Ilustrai

Hikmah Kedelapan: Jalan Ma’rifat Tak Bergantung Amalan

Oleh Ustadz Agus Sutisna

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

“Apabila Allah telah membukakan salah satu jalan makrifat (mengenal Allah) bagimu, maka jangan hiraukan mengapa itu terjadi, walaupun amalmu masih sangat sedikik. Allah membukakan pintu itu bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau mengerti, bahwa makrifat itu merupakan anugrah-Nya kepadamu, Sedang engkau mempersembahkan amal-amalmu kepada-Nya.? Maka apalah arti apa yang engkau persembahkan kepada-Nya itu dengan apa yang dianugrahkan oleh Allah kepadamu.” 

Dalam keseharian sebagai hamba, kita seringkali merasa tak pantas menerima ketenangan batin atau kedekatan dengan Allah hanya karena merasa amal ibadah kita masih terlalu sedikit. Shalat-shalat kita masih jauh dari standar syar’iah, kualitas maupun kuantitas. Zakat, infaq, dan sodaqoh kita masih amat kurang. Bakti kita kepada orang tua tak seberapa. Pun sumbangsih kita pada tegaknya agama Allah, masih terlampau minus.

Namun Syekh Ibnu ‘Atha’illah, dengan kearifannya sebagai seorang Mutaṣawwif, mengingatkan bahwa Makrifat (mengenal Allah) bukanlah hasil dari kerja keras amal kita, melainkan murni karena undangan cinta dari Allah SWT. “…Allah membukakan pintu itu bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu.” Ujar ‘Atho’illah dalam aforisma kedelapa Hikam-nya.

Di dalam QS Asy Syura ayat 13, Allah sendiri secara lugas dan eksplisit menegaskan :

اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

“Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” 

Saat Allah tetiba saja menghidupkan rasa rindu dalam hati dan pikiran kita, memberikan pemahaman tentang kekuasaan-Nya, atau kekhusyukan saat berzikir, itu adalah cara Allah “mengetuk pintu” kita. Jangan pernah ragu untuk menyambut dan mensyukurinya hanya karena merasa ibadah dan amal-amal baik kita masih sangat kurang.

Syekh Ahmad Zarruq, pensyarah terkemuka kitab Al-Hikam, menjelaskan bahwa jika Allah telah membukakan pintu waridat (getaran Ilahi) di hatimu, jangan menyibukkan diri dengan perasaan berdosa atau kurang amal yang justru membuatmu berpaling dari pemberian itu. Terimalah dengan syukur.

Atau seperti juga diingatkan oleh Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (khususnya dalam Kitab Sharh ‘Aja’ib al-Qalb atau Penjelasan Keajaiban Hati), bahwa cahaya makrifat (pengetahuan langsung tentang Allah) adalah karunia (wahb) yang dimasukkan ke dalam hati, bukan sekadar hasil usaha (kasb) dari banyaknya salat dan puasa.

Amalmu adalah persembahanmu yang terbatas dan cacat, sedangkan Makrifat adalah pemberian Allah yang Maha Sempurna. Lantas apa artinya setetes air (amalmu) dibandingkan dengan samudera rahmat-Nya, dalam hal ini Makrifat-Nya? Demikianlah, Ibnu ‘Atho’illah mengajarkan sekaligus memotivasi dan menghidupkan ghiroh untuk menyambut dan mensyukuri rahmat-Nya.

Maka alih-alih merasa insecure, rendah diri lantaran merasa ibadah masih sangat kurang dan maksiat masih dilakukan, ketika Allah mengetuk pintu ruhani kita melalui jalan yang kita tak perlu tahu dan disaat tabungan ibadah masih sangat sedikit, lebih baik bersegera menyambut dan mensyukuri ketukan pintu dari-Nya itu dengan penuh harap dan ikhtiar yang pantas

Akhir kalam. Jangan lupa pula untuk selalu “bersangka baik” kepada Allah (husnudzon billah) karena hal ini akan menjadi salah satu jalan keselamatan di dunia dan akhirat sebagaimana secara implisit Allah kabarkan melalui hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Ahmad berikut ini :

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika ia bersangka baik kepadaku, maka (kebaikan) itu untuknya dan jika ia bersangka buruk, maka itu untuknya.” (Bersambung).

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *