Rahasia sholat tahajud 1 3879321039

Hikmah Kedua Puluh: Jebakan Kepuasan Spiritual dan Ujian Konsistensi Sang Pengembara

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

Pengantar

Pada Hikmah Kesembilan belas As Sakandari telah membongkar isi hati kita mengenai jebakan ambisi ego yang memprotes posisi hidup, serta bagaimana Allah SWT sebenarnya mampu memanfaatkan pengabdian kita tanpa harus mengubah status lahiriah kita.

Beranjak ke Hikmah Kedua puluh ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada wilayah ujian yang jauh lebih halus, samar, dan mematikan. Yaitu ujian bagi mereka yang sudah mulai melangkah di jalan spiritual (salik), namun rawan terjebak oleh pesona di tengah perjalanan.

Jika sebelumnya kita membahas tentang adab menerima kondisi lahiriah, kali ini As-Sakandari menggugat mentalitas cepat puas kita saat mendapatkan “hadiah-hadiah” spiritual di tengah jalan, baik berupa ketenangan batin, kekhusyukan, karamah, maupun kilauan dunia yang mendadak terasa mudah.

Melalui untaian aforisma yang puitis namun sarat akan ketegasan makrifat ini, kita diperingatkan agar tidak menjadikan terminal pemberhentian sementara sebagai tujuan akhir. Berikut bait aforismanya:

مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَهَا إِلَّا وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيقَةِ: الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ. وَلَا تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوَّنَاتِ إِلَّا وَنَادَتْهُ حَقَائِقُهَا: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

 “Tiadalah kehendak dan semangat seorang salik (pengembara kerohanian) berkeinginan untuk berhenti ketika terangkat tirai rohani (kasyaf) baginya, melainkan suara-suara gaib kebenaran (hawatif al-haqiqah) akan menyeru kepadanya: ‘Yang engkau cari berada di hadapanmu (teruslah melangkah)!’ Dan tidaklah zahir-zahir segala ciptaan (makhluk) menampakkan keindahannya melainkan hakikatnya akan menyeru kepadamu: ‘Sesungguhnya kami hanyalah ujian (fitnah), maka janganlah engkau menjadi kufur’.”

 

Kajian Referensi

Peringatan berlapis dari Syekh Ibnu Atha’illah bagi para penempuh jalan spiritual ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa seorang hamba yang mulai konsisten beribadah sering kali dianugerahi oleh Allah rasa manisnya iman, ketenangan pikiran, atau bahkan firasat yang tajam (kasyaf).

Namun, Ibnu ‘Abbad mengingatkan bahwa semua hal tersebut barulah “pemandangan di pinggir jalan”. Jika seorang salik berhenti dan asyik menikmati karunia tersebut hingga melupakan Sang Pemberi, maka ia telah terjebak dalam kelalaian yang fatal. Hawatif al-haqiqah (suara kebenaran di dalam batin) akan selalu mengetuk nuraninya untuk menegaskan bahwa target sejati adalah Dzat Allah, bukan sensasi spiritual tersebut.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti bagian kedua dari aforisma ini mengenai tabarruj (kemolekan) duniawi. Bin Ajiba menegaskan bahwa ketika batin seseorang mulai bersih, dunia justru sering kali datang mendekat dan menampakkan keindahannya (bisa berupa harta, jabatan, penghormatan manusia, atau kemudahan segala urusan).

Di situlah hakikat makhluk berbicara melalui ayat-ayat Tuhan: “Innama nahnu fitnah fala takfur” (Sesungguhnya kami hanyalah fitnah/ujian, maka janganlah kamu kufur). Makhluk menampakkan dirinya sebagai ujian untuk menyaring, apakah si hamba mencintai Allah demi keduniaan, atau murni karena ketulusan menghamba.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang sangat tajam terkait teologi keselamatan batin. Al-Bouthi meluruskan istilah “kufur” di akhir teks. Kufur yang dimaksud di sini bukanlah keluar dari agama Islam secara hukum fikih, melainkan kufur nikmat atau tergelincirnya kaki spiritual dari maqam tauhid murni menuju syirik samar (as-syirk al-khafi), yaitu ketika hati mulai menyandarkan kebahagiaan dan tujuannya kepada selain Allah SWT.

 

Syarah Kontemporer

Kontekstualisasi untaian retorika sufistik abad ke-13 ini dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit psikologis akut masyarakat urban. Yakni spiritual bypass (menggunakan spiritualitas untuk pelarian ego) dan mentalitas pemburu “pencapaian” instan.

Kita hidup di era di mana orang-orang berbondong-bondong mencari ketenangan melalui meditasi, kelas-kelas hijrah, atau komunitas keagamaan, namun sering kali menjadikannya sekadar sebagai validasi bahwa “saya sudah lebih suci dan lebih tenang dari kalian.”

Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Yang engkau cari ada di hadapanmu” menjadi kritik tajam bagi cara kita menilai progres spiritualitas kita. Ketika kita mulai rajin salat malam atau rajin sedekah, lalu bisnis kita mendadak lancar dan hati terasa damai, kita sering langsung merasa telah “finish” dan menjadi kekasih Tuhan. Kita mengira kemudahan hidup dan pujian orang-orang di sekitar kita adalah tanda mutlak bahwa misi spiritual kita telah usai. Hati-hati.

Karena disitulah jutsru letak hijab dan jebakannya. Kemudahan fasilitas, kenyamanan finansial, bahkan perasaan khusyuk yang kita alami saat ini, jika membuat kita berhenti berproses dan mulai sombong, sejatinya adalah bentuk ujian (fitnah).

Keindahan dunia modern itu sejatinya sedang bersolek (tabarruj) di hadapan kita untuk menguji integritas iman kita. Kita gagal menyadari bahwa setiap pencapaian materi maupun ketenangan batin bukanlah tempat untuk tidur siang secara spiritual. Itu semua adalah bekal yang Allah titipkan agar kita bisa melangkah lebih jauh lagi dalam berkhidmat dan menebar manfaat, tanpa pernah menaruh dunia itu di dalam hati kita.

 

Refleksi

Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika kita merasa diri kita sudah cukup baik, ketika kenyamanan hidup mulai membuat kita malas untuk memperbaiki kualitas sujud dan tobat kita, tanyakan pada diri kita yang sedang terlena: Apakah kita menyembah Allah hanya untuk mendapatkan rasa aman dan fasilitas-Nya, ataukah kita benar-benar menginginkan Dzat-Nya?

Jika Allah memberikan kita sejuta kemudahan hari ini, jangan sampai kemudahan itu membius kita hingga kehilangan rasa butuh dan kefakiran di hadapan-Nya. Kilauan dunia dan kenyamanan batin yang kita rasakan saat ini adalah panggung ujian yang senisik (sejiwa). Ia berbisik lirih kepada kita agar jangan sampai kita menukar Sang Pencipta demi menikmati ciptaan-Nya.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita memandang setiap pencapaian hidup. Jangan pernah berhenti mendaki. Jika hari ini engkau diberikan kekhusyukan, bersyukurlah lalu melangkahlah lagi. Jika hari ini kita diberikan kelimpahan materi, gunakan itu sebagai kendaraan untuk mendekat, bukan sebagai bantal untuk terlelap.

Dengarkan suara kebenaran di dalam batin kita yang terus memanggil: Wahai diri, perjalananmu belum selesai, tujuanmu ada di depan, teruslah berjalan menuju rida-Nya yang tak bertepi.

Sebab, jika kita adalah pengembara sejati tidak akan pernah menukar keindahan wajah Sang Raja hanya demi menikmati keindahan taman di pelataran istana-Nya. Jiwa kita akan tetap terjaga, melangkah tegap melampaui segala bentuk fitnah dan kemolekan dunia, dan berbisik penuh ketetapan iman. Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *