Oleh Ustadz H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.
Pengantar
Setelah kita diajak melakukan isolasi batin yang sehat melalui uzlah pada bait sebelumnya (hikmah keduabelas), Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari kini membawa kita untuk melihat musuh terbesar yang kerap menyumbat efektivitas kontemplasi tersebut. Sering kali, seseorang telah memisahkan fisiknya dari keramaian, namun pikirannya tetap dipenuhi oleh bayang-bayang duniawi. Di sinilah letak ironinya. Tubuh berada di dalam kamar kesunyian, namun batinnya sedang bertransaksi di tengah riuhnya pasar ambisi.
Manusia modern hidup dalam kepungan visualisasi objek material yang sangat masif. Kita dikondisikan untuk percaya bahwa kebahagiaan, harga diri, dan kedamaian batin sangat bergantung pada seberapa banyak materi yang berhasil kita cengkeram dan pamerkan.
Keterikatan emosional dan spiritual yang berlebihan pada dunia ini bertindak seperti rantai tak terlihat yang mengunci jiwa kita di tempat terendah. Melalui Hikmah ke-13 ini, kita akan diajak menelusuri sebuah rangkaian pertanyaan retoris-filosofis yang sangat tajam, sebuah tamparan spiritual yang memaksa kita menyadari mengapa perjalanan batin kita selama ini terasa mandek dan berat.
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ اْلاَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفْلاَتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ اْلاَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ؟
“Bagaimana mungkin sebuah hati dapat memancarkan cahaya, sementara bayangan makhluk dan dunia masih melekat kuat pada cermin batinnya? Atau bagaimana mungkin ia dapat berjalan menuju Allah, sementara kakinya masih terbelenggu oleh rantai syahwatnya? Atau bagaimana mungkin ia berharap dapat masuk ke hadirat Allah, sementara ia belum bersuci dari janabah kelalaiannya? Atau bagaimana mungkin ia sangat mendambakan untuk memahami kedalaman rahasia ilahi, sementara ia belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya?”
Kajian Referensi
Pertanyaan beruntun yang disusun oleh Ibnu Atha’illah ini bukanlah sekadar keindahan rima sastra, melainkan sebuah urutan metodologis tentang pembersihan batin (tazkiyatun nafs). Mari kita bedah satu per satu bagian ini berdasarkan pandangan para otoritas pensyarah klasik.
Bagian pertama membahas tentang cermin batin yang tertutup bayangan dunia. Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan istilah shuwarul-akwan (gambar-gambar alam semesta). Beliau memaparkan bahwa hati manusia dirancang seperti cermin yang seharusnya memantulkan cahaya ketuhanan.
Namun, ketika seseorang mengisi hatinya dengan kecintaan pada harta, takhta, dan wanita secara berlebihan, gambar-gambar objek material tersebut akan menempel secara permanen di atas permukaan cermin. Selama bayangan makhluk itu masih memenuhi cermin batin, maka cahaya hidayah dan makrifat tidak akan pernah memiliki ruang untuk memancar.
Bagian kedua menyinggung tentang belenggu syahwat. Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam memperdalam aspek ini dengan metafora sebuah perjalanan (rihlah). Menuju Allah adalah sebuah gerakan vertikal dari alam materi menuju alam spiritual. Seseorang yang ingin mendaki gunung tentu tidak akan bisa berjalan jika kakinya diikat pada sebuah tiang beton di dasar lembah.
Bin Ajiba menegaskan bahwa syahwat (baik yang kasar seperti syahwat biologis maupun yang halus seperti syahwat kepemimpinan dan pujian) adalah rantai beton tersebut. Seseorang bisa saja mengaku sedang berzikir atau beribadah, namun selama hatinya masih diperbudak oleh keinginan-keinginan duniawi, ia sebenarnya diam di tempat, terkunci dalam penjara egonya sendiri.
Bagian ketiga dan keempat mengulas tentang prasyarat kesucian jiwa. Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi menyoroti analogi fiqih yang sangat cerdas di sini: penggunaan kata “janabah” untuk menggambarkan kelalaian (ghaflah). Dalam hukum Islam, orang yang dalam keadaan junub atau janabah dilarang masuk ke dalam masjid dan dilarang menyentuh mushaf Al-Qur’an sampai ia mandi wajib.
Al-Bouthi menjelaskan bahwa hadirat Allah (yakni kondisi di mana batin merasakan kedekatan, keintiman, dan kekhusyukan yang mendalam dengan Sang Pencipta) adalah tempat yang maha suci. Orang yang batinnya dipenuhi kelalaian kronis, senantiasa lupa pada akhirat, dan selalu mengabaikan petunjuk Tuhan, berada dalam kondisi “janabah spiritual”. Ia tidak akan pernah diizinkan mencicipi lezatnya iman dan memahami rahasia batin (daqa’iq al-asrar) sebelum ia melakukan “mandi wajib” berupa pertobatan yang radikal dan jujur dari segala kesalahannya.
Syarah Kontemporer
Ketika kita menarik rangkaian alegori spiritual abad ke-13 ini ke dalam realita kehidupan modern saat ini, kita dipaksa untuk melihat betapa rapuhnya arsitektur mental masyarakat abad ke-21. Manusia hari ini adalah makhluk yang paling rentan mengalami kecanduan stimulasi luar.
Cermin batin kita tidak lagi sekadar tertutup oleh bayangan dunia nyata, melainkan telah dijejali secara brutal oleh ribuan “gambar digital” setiap harinya melalui layar ponsel pintar kita.
Konsep cermin yang dipenuhi gambar alam semesta ini sangat relevan dengan penyakit narsisme dan konsumerisme modern. Kita sering kali merasa cemas bukan karena kita kekurangan kebutuhan pokok, melainkan karena kita tidak mampu menyamai standar gaya hidup orang lain yang kita lihat di media sosial.
Pikiran kita dipenuhi oleh visualisasi mobil apa yang harus dibeli, pakaian merek apa yang harus dipakai, dan tempat liburan mana yang harus dikunjungi demi sebuah pengakuan sosial. Ketika isi kepala dan hati sudah sesak oleh daftar belanjaan ego seperti ini, jangan heran jika ibadah kita terasa hambar, hampa, dan kehilangan ruhnya. Kita salat, namun batin kita sedang menghitung jumlah pengikut atau merancangkan strategi bisnis.
Belenggu syahwat kontemporer juga termaterialisasi dalam bentuk ketergantungan kita pada kenyamanan instan (instant gratification). Kita menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesunyian dan proses yang panjang.
Keinginan untuk selalu mendapatkan kesenangan dengan cepat (baik lewat belanja daring, tontonan hiburan yang tiada habisnya, maupun validasi publik) telah merantai jiwa kita. Kita menjadi penakut untuk mengambil keputusan yang benar jika keputusan itu mengancam zona nyaman kita. Ini adalah bukti nyata dari kalimat Ibnu Atha’illah: “kita ingin naik kelas secara spiritual, namun kaki kita sendiri yang dengan sukarela mengikatkan diri pada rantai-rantai kenyamanan semu duniawi.”
Refleksi
Mari kita jeda sejenak, menatap cangkir kopi yang mulai mendingin, dan membawa pertanyaan-pertanyaan Syekh Ibnu Atha’illah tadi langsung ke dalam bilik batin kita yang paling dalam. Mengapa selama ini kita sulit merasakan kekhusyukan? Mengapa air mata kita begitu mahal untuk menetes saat bersujud, padahal kita begitu mudah menangis karena urusan asmara, bisnis, atau kehilangan materi? Jawabannya terpampang nyata pada bait ini: karena batin kita terlalu penuh, terlalu kotor, dan terlalu berat untuk mendaki.
Kita sering kali menuntut Tuhan untuk memberikan kita ketenangan jiwa, kejernihan pikiran, dan petunjuk dalam hidup. Namun, kita sendiri enggan mengosongkan cermin hati kita dari berhala-berhala modern. Kita ingin masuk ke dalam ruang sakral kedamaian ilahi, namun kita masih betah berlumuran di dalam kubangan kelalaian dan enggan membasuhnya dengan air pertobatan yang tulus. Kita terlalu sering menunda bertobat dengan asumsi bahwa masa muda adalah waktu untuk bersenang-senang mengejar dunia, dan masa tua barulah waktu untuk kembali ke masjid.
Sadarilah bro, bahwa hati manusia itu seperti sebuah wadah. Ia memiliki kapasitas yang terbatas. Jika kamu memenuhinya dengan air keruh duniawi, maka air jernih makrifat tidak akan pernah mendapatkan tempat di dalamnya. Proses pembersihan ini memang menyakitkan karena kita dipaksa memutuskan rantai-rantai ketergantungan ego yang selama ini terasa menyenangkan.
Namun, itulah satu-satunya jalan. Sapulah cermin hatimu dari bayangan makhluk, putuskan belenggu syahwat modernmu, dan basuhlah jiwamu dari janabah kelalaian. Hanya dengan cara itulah, batinmu akan kembali memancarkan cahaya aslinya yang jernih, tenang, dan merdeka. Wallahu ‘alam bi Showab.
