Waktu semakin singkat dan cepat

Hikmah Kedelapan Belas: Ilusi Kelapangan Waktu dan Kebodohan Menunda Amal

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP.,M.Si.

 

Pengantar

Pada Hikmah Ketujuhbelas As Sakandari telah membongkar isi hati manusia mengenai kebodohan ego yang selalu ingin mendikte dan mengubah waktu sesuai selera pribadi, alih-alih ridho pada skenario yang sedang Allah nampakkan.

Melangkah pada Hikmah Kedelapanbelas ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada tamparan yang tidak kalah keras. Namun kali ini sasarannya adalah penyakit mental rohani yang sangat akrab dengan kita semua, yakni taswif atau gemar menunda-nunda amal kebaikan.

Jika sebelumnya telah diulas larangan memaksakan kehendak untuk mengubah keadaan masa kini, kali ini As-Sakandari menggugat alasan klasik yang sering kita gunakan untuk memarkir amal saleh.

Kita sering berdalih sedang sibuk, banyak urusan, dan berjanji baru akan khusyuk beribadah nanti saat situasi sudah lapang. Melalui untaian aforisma yang singkat namun menghunjam ini, kita akan disadarkan bahwa menunggu waktu luang untuk menghamba adalah bukti nyata dari belum merdekanya jiwa kita dari kekangan nafsu. Berikut bait aforismanya:

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُونَا تِ النَّفْسِ

“Menundanya engkau akan amalan-amalan karena menanti adanya waktu lapang, merupakan salah satu tanda dari kebodohan jiwa.”

Kajian Referensi

Kritik tajam dari Syekh Ibnu Atha’illah mengenai jebakan waktu luang ini dibedah secara mendalam dan sistematis oleh para ulama pensyarah par excellent kitab Al-Hikam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa istilah “ru’unatun nafs” diartikan sebagai kepandiran atau kepalsuan sifat jiwa. Menurut Ibnu ‘Abbad, mengondisikan ibadah harus menunggu urusan dunia selesai adalah tipu daya nafsu yang paling halus.

Nafsu membisikkan seolah-olah penundaan itu demi mengejar “kekhusyukan”, padahal sejatinya ia sedang menggiring hamba tersebut untuk melupakan maut. Dunia ini sifatnya beranak-pinak. Satu urusan selesai akan melahirkan belasan urusan baru. Maka, menunggu dunia sepi dari kesibukan sama saja dengan menunggu fatamorgana menjadi air.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti dimensi hakikat dari waktu itu sendiri. Bin Ajiba menegaskan bahwa setiap jengkal waktu yang mengalir memiliki haknya masing-masing (huququl awqat) yang dituntut oleh Allah kepada hamba-Nya.

Tidak ada satu pun waktu yang kosong dari kewajiban ubudiyah. Jika seseorang menunda kewajiban saat ini ke waktu yang akan datang, ia sebenarnya sedang menumpuk beban di atas beban. Ia bertindak bodoh karena mengklaim memiliki masa depan, padahal tidak ada jaminan sehelai napas pun bahwa ia masih hidup di detik berikutnya.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang menitikberatkan pada aspek psikologi spiritual seorang pekerja dan pencari nafkah. Al-Bouthi meluruskan pemahaman keliru seputar amal. Banyak orang mengira “amal” hanyalah salat sunah, iktikaf, atau wirid yang lama. Beliau menegaskan bahwa bekerja mencari nafkah yang halal, mengurus keluarga, dan berkhidmat kepada masyarakat dengan niat yang benar adalah juga bagian dari amal saleh yang agung.

Kebodohan terbesar adalah ketika seseorang mogok beribadah di dalam kesibukannya, hanya karena ia mengira ibadah itu harus selalu berbentuk ritual formal di atas sajadah dalam kondisi sepi.

Syarah Kontemporer

Menarik untaian retorika sufistik abad ke-13 ini ke dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah ironi besar masyarakat urban. Bahwa kita adalah generasi yang paling sibuk, paling terkoneksi secara digital, sekaligus paling mahir memproduksi alasan untuk menunda kebaikan. Kita hidup di era productivity hacks, namun anehnya, waktu untuk Tuhan selalu ditaruh di urutan paling buncit.

Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Menunda amal karena menanti waktu lapang adalah kebodohan” menjadi cermin retak bagi mentalitas kita. Kita sering berkata: “Nanti kalau proyek ini selesai, saya mau mulai rutin tilawah,” atau “Nanti kalau sudah mapan dan pensiun, saya baru mau aktif di masjid.” Kita memperlakukan ibadah laksana hobi atau kegiatan rekreasional yang baru disentuh saat jadwal kita benar-benar kosong (free time).

Di sinilah letak ilusinya. Di era digital ini, waktu lapang yang murni itu tidak pernah benar-benar ada. Ketika pekerjaan kantor selesai, perhatian kita langsung dirampok oleh layar ponsel, algoritma media sosial, dan berbagai hiburan instan.

Kita gagal menyadari bahwa kesibukan kita sebenarnya bukanlah hambatan bagi amal, melainkan “medan amal” itu sendiri. Mengintegrasikan zikir di sela-sela rapat korporasi, menjaga kejujuran di tengah transaksi bisnis yang pelik, serta tetap mendirikan salat tepat waktu di tengah tenggat waktu kerja yang mencekik, itulah puncak makrifat yang sejati di zaman modern.

Refleksi

Mari kita bawa pulang tamparan spiritual dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Di akhir hari yang melelahkan ini, saat kita menatap kembali daftar pekerjaan yang tak ada habisnya, tanyakan pada diri kita yang rapuh: Jika maut menjemput sebelum waktu luang yang kita impikan itu tiba, bekal apa yang akan kita bawa menghadap-Nya?

Jika kita selalu menunggu kondisi ideal yang sempurna untuk mulai melangkah mendekat kepada-Nya, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah memulai. Kesibukan hidup yang menjepit kita saat ini bukanlah rantai yang mengikat kaki kita dari berjalan menuju Allah. Kesibukan itu justru adalah ujian kepatuhan: Apakah kita menyembah Allah hanya saat kita butuh kenyamanan.  Ataukah kita mampu menjadikan setiap helai napas kesibukan kita sebagai sarana untuk bersujud kepada-Nya?

Mulai hari ini, mari kita runtuhkan berhala penundaan di dalam hati. Jangan lagi menunggu hari esok yang belum tentu menjadi milik kita, jangan lagi menanti pensiun untuk mulai bertobat, dan jangan lagi menunggu waktu senggang untuk mengingat-Nya. Gunakan sisa modal umur yang ada pada detik ini juga untuk beramal dengan segala keterbatasan yang kita miliki.

Sebab, hamba yang cerdas tidak akan pernah menanti badai kesibukan dunia ini reda untuk bisa berlayar. Ia akan membangun ruang khusyuk di tengah badai itu sendiri, memeluk kewajiban dengan anggun, dan melangkah penuh keyakinan bahwa Allah selalu hadir di setiap helai waktu yang kita korbankan untuk-Nya. Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *