Berbagai alam yang dijalani manusia menurut islam al hasanah peduli

Hikmah Keempatbelas: Cahaya di Balik Kegelapan Semesta

Oleh Ustadz H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

Pengantar

Secara naluriah, manusia melihat alam semesta ini sebagai sesuatu yang sangat benderang, nyata, dan penuh warna. Kita melihat rembulan menggantung di langit, matahari terbit di ufuk timur, gemerlap kota di malam hari, hingga keindahan alam yang memanjakan mata fisik kita. Kita menganggap bahwa dunia materi ini memiliki cahayanya sendiri yang membuat dirinya eksis dan patut untuk dikejar habis-habisan.

Namun, melalui Hikmah ke-14 ini, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari mendekonstruksi total logika awam kita dengan sebuah pernyataan yang menghentak kesadaran: alam semesta ini sejatinya adalah kegelapan total, sebuah kehampaan yang tidak memiliki eksistensi mandiri.

Dunia ini baru tampak benderang dan seolah-olah “ada” hanya karena adanya pancaran cahaya dari Sang Pencipta yang menembus kegelapan tersebut. Pada titik ini, As-Sakandari mengajak kita menguji ketajaman mata batin: apakah kita hanya terpukau pada bayangan yang fana, atau mampu menembus bayangan tersebut untuk berjumpa dengan Sang Pemilik Cahaya.

الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ

“Alam semesta ini seluruhnya adalah kegelapan, dan ia menjadi terang benderang hanya karena penampakan (hidayah) Allah di dalamnya. Maka, barang siapa yang melihat alam semesta namun tidak menyaksikan kehadiran Allah di dalam alam tersebut, atau di dekatnya, atau sebelum adanya alam, atau sesudah runtuhnya alam, maka sungguh ia telah kehilangan cahaya-cahaya ma’rifat, dan matahari pengetahuan batinnya telah terhalang oleh tebalnya awan benda-benda duniawi.”

Kajian Referensi

Untuk menyelami kedalaman ontologis dari konsep “semesta yang gelap” ini, kita perlu merujuk pada analisis yang diberikan oleh para pensyarah otoritatif yang mengupas tuntas struktur makrifat dari bait ini.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan istilah al-kaun (alam semesta/makhluk). Menurut Ar Rundi, hakikat makhluk adalah ‘adam, yakni ketiadaan. Sesuatu yang aslinya tidak ada, secara otomatis esensinya adalah kegelapan (zhulmah). Alam semesta tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, tidak bisa bergerak sendiri, dan tidak memiliki daya apa pun.

Satu-satunya alasan mengapa dunia ini kelihatan nyata dan hidup adalah karena Allah, Sang Maha Benar (Al-Haqq), yang    memancarkan sifat-sifat-Nya (Asma wa Sifat) pada alam semesta. Ibnu ‘Abbad menegaskan bahwa orang yang menganggap dunia ini memiliki kekuatan mandiri, ibarat orang yang mengira bayangan di dinding bisa bergerak sendiri tanpa ada objek asli yang digerakkan di depan lampu.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam mengupas empat tingkatan penyaksian batin (musyahadah) yang tertuang dalam teks: melihat Tuhan fīhi (di dalam alam), ‘indahū (di dekat alam), qablahū (sebelum alam), atau ba’dahū (sesudah alam). Bin Ajiba menjelaskan bahwa ini adalah maqam (tingkatan) para kekasih Allah dalam memandang realita:

Orang pada tingkatan dasar melihat Allah fīhi atau ‘indahū, mereka melihat fenomena alam lalu menyadari ada kuasa Tuhan yang menyertainya. Namun, bagi kalangan khawas (puncak makrifat), mereka melihat Allah qablahū (sebelum melihat bendanya). Artinya, saat melihat sebongkah emas, sebuah jabatan, atau keindahan fisik manusia, yang pertama kali melintas di batin mereka bukanlah kemewahan materi tersebut, melainkan keagungan Allah yang mendesainnya.

Bagi mereka, makhluk hanyalah tirai tipis yang tidak mampu mendominasi kesadaran mereka. Jika seseorang gagal mencapai salah satu dari empat titik pandang ini, Bin Ajiba menyebutnya sebagai orang yang tertutup oleh suhubil-atsar (awan tebal benda materi).

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan analisis logis-filosofis yang sangat tajam terkait kalimat “faqad a’wazahū wujūdul-anwār” (ia kehilangan cahaya). Al-Bouthi memaparkan bahwa cahaya dalam tasawuf bukanlah partikel fisik, melainkan logika iman dan ketajaman intuisi batin.

Ketika seseorang terpesona oleh dunia hingga mengabaikan Sang Pencipta, akal sehatnya sebenarnya sedang mengalami kegelapan yang pekat. Ia menjadi orang yang sangat pintar menganalisis hukum alam (sains materi), namun buta total terhadap hakikat spiritual dari keberadaan dirinya sendiri di dunia ini.

Syarah Kontemporer

Membawa narasi kosmis abad ke-13 ini ke dalam hiruk-pikuk abad ke-21 memberikan kita sebuah perspektif yang sangat mencerahkan untuk mengobati ruang batin kita yang sering kali merasa hampa. Manusia modern hidup dalam sebuah realita buatan (artificial reality) yang luar biasa bising. Kita dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit, sistem keuangan global, kemewahan kosmetik, dan gemerlap status sosial yang tampak begitu megah dan “bercahaya”.

Namun, jika kita gunakan kacamata Hikmah ke-14 ini, semua kemegahan modern itu aslinya adalah kegelapan total yang semu. Mengapa banyak orang yang memiliki harta berlimpah, popularitas tinggi, dan fasilitas hidup yang mewah, namun batinnya tetap merasa sepi, cemas, mengalami depresi, dan hampa?

Jawabannya adalah karena mereka mencoba mencari kebahagiaan dari sesuatu yang aslinya tidak memiliki cahaya kehidupan (materi fana). Mereka memeluk bayangan kegelapan, dan berharap bayangan itu bisa menghangatkan jiwa mereka.

Konsep suhubil-atsar atau “awan tebal benda duniawi” yang ditulis Ibnu Atha’illah adalah analogi yang sangat akurat untuk menggambarkan bagaimana manusia modern terhijab oleh rutinitasnya sendiri. Kesibukan kita mencari nafkah, mengejar target karier, merengkuh jabatan politik, memikirkan cicilan, hingga obsesi untuk mempertahankan citra diri di hadapan manusia, bertindak seperti awan mendung yang hitam dan tebal. Awan ini menutupi matahari makrifat di dalam dada kita.

Kita menjadi begitu sibuk dengan “akibat” (uang, relasi, jabatan, kesuksesan), hingga kita lupa total pada “Sebab Utama” dari segala sebab, yaitu Allah. Kita salat, namun ingatan kita tetap tertinggal di ruang rapat, di kantor partai atau di etalase toko digital. Mata kepala kita terbuka lebar melihat dunia, namun mata batin kita mengalami kebutaan kronis karena tidak mampu mendeteksi kehadiran-Nya di balik setiap peristiwa kehidupan kita.

Refleksi

Sembari kita merenung bersama di keheningan momen ini, mari kita rasakan aliran napas kita dan menatap dunia di sekeliling kita dengan cara yang berbeda. Jika selama ini kita sering merasa lelah, stres, dan diperbudak oleh keadaan, bisa jadi itu karena kita memandang alam semesta ini dengan cara yang salah. Kita menganggap makhluk itu memiliki kuasa untuk memberi kita kebahagiaan atau mendatangkan kesengsaraan, sehingga kita selalu hidup dalam ketakutan dan kepalsuan.

Runtuhkanlah ilusi itu sekarang. Sadarilah bahwa segala hal selain Allah di dunia ini adalah nol besar yang gelap gulita. Bos yang memarahimu, manusia yang memujimu, uang yang ada di rekeningmu, hingga masalah yang saat ini sedang menghimpit dadamu, semuanya adalah bayangan fana yang tidak memiliki daya apa pun kecuali atas izin-Nya. Jangan biarkan hatimu menyembah awan mendung yang sesaat, hingga kamu kehilangan kehangatan cahaya matahari ketuhanan yang abadi.

Mulai detik ini, ubahlah cara pandangmu. Ketika kamu mendapatkan nikmat berupa rezeki atau keberhasilan, jangan berhenti pada rasa bangga diri, melainkan langsung tembuslah awan itu untuk menyaksikan sifat Maha Pemurah-Nya. Ketika kamu ditimpa kesulitan atau kegagalan, jangan meratapi nasib seolah-olah dunia kiamat, melainkan lihatlah bahwa di sana ada sifat Maha Menjaga dan Maha Mendidik-Nya yang sedang membentuk jiwamu agar lebih kuat dan dewasa.

Jadikanlah dunia ini transparan. Biarkan matamu melihat makhluk, namun biarkan hatimu hanya menyaksikan dan bersandar pada Sang Khalik. Hanya dengan cara itulah, batinmu akan merdeka dari penjara duniawi, awan mendung di dadamu akan sirna, dan matahari makrifat akan menyinari hidupmu dengan kedamaian yang tidak akan pernah bisa direnggut oleh badai dunia apa pun. Wallahu’alam bi Shawab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *