Apa itu istidraj

Hikmah Kesebelas: Mengubur Eksistensi Semu, Menemukan Hakikat Diri dalam Sunyinya Khumul

Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP., M.Si.

 

Pengantar

Di tengah ekosistem modern yang sangat mendewakan visualisasi dan eksposur, manusia mengalami sebuah krisis eksistensial yang akut: cenderung merasa “ada” hanya jika diakui oleh entitas di luar diri kita. Fenomena hyper-visibility (keterlihatan yang berlebihan) di era digital memaksa setiap individu untuk memamerkan “etalase” hidupnya, mulai dari pencapaian profesional, aktivitas sosial, hingga wilayah privat spiritual. Akibatnya, muncul kelelahan mental yang masif (burnout) akibat ketergantungan pada metrik penilaian manusia yang labil.

Dalam psikologi tasawuf, kecenderungan untuk selalu tampil di permukaan sebelum jiwanya kokoh disebut dengan syahwat al-istisyraf, yakni hasrat laten untuk mengintip dan diintip, memuji dan dipuji. Tujuh abad yang lalu, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari telah membaca gerak-gerik psikologis ini sebagai penyakit batin yang dapat membusukkan potensi spiritual dan intelektual seorang manusia.

Melalui mutiara Hikmahnya yang ke-11 ini, As-Syakandari memberikan sebuah  “terapi metaforis radikal” berupa konsep pertanian spiritual: sebuah instruksi untuk kembali masuk ke dalam tanah, menjauh dari riuhnya tepuk tangan, demi menyelamatkan kemurnian jiwa.

ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنُ لاَ يَتِمُّ نَتَائِجُهُ

“Benamkanlah eksistensimu (keinginan untuk dikenal) didalam bumi khumul (kesunyian/tidak dikenal). Sebab benih apapun yang tumbuh ke permukaan tanpa dikubur terlebih dahulu, maka buahnya tidak akan pernah matang dengan sempurna.”

Metafora ini bukan sekadar ajakan untuk mengasingkan diri, melainkan sebuah strategi ketahanan batin di tengah dunia yang obsesif terhadap validasi eksternal. Seperti benih yang harus mendekap kegelapan tanah untuk mengumpulkan energi sebelum menerobos permukaan, manusia pun perlu menumbuhkan akar karakter dalam keikhlasan yang tersembunyi. Hanya dengan mengubur ambisi akan popularitas, seseorang dapat membangun integritas yang kokoh, sehingga ketika ia akhirnya muncul ke permukaan, setiap langkah dan karyanya bukanlah sekadar riak dangkal, melainkan buah matang yang lahir dari kematangan spiritual yang teruji oleh waktu dan kesunyian.

Kesunyian itulah yang kemudian menjadi ruang bagi pertumbuhan yang autentik, tempat di mana setiap benih tidak lagi terburu-buru mengejar cahaya sebelum akarnya cukup kuat menopang beban. Dalam kedalaman hening tersebut, seseorang belajar membedakan antara keinginan untuk diakui dan panggilan jiwa yang sesungguhnya. Ketika keberanian untuk tetap tersembunyi menjadi fondasi, maka saat tiba waktunya untuk tampil, ia tidak lagi membawa kegelisahan akan penilaian orang lain, melainkan sebuah ketenangan yang tak tergoyahkan, siap mempersembahkan karya yang murni dari esensi diri yang telah matang.

Sebab pada akhirnya, kualitas dari apa yang kita hadirkan ke dunia ditentukan oleh seberapa jujur kita berproses di balik layar. Kedewasaan ini mengubah setiap hambatan menjadi pijakan, bukan lagi sebagai penghalang yang menuntut pengakuan segera. Dengan demikian, setiap langkah yang kita ambil tidak lagi didorong oleh ambisi yang rapuh, melainkan oleh keyakinan yang berakar dalam pada nilai diri.

Kajian Referensi

Untuk membedah kedalaman makna kata Khumul (kesunyian) dan Idfin (kuburlah), kita perlu bersandar pada poros syarah (kitab penjelasan) Al-Hikam yang muktabar agar pemaknaannya tidak bergeser secara reduktif. Ada tiga perspektif yang akan kita telaah berikut ini.

Pertama, Perspektif Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi (Syarh Ibnu ‘Abbad). Ibnu ‘Abbad menegaskan bahwa kalimat “Idfin wujudaka” bukanlah sebuah seruan untuk menjadi manusia yang asosial, apatis, atau melarikan diri dari tanggung jawab kemanusiaan. Yang diwajibkan untuk dikubur di sini adalah syahwat kefasihan, popularitas (syuhrah), dan ego yang selalu menuntut untuk dipandang sebagai orang penting.

Ibnu ‘Abbad menulis bahwa khumul adalah benteng bagi keikhlasan. Ketika seorang hamba berada dalam posisi tidak diperhitungkan oleh pandangan manusia, ia merdeka dari beban ekspektasi publik. Amalnya menjadi murni, karena tidak ada lagi insentif berupa pujian makhluk yang mengotori hatinya.

Kedua, Perspektif Syekh Ahmad bin Ajiba (Iqazh al-Himam). Syekh Ahmad bin Ajiba mengeksplorasi secara mendalam metafora pertanian (agronomis) yang dipilih oleh Ibnu Atha’illah. Mengapa tanah khumul yang dipilih? Tanah secara visual adalah tempat yang rendah, kotor, dan diinjak-injak. Namun, justru di dalam kegelapan dan tekanan tanah itulah sebutir benih mendapatkan nutrisi, kelembapan, dan perlindungan yang ia butuhkan untuk memecah cangkang egonya.

Jika benih tersebut menolak dikubur karena ingin tetap terlihat indah di permukaan, ia tidak akan pernah mengalami proses pembelahan sel. Ia akan tetap menjadi sebutir biji yang keras, mandul, dan perlahan membusuk ditelan cuaca tanpa pernah menjadi pohon. Bin Ajiba menegaskan sebuah kaidah: “Fase bidayah (awal) yang tidak merasakan gelapnya tanah khumul, tidak akan pernah mencapai fase nihayah (puncak) yang berbuah manis.”

Ketiga, Perspektif Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi (Syarh al-Hikam). Dalam kajian epistemologinya, Syekh Al-Bouthi menyoroti aspek psikologi sosial. Beliau menyatakan bahwa kehancuran banyak gerakan kebaikan atau institusi sering kali berakar dari para aktornya yang “tumbuh prematur”. Mereka melompat ke panggung publik sebelum selesai dengan urusan syahwat batinnya. Akibatnya, apa yang mereka lahirkan tidak menghasilkan kemaslahatan yang langgeng (la yatimmu nata’ijuhu), melainkan sekadar melahirkan konflik kepentingan, friksi sosial, dan narsisme spiritual.

 Syarah Kontemporer

Jika ditarik ke dalam konteks abad ke-21, Hikmah ke-11 ini bertransformasi menjadi kritik sosiologis sekaligus penawar medis bagi kesehatan mental masyarakat modern berikut ini.

Pertama, Dekonstruksi Validation Craving (Kecanduan Validasi). Di era media sosial, manusia modern terjebak dalam algoritma yang menuntut engagement. Kita merasa cemas jika karya, pemikiran, atau bahkan aktivitas ibadah kita tidak mendapatkan respons berupa likes atau shares.

Prinsip khumul kontemporer tidak meminta kita menghapus seluruh akun digital, melainkan melatih kemerdekaan mental. Artinya, kita tetap bisa berkarya di ruang publik, namun hati kita tidak boleh “makan” dari pujian netizen. Kita harus memiliki wilayah hidup yang misterius—amalan atau proses belajar yang steril dari kamera.

Kedua, Kritik atas Budaya Instan (Karbitan). Hari ini, batas menjadi “ahli” atau “tokoh” menjadi sangat kabur akibat rekayasa personal branding. Banyak orang ingin langsung memetik “buah” (menjadi pemikir, pemimpin, atau pembuat kebijakan) tanpa melewati fase “dikubur” dalam proses belajar yang sunyi, panjang, dan melelahkan. Hikmah ini memperingatkan bahwa kepakaran yang dibangun dari pencitraan tanpa basis kompetensi yang matang, ibarat buah karbitan: tampak memikat di luar, namun hambar dan rapuh di dalam.

Refleksi

Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri di hadapan cermin batin yang paling jujur: Berapa banyak dari aktivitas dan kebaikan kita hari ini yang benar-benar murni kita lakukan demi nilai itu sendiri, dan berapa banyak yang diam-diam kita harapkan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain?

Proses “mengubur diri” dalam tanah khumul adalah sebuah fase jeda atau inkubasi yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun yang ingin memiliki dampak jangka panjang. Menjadi tidak terkenal, tidak dianggap, atau berada di belakang layar dalam beberapa fase kehidupan bukanlah sebuah kegagalan struktural. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari racun kesombongan.

Pohon yang menjulang tinggi ke langit selalu memiliki akar yang menghujam jauh lebih dalam ke dalam kegelapan tanah. Kekuatan batang dan kemanisan buah di atas permukaan sangat ditentukan oleh seberapa kokoh akar tersebut mencengkeram bumi dalam kesunyian. Jangan takut menjadi sunyi. Nikmati proses inkubasi Anda, hancurkan cangkang ego, dan biarkan takdir menumbuhkan Anda ke permukaan pada waktu yang tepat dengan kualitas yang matang sempurna. Wallahua’lam bish-shawab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *