Buku “Memburu Muhammad”: Ketika Adab dan Kepekaan Hilang dari Penulis

Buku “Memburu Muhammad”: Ketika Adab dan Kepekaan Hilang dari Penulis

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

 

Baru saja polemik buku “Islam ala Prabowo” mereda, ruang publik kembali gaduh gegara sebuah kumpulan Cerpen, ditulis Feby Indirani, berjudul “Memburu Muhammad.”

Sebagai pencinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus peminat literasi, saya mengakui kebebasan sastra. Dan sebagai sastrawan, Feby tentu saja berhak mengeksplorasi imajinasi, satire, dan kritik sosial melalui karya-karya prosanya.

Namun kebebasan itu tidak pernah mutlak, terutama ketika menyentuh nama yang paling dicintai oleh lebih dari 200 juta umat di negeri ini. Pada titik inilah  catatan kritis hemat saya perlu disampaikan kepada penulis buku, yang juga penting difahami oleh penulis manapun di kemudian hari. Bahwa pilihan diksi “Memburu” dalam judul “Memburu Muhammad” adalah keputusan yang sama sekali jauh dari sikap bijak, tak sensitif, bahkan cenderung sangat ceroboh.

 

Diksi yang Mengaburkan Pesan

Kata “memburu” dalam bahasa Indonesia memiliki konotasi yang kuat dan agresif. Ia tidak sekadar berarti “mencari” atau “menelusuri”. Memburu adalah tindakan mengejar dengan niat menangkap, menghancurkan, atau membinasakan. Dalam konteks sejarah Islam, kata ini mengingatkan pada upaya musuh-musuh Nabi seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan tokoh-tokoh oligarkis Quraisy yang benar-benar “memburu” Rasulullah untuk membunuhnya.

Ketika kata tersebut dipasangkan dengan nama “Muhammad”, yang bagi umat Islam adalah nama yang paling mulia setelah nama Allah, reaksi emosional yang muncul bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Ia adalah reflex alami dari hati yang mencintai.

Saya memahami niat literer di balik judul itu. Dari ringkasan dan ulasan yang beredar, cerpen tersebut justru ingin menunjukkan betapa sulitnya menemukan sosok yang layak menyandang nama Muhammad di zaman ini.

Dalam salah satu cerpennya di buku itu, Abu Jahal “yang dihidupkan kembali” oleh Feby di era modern kecewa karena yang ia temukan hanyalah nama tanpa akhlak. Kritik terhadap hipokrisi umat ceritanya, dan itu sah-sah saja, bahkan kadang memang diperlukan sebagai bentuk otokritik umat terhadap perilaku keseharian yang justru jauh dari Sunnahnya beliau.

Namun cara penyampaiannya melalui diksi “memburu” justru mengaburkan pesan tersebut. Alih-alih mengajak pembaca merenung tentang keteladanan, judul itu lebih dulu memancing luka dan amarah. Sastra yang baik seharusnya mampu menyentuh tanpa harus terlebih dahulu menyakiti secara kasar.

 

Menjaga Lisan dan Tulisan

Dalam tradisi Islam, menjaga lisan dan tulisan adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.

Prinsip ini berlaku juga bagi penulis yang memilih untuk bertutur tentang agama. Ketika seorang penulis memutuskan untuk mengangkat nama Nabi sebagai pusat cerita, ia seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih kata.

Frasa “Mencari Muhammad”, “Menelusuri Muhammad”, atau bahkan “Muhammad yang Hilang” masih bisa menyampaikan pesan satire yang sama tanpa memunculkan bayangan perburuan. Pun tanpa perlu membuat umat Islam terluka dan marah karenanya. Pilihan “memburu” terasa seperti mengutamakan efek kejutan di atas pertimbangan adab dan sikap bijak.

Ini bukan soal sensitif berlebihan. Di Indonesia, di mana mayoritas penduduk adalah Muslim, sensitivitas terhadap simbol-simbol agama (agama manapun) adalah bagian dari kearifan sosial. Penulis yang cerdas seharusnya memahami konteks di mana karyanya akan disebarluaskan dan dibaca.

Feby Indirani sudah memiliki rekam jejak dengan “Bukan Perawan Maria”, yang juga memicu perdebatan. Trilogi “Islamisme Magis”-nya secara konsisten bermain di wilayah sensitif. Jika tujuannya adalah kritik yang membangun, maka diksi yang merangsang amarah justru kontraproduktif. Kritik yang baik seharusnya  mengundang dialog, merangsang diskursus yang sehat, bukan memancing tembok pertahanan dan memicu amarah.

Saya tidak sedang meminta sensor atau pelarangan. Saya sedang meminta kesadaran. Seorang penulis yang ingin menyentuh isu keagamaan seharusnya memiliki kepekaan ganda. Yakni peka terhadap pesan yang ingin disampaikan, sekaligus peka terhadap hati pembaca yang mungkin terluka.

Ketika judul saja sudah memunculkan kesan “perburuan” terhadap Nabi, maka isi cerita (sebaik apa pun niatnya) sudah mulai dibaca dengan prasangka. Itu kerugian literer yang sebenarnya bisa dihindari.

 

Ruang Tengah Ekspresi

Lebih jauh, pilihan diksi ini juga mencerminkan semacam jarak emosional penulis terhadap objek yang dibahas. Bagi orang yang mencintai Rasulullah secara mendalam, nama beliau tidak pernah hanya sekadar “tokoh sastra”, “aktor sejarah” atau “simbol” religi.

Nabi Muhammad adalah manusia yang paling dicintai, yang kehormatannya dijaga dengan sepenuh hati oleh ratusan juta umat manusia. Ketika seseorang dengan mudah memasangkan kata “memburu” di depannya, ada kesan bahwa sensitivitas tersebut kurang dipertimbangkan. Padahal, sastra yang matang justru mampu mengkritik tanpa harus menginjak rasa hormat yang paling dasar.

Catatan ini saya sampaikan bukan dengan kemarahan, melainkan dengan keprihatinan. Saya tetap menolak cara-cara intimidasi, ancaman massa, atau pembatalan diskusi dengan kekerasan. Itu juga bukan cara Rasulullah yang berakhlak mulia.

Namun saya juga menolak sikap yang seolah-olah kebebasan berekspresi boleh mengabaikan sepenuhnya perasaan umat yang mencintainya. Ada ruang di tengah, dan inilah yang mestinya dipilih Feby. Yakni ruang di mana kritik boleh tajam, tetapi diksi tetap bijak.

Kepada penulis, saya ingin menyampaikan, bahwa pesan satire tentang keteladanan yang hilang itu penting. Umat memang sering gagal meniru akhlak Nabi. Namun cara menyampaikan pesan itu seharusnya tidak justru membuat nama beliau terasa “diburu” di judul buku.

Ada cara yang lebih elegan, lebih beradab, dan tetap kuat secara literer. Semoga ke depan, ketika menulis tentang hal-hal yang menyentuh keimanan banyak orang, sensitivitas itu lebih diutamakan.

Karena pada akhirnya, kritik yang paling efektif terhadap umat yang jauh dari teladan Nabi justru datang dari mereka yang mencintai beliau dengan sungguh-sungguh, dengan akal yang jernih dan hati yang tetap menjaga adab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *