Oleh Ust. H. Agus Sutisna
Pengantar
Pada Hikmah Kedua Puluh Satu As-Sakandari telah menguraikan empat lapis tuduhan tersembunyi di balik cara kita meminta dan mencari. Ia menunjukkan bahwa permintaan yang dilandasi keraguan, pencarian yang dilandasi rasa jauh, serta ketergantungan kepada selain-Nya, semuanya adalah gejala batin kita yang berjarak dengan Allah.
Sekarang kita masuk ke Hikmah Kedua Puluh Dua ini, dimana Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari membawa kita pada kesadaran yang lebih radikal dan membebaskan. Bahwa setiap napas yang kita hembuskan sejatinya bukanlah milik kita. Setiap tarikan dan hembusan adalah takdir yang sedang dijalankan di dalam diri kita.
Jika sebelumnya kita diingatkan tentang kualitas permintaan, kali ini kita digugat tentang kesadaran akan keberadaan kita sendiri. Apakah kita masih mengira bahwa napas ini adalah hasil usaha kita, atau sudah menyadari bahwa setiap napas adalah keputusan Ilahi yang sedang berlangsung?
Melalui untaian aforisma yang singkat namun tajam dan menembus, As-Sakandari menanamkan kesadaran bahwa hidup ini bukanlah rangkaian pilihan bebas yang lepas, melainkan aliran takdir yang terus bergerak di setiap detik. Berikut bait aforismanya:
مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ
“Tiadalah satu napas pun yang engkau hembuskan, melainkan di dalamnya terdapat suatu takdir yang sedang dijalankan atas dirimu.”
Kajian Referensi
Peringatan yang sangat padat ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam.
Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa “nafas” di sini bukan sekadar udara yang keluar-masuk dari paru-paru, melainkan setiap detik keberadaan kita. Setiap napas adalah bukti bahwa Allah sedang “menggerakkan” kita.
Jika seorang hamba menyadari ini, maka ia tidak lagi merasa memiliki kendali mutlak atas hidupnya. Kesadaran ini melahirkan sikap tawakkal yang sejati, bukan pasrah yang malas, melainkan penyerahan yang aktif dan tenang.
Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti bahwa hikmah ini merupakan penegasan atas qadar. Setiap napas yang keluar membawa serta ketetapan Allah: Apakah napas itu akan menjadi napas syukur, napas keluh kesah, napas dzikir, atau napas lalai dan kufur.
Ahmad Bin Ajiba menekankan bahwa orang yang arif tidak lagi bertanya “mengapa aku seperti ini?”, melainkan menyadari bahwa setiap napas adalah kesempatan untuk menyaksikan kehendak Allah yang sedang bekerja di dalam dan/atau atas dirinya.
Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan yang sangat tajam terkait kesadaran eksistensial. Al-Bouthi menjelaskan bahwa narasi hikmah kedua puluh dua ini menghancurkan ilusi “aku yang menguasai napasku”.
Ketika seseorang mengira bahwa ia yang mengatur hidupnya, ia sedang lengah. Karena sekali lagi, setiap napas adalah keputusan Ilahi yang sedang dijalankan. Kesadaran ini, menurut Al-Bouthi, adalah pintu masuk menuju maqam ridha, yakni menerima setiap detik kehidupan sebagai ketetapan yang penuh hikmah.
Syarah Kontemporer
Kontekstualisasi untaian retorika sufistik abad ke-13 ini dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit yang sangat akut: ilusi kontrol kita kehidupan ini .
Kita hidup di era di mana manusia diajarkan untuk “menguasai hidup”, “mengatur masa depan”, dan “menciptakan takdir sendiri”. Aplikasi produktivitas, planner, dan motivasi self-help semuanya menekankan bahwa kita adalah penguasa mutlak atas setiap detik. Padahal, setiap napas yang kita hembuskan justru sedang membuktikan sebaliknya.
Dalam konteks kehidupan modern, kalimat “Tiadalah satu napas pun yang engkau hembuskan, melainkan di dalamnya terdapat suatu takdir” menjadi kritik tajam bagi cara kita memandang keberadaan.
Ketika kita merasa panik karena rencana gagal, atau sombong karena rencana berhasil, sejatinya kita sedang lupa bahwa setiap napas adalah takdir yang sedang berjalan. Kita gagal menyadari bahwa bahkan kemampuan untuk merasa panik atau sombong itu sendiri adalah bagian dari ketetapan yang sedang dijalankan di dalam diri kita.
Kehidupan modern yang penuh dengan tekanan untuk “mengontrol segalanya” justru membuat banyak orang kehilangan ketenangan. Kita berusaha mengatur napas dengan teknik pernapasan, mengatur pikiran dengan meditasi, mengatur masa depan dengan perencanaan, namun sering kali lupa bahwa yang mengatur napas kita sesungguhnya adalah Dia.
Kesadaran itu bukan untuk membuat kita pasif, melainkan untuk membuat kita hadir secara utuh di setiap detik, tanpa merasa memiliki kendali yang sejatinya memang tidak kita miliki.
Refleksi
Mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika napas kita naik dan turun di malam ini, tanyakan: Apakah kita menyadari bahwa setiap embusan ini adalah takdir yang sedang dijalankan, atau masih mengira bahwa kita yang menguasainya?
Jika hari ini kita merasa cemas tentang masa depan, ingatlah bahwa bahkan napas yang sedang kita hembuskan saat ini pun sudah ditentukan. Jika hari ini kita merasa bangga karena berhasil mengatur sesuatu, ingatlah bahwa kemampuan untuk mengatur itu sendiri adalah anugerah yang sedang mengalir melalui napas kita.
Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita memandang setiap detik kehidupan. Jangan lagi mengira bahwa napas ini adalah milik kita. Anggaplah setiap tarikan dan embusan sebagai kesempatan untuk menyaksikan kehendak-Nya yang sedang bekerja. Jika napas ini menjadi napas syukur, bersyukurlah. Jika menjadi napas keluhan, bertobatlah. Jika menjadi napas dzikir, lanjutkan.
Dengarkan suara kebenaran di dalam batin kita yang terus memanggil: Wahai diri, setiap napasmu adalah takdir yang sedang berjalan. Jangan sombong seolah engkau yang menguasainya, dan jangan takut seolah engkau yang harus mengendalikannya sendirian. Hadirlah di setiap embusan, karena di situlah Dia sedang bekerja.
Sebab, jika kita adalah hamba yang sadar, kita tidak akan pernah lagi mengklaim kepemilikan atas napas kita sendiri. Jiwa kita akan tetap tenang, mengalir bersama setiap takdir yang dijalankan, dan berbisik penuh ketetapan iman. Wallahu’alam bi shawab.
