Images

Hikmah Kesembilanbelas: Jebakan Ambisi Berpindah Maqam dan Kelancangan Mengatur Posisi Jiwa

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si

 

Pengantar

Pada Hikmah Kedelapanbelas kita telah ditampar oleh kenyataan spiritual mengenai kepandiran jiwa yang gemar menunda amal saleh dengan dalih menanti waktu lapang. Melangkah pada Hikmah Kesembilanbelas ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada tingkat pemahaman yang lebih halus lagi mengenai adab berpasrah, yaitu larangan menuntut perpindahan status kehidupan (maqam) atas dasar syahwat ego kita sendiri.

Jika sebelumnya kita membahas penundaan amal karena kesibukan, kali ini As-Sakandari menggugat ketidakpuasan kita terhadap “posisi” yang sedang Allah berikan saat ini. Kita sering kali merasa bahwa kita baru bisa menjadi hamba yang baik jika pindah ke profesi lain, lingkungan lain, atau kondisi ekonomi yang berbeda. Melalui bait-bait aforisma yang sangat lugas ini, kita akan diajak menyadari bahwa memaksa keluar dari ketetapan posisi saat ini adalah bentuk ketidakberadaban kita di hadapan Sang Pengatur Semesta. Berikut bait aforismanya:

لَا تَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيمَا سِوَاهَا، فَلَوْ أَرَادَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ

“Janganlah kamu meminta kepada-Nya agar mengeluarkanmu dari suatu keadaan untuk digunakan pada keadaan yang lain. Sebab, jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan mempekerjakanmu (memanfaatkanmu) tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaan semula.”

Kajian Referensi

Peringatan keras dari Syekh Ibnu Atha’illah mengenai ambisi batin dalam berpindah kondisi ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah Al-Hikam terdahulu.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa esensi dari larangan “La tathlub minhu…” (Janganlah kamu meminta kepada-Nya…) bukanlah larangan untuk mengubah nasib melalui ikhtiar, melainkan larangan atas ketidakpuasan hati yang didorong oleh hawa nafsu.

Menurut Ibnu ‘Abbad, seorang hamba sering kali tertipu. Ia merasa di tempat baru ia akan lebih takwa, padahal itu hanyalah trik nafsu yang bosan dengan rutinitas ibadah saat ini. Jika Allah meletakkanmu sebagai seorang pedagang, ayah, atau pekerja, maka carilah rida Allah di sana, jangan berkhayal baru akan bertakwa setelah menjadi ahli zikir di gunung.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam kembali mengaitkan hal ini dengan konsep Maqam Tajrid (fokus ibadah murni) dan Maqam Asbab (terikat sebab duniawi/bekerja). Bin Ajiba menegaskan bahwa tanda Allah menginginkanmu di suatu maqam adalah ketika Dia memudahkan urusanmu di sana dan mendatangkan ketenangan serta buah spiritual di dalamnya.

Meminta pindah secara paksa (misalnya orang di maqam asbab nekat berhenti kerja tanpa petunjuk jelas demi sok-sokan berpindah ke maqam tajrid) adalah bentuk kelancangan yang mengacaukan tatanan takdir yang sudah rapi.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang sangat menenangkan. Beliau menjelaskan bagian akhir bait: “…falau arada lasta’malaka min ghairi ikhraj.” Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia mempekerjakanmu tanpa mengeluarkanmu.

Al-Bouthi menegaskan bahwa Allah itu Maha Kuasa untuk menjadikan seorang hamba menjadi wali-Nya, orang yang khusyuk, dan bermanfaat bagi agama, tanpa harus mengubah profesi atau status sosialnya. Keberkahan spiritual tidak terletak pada di mana kita berada, melainkan pada bagaimana kita menghamba di posisi tersebut.

Syarah Kontemporer

Menarik untaian kearifan sufistik abad ke-13 ini ke dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah jebakan psikologis masyarakat urban: The Grass is Greener Syndrome. Sindrom mengira rumput tetangga selalu lebih hijau dan krisis kepuasan kerja/hidup yang akut. Kita hidup di era media sosial di mana kita setiap hari disuguhi “maqam” orang lain yang tampak lebih ideal, lebih tenang, dan lebih religius.

Dalam konteks kehidupan modern, hikmah ini menjadi tamparan keras bagi kita yang sering mengeluh: “Pekerjaan korporat ini terlalu bising, andai saya resign dan bikin usaha sendiri pasti saya lebih tenang ibadah.” Atau “Andai saya tidak sesibuk ini mengurus anak dan rumah tangga, pasti saya bisa khatam Al-Qur’an tiap bulan.” Kita membuat syarat-syarat buatan untuk Tuhan, seolah-olah ruang rida Allah hanya tersedia di tempat yang kita imajinasikan saja.

Di sinilah letak jebakannya. Kita gagal menyadari bahwa setiap posisi yang kita tempati hari ini (selama itu halal) sejatinya adalah “panggung pengabdian” yang sengaja Allah desain khusus untuk kita. Menjadi profesional yang jujur di tengah pusaran industri yang korup, menjadi ibu rumah tangga yang sabar mendidik anak, atau menjadi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas dengan integritas, adalah bentuk ibadah yang tidak kalah tinggi nilainya dari iktikaf di masjid.

Allah tidak butuh kamu pindah tempat untuk membuatmu berharga di mata-Nya. Dia hanya butuh hatimu “hadir” di tempat kamu berpijak sekarang. Mungkin di kampus, di sekolah, di dunia bisnis, di pemerintahan, di wirausaha, dan seterusnya.

Refleksi

Mari kita bawa pulang refleksi mendalam dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika rasa jenuh melanda pekerjaan kita, ketika peran kita di dunia terasa melelahkan dan tak terlihat, tanyakan pada diri kita yang sedang gelisah: Apakah kita ingin berpindah karena benar-benar mengejar rida Allah, ataukah kita hanya sedang lari dari kewajiban sabar yang Allah tuntut di posisi saat ini?

Jika Allah menghendaki kamu menjadi saluran berkah-Nya lewat profesimu sekarang, mengapa kamu sibuk meminta wadah yang lain? Kesulitan dan beban yang melekat pada posisimu saat ini bukanlah penjara yang menjauhkanmu dari kesalehan. Beban itu justru adalah “alat pembentuk” yang sedang Allah gunakan untuk mengikis kesombongan dan membentuk kematangan jiwamu.

Mulai hari ini, mari kita runtuhkan hasrat untuk mendikte posisi hidup kita di hadapan Allah. Berhentilah mengira bahwa kedekatan dengan-Nya hanya milik orang-orang dengan status tertentu. Jalani peranmu hari ini dengan keanggunan iman yang penuh. Jika saatnya tiba bagi Allah untuk memindahkanmu ke fase kehidupan yang baru, Dia sendiri yang akan menggerakkan jalannya tanpa perlu membuat batinmu uring-uringan memprotes takdir-Nya.

Sebab, hamba yang merdeka adalah ia yang tidak terpenjara oleh bentuk lahiriah dari posisinya. Di mana pun Allah menempatkannya (baik di bawah sorot lampu pujian maupun di sudut sunyi kesibukan dunia) ia tetap mampu bersujud dengan tenang dan berbisik lirih: “Wahai Rabb, inilah aku di posisi yang Engkau pilihkan, maka jadikanlah kehadiranku di sini sebagai pengabdian yang Engkau ridhoi.Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *