Jejak Nurani Ustadz Agus Sutisna
Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober, adalah momen untuk merefleksikan jejak jihad para santri yang telah mengukir sejarah kebangsaan Indonesia. Namun, di tengah era disrupsi teknologi dan globalisasi, jihad santri tidak lagi hanya tentang perjuangan fisik, melainkan juga perjuangan intelektual, moral, dan sosial. Di Pesantren Nurul Madany, Hari Santri diperingati dan dirayakan sebagai panggilan bagi santri milenial untuk menjadi pelopor perubahan yang berlandaskan iman dan ilmu, menjawab tantangan zaman dengan kreativitas, integritas dan akhlak mulia.
Jejak Jihad Santri dalam Sejarah
Jejak jihad santri tercatat jelas dalam Resolusi Jihad 1945, yang digagas oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Fatwa ini, yang menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah fardu ain, menggerakkan ribuan santri untuk berjuang melawan penjajah, sebagaimana terlihat dalam Pertempuran Surabaya 1945.
Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 41 menjadi landasan spiritual perjuangan tersebut: “Berjihadlah (di jalan Allah) dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41). Ayat ini menggambarkan bahwa jihad adalah pengorbanan total untuk kebenaran, yang diwujudkan para santri dengan keberanian dan keteguhan iman.
- Wahid Hasyim, salah satu tokoh kunci di balik Resolusi Jihad, pernah menegaskan, “Santri bukan hanya penjaga agama, tetapi juga penjaga bangsa.” Perjuangan mereka tidak hanya melawan penjajah, tetapi juga melawan kebodohan dan ketidakadilan, melalui pendidikan di pesantren yang menjadi pusat keilmuan dan perlawanan. Sejarawan Dr. Anhar Gonggong mencatat, “Pesantren adalah laboratorium intelektual yang melahirkan santri sebagai pejuang sekaligus pemikir.”
Peran Santri di Era Disrupsi
Era disrupsi, yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan globalisasi, menuntut santri untuk menafsirkan ulang makna jihad. Rasulullah SAW bersabda, “Jihad yang paling utama adalah berbicara dengan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud). Dalam konteks modern, jihad ini dapat diartikan sebagai upaya melawan hoaks, ekstremisme digital, dan degradasi moral melalui literasi, dakwah, dan inovasi. Santri harus menjadi pelopor dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin di tengah banjir informasi.
Di Pesantren Nurul Madany kami mempersiapkan santri untuk menghadapi era disrupsi melalui pendidikan terintegrasi. Selain tahfidz Al-Qur’an dan kajian kitab kuning, santri juga dibekali dengan pengetahuan dasar dan keterampilan teknologi, bahkan juga wawasan politik dan kebangsaan.
Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan, “Santri adalah pewaris tradisi intelektual Islam yang harus mampu menjawab tantangan zaman dengan keimanan dan keilmuan.” Oleh karena itu, Hari Santri bukan hanya perayaan, tetapi juga panggilan untuk berjihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan di era modern. Mari kita wujudkan santri yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berdaya, sebagai penerus perjuangan para pendahulu untuk Indonesia yang lebih baik.
