Doaa

Hikmah Keenam: Berdoa Saja, dan Biarlah Allah yang Memantaskan

Oleh Ustadz Agus Sutisna

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ

“Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.”

 

Dalam pengertian yang sederhana, berdoa kepada Allah itu adalah memohon atau meminta kepada-Nya. Bisa menyangkut urusan dan kebutuhan duniawi sebagai manusia, atau berkenaan dengan kebutuhan ukhrowi sebagai seorang hamba.

Namun lebih dari sekedar meminta atau memohon, berdoa pada hakikatnya mengandung sejumlah makna yang lebih dalam sebagaimana antara lain diisyaratkan dalam Al Quran dan Hadits berikut ini.

Pertama, berdoa merupakan perintah Allah sebagaimana termaktub didalam Al-Quran Surat Al Mu’min ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Kedua, berdoa merupakan bentuk ekspresif penghambaan kepada Allah, sekaligus pengakuan total kita atas Kebesaran dan Kemahakuasaan-Nya. Dengan berdoa, kita menyadari betapa kecil, lemah, dan fakirnya kita sebagai manusia. Itulah sebabnya, Allah marah terhadap orang-orang yang tidak suka berdoa sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi :

مَن لم يسألِ اللهَ يغضبْ علَيهِ

“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”

Secara eksplisit didalam Surat Al Mu’min ayat 60 tadi Allah juga mengingatkan, bahwa keengganan orang untuk meminta kepada-Nya adalah bentuk kesombongan yang diancam dengan neraka Jahanam.

Ketiga, berdoa merupakan inti dari ibadah sebagaimana hadits lain yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi:

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“Doa adalah inti ibadah.”

Merujukan Imam As-Suyuthi dalam kitab Quut al-Mughtadzi ‘ala Jami’ at-Tirmidzi,  terma Mukhkhun (inti) dalam hadits tersebut bermakna kemurnian. Kemurnian doa disebabkan dua hal. Pertama, berdoa berarti menunaikan perintah Allah, sebagaimana disebutkan sebelumnya. Kedua, ketika seorang hamba menyadari bahwa doanya hanya dapat dikabulkan oleh Allah, maka ia memutuskan segala harapan terhadap selain-Nya.

Dalam kerangka pemahaman itulah, Syekh As-Syakandari mengajarkan tentang bagaimana sebaiknya seorang muslim berdoa:

“Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.”

Aforisma ini mengajarkan bagaimana posisi yang harus diambil ketika berdoa, serta bagaimana menyikapi doa-doa yang telah kita panjatkan kepada-Nya itu kemudian terasa lambat dikabulkan, atau bahkan terasa seperti takkan dikabulkan.

Pertama, jangan pernah berhenti memohon kepada-Nya di sepanjang waktu yang bisa kita lakukan. Karena sekali lagi, berdoa adalah bentuk ekpresif penghambaan sekaligus ibadah kepada Allah. Inilah posisi yang harus diambil dalam berdoa.

Kedua, mintalah dengan kesadaran penuh bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita berdasarkan pilihan obyek dan waktu terbaik pengabulannya untuk kita sebagaimana diisyaratkan dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 216 :

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ketiga, jangan pernah kehilangan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan apapun permintaan kita, kecuali doa yang bermuatan maksiat atau memutus silaturahmi. Sejatinya tidak ada doa yang tidak Allah kabulkan. Yang ada hanyalah soal obyek yang diminta dan waktu pengabulannya.

Akhir kalam. Teruslah berdoa, jangan pernah putus asa, dan biarkan Qadar-Nya yang memantaskan perihal apa yang baik dari yang kita minta, serta kapan saat yang tepat doa-doa kita itu dikabulkan (Bersambung).      

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *