Images (1)

Hikmah Kesembilan: Karunia Allah, Suasana Bathin dan Amal Kita

Oleh Ustadz Agus Sutisna

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ

“Beragamnya jenis amal-amal itu disebabkan oleh beragamnya warid-warid (yang turun) pada ahwal-ahwal (hamba-Nya).”

Perjalanan spiritual masing-masing kita sebagai hamba yang dhoif ditandai oleh keragaman bentuk ekspresi kedekatan dalam hubungan dengan Allah. Setelah melampaui kewajiban-kewajiban standar seperti sholat, zakat, dan puasa atau ibadah-ibadah mahdhoh lainnya, ada diantara kita yang kemudian terlihat menjadi seorang yang sangat dermawan, sangat wara’ atau larut dalam dzikir yang nyaris tanpa jeda.

Dalam pandangan Ibnu ‘Atho’illah situasi yang demikian itu adalah sesuatu yang lumrah. Situasi itu terjadi karena adanya keragaman suasana bathin (ahwal) setiap orang kemana ilham atau sentuhan spiritual Allah (waridat) hadir. Dalam cara pandang bahwa manusia memiliki kebebasan memilih (free will) yang terbatas, suasana bathin ini menjadi “pengundang” hadirnya jenis-jenis waridat Allah.

Ahwal atau suasana bathin itu misalnya khauf (takut), roja’ (berharap), syauq (kerinduan yang mendalam), mahabbah (cinta yang teramat sangat) atau tumaninah (rasa tenang). Tentu yang dimaksud adalah dalam konteks relasi kita dengan Allah. Sedangkan Waridat adalah karunia Allah berupa pencerahan spiritual yang dialami seseorang.

Dalam Al Quran penggalan Surat Al Fushilat ayat 35 misalnya, Allah secara implisit mengungkapkan mekanisme Ilahiyah ini :

وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ

“Tidak dianugerahkan (kebaikan, sifat-sifat yang baik) itu melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak (pula) dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”

Sabar dalam ayat tersebut diatas adalah ahwal manusia, sedangkan kebaikan (hasanah) merupakan waridat. Allah menurunkan kebaikan sebagai bentuk waridat kepada seseorang karena ahwal sabarnya. Di dalam Al Quran Surat Al Fath ayat 4, Allah juga berfirman :

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)…”

Dalam ayat ini, ketenangan (Sakinah) adalah waridat yang dapat menambah kadar keimanan seseorang yang Allah anugrahkan kepada siapa saja yang didalam hatinya telah tertanam keimanan.

Dalam Hikmah Kesembilan kitab Hikam kedua contoh tersebut sejatinya akan tercermin dalam amal keseharian seseorang, yakni perbuatan lahiriah yang mengandung segala bentuk kebajikan (virtue) Ilahiyah.

Amal berupa memperbanyak Istighfar saban waktu, sholat taubat sambil menangis setiap malam, dan menjauhi segala bentuk maksiat misalnya, adalah bentuk ekspresif khouf (takut akan adzab Allah) sebagai waridat-Nya.

Larut dalam dzikir, mengingat Allah dan munajat kepada-Nya tanpa mengenal lelah adalah amal yang lahir dari mahabbah (kecintaan mendalam) kepada Allah.

Demikian halnya ketika seseorang setelah melampaui kewajiban-kewajiban atau fardhu ‘ainnya seperti sholat dan puasa; ia rajin berderma, sodaqoh, berbagi, dan segala bentuk aktifitas kepedulian dan empati sosial dalam kehidupan kesehariannya, itu semua adalah bentuk waridat yang Allah hadirkan dari salah satu sifat agung-Nya yakni Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang).

Akhir kalam. Berikhtiarlah untuk terus semakin memahami sifat-sifat mulia dan agung Allah SWT, menghayati, serta menjadikannya sebagai dasar untuk membangun dan menghidupkannya dalam suasana bathin (ahwal). Karena hanya dengan cara demikian waridat-waridat yang terbaik dari Allah akan turun dan membentuk amalan-amalan mulia keseharian kita (Bersambung).

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *