lebih baik, atau Allah sedang menghapus dosa-dosaku melalui proses penantian ini.”
Jadi keywordnya adalah sabar seraya menjaga keyakinan dan sangka baik (husnu-dzon) kepada Allah. Dalam konteks ini, menjaga keyakinan lebih penting daripada menuntut kepastian waktu dikabulkannya doa dan harapan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan At Tirmidzi, Rosulullah bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”
Akhir kalam. Jangan pernah membiarkan hitungan kalender merusak iman kita. Tetaplah yakin pada janji-Nya, karena ketepatan waktu Allah adalah mutlak, sementara pemahaman kita tentang waktu amatlah relatif. Keterlambatan bukanlah pembatalan. Ragu pada janji Allah berarti merusak mata batin dan memadamkan cahaya hati. Jagalah keyakinan tetap menyala, agar Bashirah kita tetap tajam dalam melihat kebesaran dan rahasia-rahasia pengetahuan-Nya dalam situasi apapun (Bersmabung).
