Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.
Pengantar
Pada Hikmah Kedua Puluh Dua As-Sakandari telah menanamkan kesadaran bahwa setiap napas adalah takdir yang sedang dijalankan. Ia mengingatkan kita bahwa keberadaan kita sendiri pun bukan milik mutlak, melainkan aliran ketetapan Ilahi yang terus bergerak.
Memasuki Hikmah Kedua Puluh Tiga ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada ujian yang lebih praktis dan sering terlewatkan, yakni kebiasaan menanti “saat yang tepat”. Ia menggugat mentalitas kita yang selalu menunggu kekosongan dari gangguan, keramaian, atau kesibukan, sebelum benar-benar hadir kepada Allah.
Jika sebelumnya kita diajak menyadari setiap napas, kali ini kita digugat tentang cara kita menunggu. Apakah kita menunda kesadaran muraqabah karena masih menunggu suasana yang “bersih” dari selain-Nya? Padahal, justru di tengah keberadaan selain-Nya itulah Allah sedang menempatkan kita.
Melalui untaian aforisma yang tegas ini, As-Sakandari memperingatkan bahwa menanti kekosongan justru memutuskan kita dari kesadaran akan pengawasan-Nya di saat ini juga. Berikut bait aforismanya:
لَا تَتَرَقَّبْ فَرَاغَ الْأَغْيَارِ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ
“Jangan engkau menantikan kekosongan dari selain-Nya (al-aghyar), karena hal itu justru memutuskanmu dari kesadaran pengawasan-Nya dalam keadaan yang Dia sedang tetapkan bagimu.”
Kajian Referensi
Peringatan yang sangat praktis ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam.
Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa “faragh al-aghyar” (kekosongan dari selain-Nya) adalah harapan banyak salik yang masih pemula. Mereka ingin suasana tenang, tanpa gangguan, tanpa kesibukan dunia, baru kemudian merasa bisa fokus beribadah.
Padahal, menurut Ibnu ‘Abbad, menunggu kondisi ideal justru menjadi hijab. Allah menempatkan hamba-Nya di tengah berbagai kondisi justru agar ia belajar hadir di mana pun ia berada.
Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti bahwa menanti kekosongan adalah bentuk penundaan yang halus. Bin Ajiba menegaskan bahwa muraqabah (kesadaran diawasi Allah) seharusnya berlangsung di setiap keadaan: saat sibuk, saat ramai, saat lelah, maupun saat tenang.
Jika seseorang hanya bisa hadir ketika “semuanya sudah bersih”, maka ia belum benar-benar hadir. Kehadiran yang sejati adalah kehadiran yang tidak bergantung pada kondisi luar.
Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang sangat tajam terkait psikologi spiritual. Al-Bouthi menjelaskan bahwa kebiasaan menanti “saat yang tepat” sering kali menjadi dalih ego. Manusia modern (dan juga salik) sering berkata, “Nanti saja kalau sudah lebih tenang…”, “Nanti kalau urusan ini selesai…”. Padahal, setiap penundaan seperti itu justru memutuskan kesadaran akan pengawasan Allah di detik ini juga. Al-Bouthi menekankan bahwa kondisi yang Allah tetapkan saat ini adalah medan latihan yang paling tepat.
Syarah Kontemporer
Kontekstualisasi untaian retorika sufistik abad ke-13 ini dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit yang sangat masif, yaitu penundaan spiritual dengan dalih “menunggu kondisi ideal”: sepi, tenang, dan selesai dengan pekerjaan atau tugas keseharian.
Kita hidup di era yang penuh distraksi. Notifikasi, pekerjaan, keluarga, media sosial, dan hiruk-pikuk kota membuat banyak orang merasa “belum bisa fokus”. Lalu muncul kalimat klasik: “Nanti kalau sudah lebih tenang…”, “Nanti kalau sudah libur…”, “Nanti kalau urusan ini selesai dulu…”. Kita menanti kekosongan dari selain-Nya sebelum benar-benar hadir kepada-Nya.
Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Jangan engkau menantikan kekosongan dari selain-Nya” menjadi kritik tajam bagi cara kita menunda kesadaran.
Ketika kita menunggu suasana yang “bersih” baru mau berdzikir, membaca, atau merenung, sejatinya kita sedang memutuskan diri dari muraqabah di detik ini. Kita gagal menyadari bahwa justru di tengah keramaian, kesibukan, dan gangguan itulah Allah sedang menempatkan kita—agar kita belajar hadir tanpa syarat.
Kehidupan modern yang penuh tekanan justru sering membuat orang mencari “escape” spiritual: retreat di tempat sunyi, digital detox total, atau suasana yang steril dari gangguan. Padahal, kesadaran yang sejati bukanlah kesadaran yang hanya hidup di tempat sunyi, melainkan kesadaran yang tetap menyala di tengah hiruk-pikuk. Menanti kekosongan sering kali menjadi dalih untuk terus menunda.
Refleksi
Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika hati kita berkata, “Nanti saja kalau sudah lebih tenang…”, tanyakan: Apakah kita sedang menunggu kondisi ideal, atau sedang menunda kehadiran di detik ini?
Jika hari ini kita merasa terganggu oleh kesibukan, keramaian, atau berbagai “selain-Nya”, ingatlah bahwa justru di situlah Allah sedang menempatkan kita. Jangan biarkan harapan akan kekosongan memutuskan kesadaran akan pengawasan-Nya.
Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita memandang setiap kondisi. Jangan lagi menunggu suasana yang sempurna. Hadirlah di tengah keramaian. Hadirlah di tengah kesibukan. Hadirlah di tengah gangguan. Karena di sanalah medan latihan yang paling nyata.
Dengarkan suara kebenaran di dalam batin kita yang terus memanggil: Wahai diri, jangan menanti kekosongan. Jangan menunda kehadiran. Di tengah segala yang ada saat ini, Dia sedang menempatkanmu. Hadirlah sekarang juga, dimanapun kamu berada saat ini.
Sebab, jika kita adalah hamba yang sadar, kita tidak akan pernah lagi menjadikan kondisi luar sebagai syarat untuk hadir kepada-Nya. Jiwa kita akan tetap terjaga, menyala di tengah segala aghyar (segala urusan selain Allah), dan berbisik penuh ketetapan iman. Wallahu’alam bi shawab.
