Hikmah Kedua Puluh Enam: Niat Awal Menentukan Akhir Setiap Ikhtiar

Hikmah Kedua Puluh Enam: Niat Awal Menentukan Akhir Setiap Ikhtiar

Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

 

Pengantar

Pada Hikmah Kedua Puluh Lima, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari telah meluruskan arah sandaran hati kita, mengingatkan bahwa segala hajat yang dicari dengan pertolongan Allah tidak akan pernah gagal, dan sebaliknya, mengandalkan kekuatan diri sendiri hanya akan membawa pada kebuntuan.

Beranjak ke Hikmah Kedua Puluh Enam ini, As-Sakandari membawa kita pada prinsip dasar spiritual yang sangat menentukan kualitas setiap langkah dan ikhtiar amal manusia. Sering kali kita merasa cemas memikirkan hasil akhir dari sebuah usaha, padahal kunci dari segala keberhasilan besar terletak pada bagaimana kita memulai langkah tersebut di titik pertama.

Melalui untaian aforisma yang ringkas namun sarat makna ini, As Sakandari membongkar rahasia di balik suksesnya sebuah perjalanan batin. Berikut bait aforismanya:

مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ، الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ فِي الْبِدَايَاتِ

“Di antara tanda kesuksesan di akhir adalah kembalinya seseorang kepada Allah di permulaan.”

 

Kajian Referensi

Peringatan mendalam mengenai pentingnya orientasi awal (al-bidayat) ini dibedah secara tuntas oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa barangsiapa yang pada awal mula suatu urusan, niat, atau amalnya sudah mendasarkannya pada kepasrahan total, tawakal, dan kembali kepada Allah (menanggalkan keakuan diri), maka ia telah membuka pintu pertolongan Ilahi. Kesudahan yang baik (husnul khatimah atau keberhasilan paripurna) pada hakikatnya adalah buah dari keikhlasan dan ketepatan orientasi di awal.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menegaskan bahwa orang yang di awal langkahnya sudah merasa hebat, sombong, atau mengandalkan strategi akalnya sendiri tanpa melibatkan Allah, biasanya akan menemui kegagalan atau kekecewaan di ujung jalan (nihayah).

Kembali kepada Allah di permulaan berarti membuang jauh-jauh rasa ‘ujub dan meletakkan sandaran hanya kepada-Nya sejak detik pertama niat sebuah ikhtiar dicanangkan.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan teologis yang sangat mencerahkan. Al-Bouthi menekankan bahwa keterlibatan hamba secara total dalam kesadaran transendental sejak awal aktivitas akan menyelamatkannya dari stres psikologis.

Kegagalan manusia modern dalam mencapai ketenangan seringkali karena mereka merencanakan akhir dengan ambisi besar, tetapi mengawali prosesnya tanpa kaitan ruhani dengan Sang Pencipta takdir.

 

Syarah Kontemporer

Kontekstualisasi untaian hikmah abad ke-13 ini ke dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah kesalahan fatal dalam manajemen target: obsesi pada hasil akhir sambil mengabaikan orientasi spiritual di garis start.

Kita hidup di era perencanaan strategis, key performance indicators, dan target-target pencapaian yang serba cepat. Seringkali kita terjebak menghabiskan energi merancang hasil akhir yang sempurna, namun melupakan esensi niat dan sandaran batin di awal langkah. Akibatnya, ketika di tengah jalan muncul hambatan, mental kita langsung rontok karena merasa semua rencana matang hancur begitu saja.

Dalam konteks modern, kalimat “Kembalinya seseorang kepada Allah di permulaan” menjadi koreksi telak bagi budaya kerja kita. Setiap kali kita hendak memulai sebuah proyek bisnis, langkah karier, atau keputusan besar dalam hidup, mulailah dengan reset mental: melepaskan keombongan diri, memohon taufik-Nya, dan menyerahkan kendali awal kepada Allah.

Ketika permulaannya sudah disandarkan dengan benar, maka apa pun hasil di ujung nanti akan diterima dengan hati yang lapang dan stabil.

 

Refleksi

Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Evaluasi kembali cara kita memulai setiap urusan: Apakah langkah kita diawali dengan kesadaran fakir kepada Allah, atau justru penuh dengan kesombongan atas kecerdasan dan modal yang kita miliki?

Jika hari ini ada urusan kita yang terasa berantakan di ujungnya, mari menengok kembali ke belakang. Barangkali ada yang keliru saat kita melangkah pertama kali, yakni terlalu mengandalkan diri sendiri dan lupa melibatkan Allah sejak niat dicanangkan.

Mulai hari ini, jadikan setiap permulaan aktivitas kita sebagai titik balik penyerahan diri secara total kepada-Nya.

Dengarkan suara kebenaran di dalam batin yang terus berbisik: Wahai diri, jika engkau ingin memetik buah kesuksesan yang manis di akhir cerita, pastikan benih di awal perjalanan ditanam di atas tanah ketulusan dan sandaran mutlak hanya kepada Allah, Sang pengendali taqdir.

Sebab, seorang pengembara sejati tahu persis bahwa gerbang keberhasilan bukanlah ditentukan oleh seberapa megah rencana akhir, melainkan oleh seberapa tulus hati bersimpuh kepada Allah di detik pertama ia melangkah. Wallahu’alam bi shawwab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *