01gtszx7xyjr258e1mdatrd2s8

Hikmah Ketiga: Ikhtiar Wajib, Hasilnya Hak Ekslusif Allah

Ustadz Agus Sutisna

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

سَوَابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ

“Himmah yang kokoh takkan mampu menembus dinding takdir.”

Dalam Hikmah Ketiga, Ibnu ‘Atho’illah membahas tentang ikhtiar manusia di hadapan Taqdir Allah SWT. Premis aforistiknya sederhana, bahwa Himmah seseorang, bahkan yang sangat kuat sekalipun takkan mampu menembus batas taqdir.  Himmah adalah tekad, semangat mulia, atau cita-cita tinggi. Aswar al-Qodar adalah dinding atau batas taqdir yang Allah tetapkan untuk setiap manusia.

Melalui aforisma ini Ibnu ‘Atho’illah mengingatkan kepada kita, bahwa pada akhirnya segala ikhtiar yang dilakukan oleh setiap manusia mutlak bergantung pada ketetapan Allah. Namun demikian, Himmah tetap penting sebagai energi spiritual. Hanya saja setiap ikhtiar dan tekad untuk mewujudkannya harus selalu disertai dengan kesadaran penuh bahwa hasil akhir tetaplah berada dalam genggaman Allah SWT.

Perihal Taqdir atau ketetapan Allah, didalam Sunan Abu Dawud Rahimahullah, Ubâdah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu mengabarkan, bahwa dirinya pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makhluk yang Allâh ciptakan pertama kali adalah al-qalam (pena). Kemudian Allâh berfirman kepadanya, “Tulislah!”. Lalu dia (pena) bertanya, “Wahai Rabb-ku, apa yang akan aku tulis?” Allâh berfirman, “Tulislah ketetapan takdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.

Dan didalam Al Quran, tersebar di banyak surat dan ayat, Allah memang telah menegaskan perihal kehendak dan ketetapanNya. Sebagaimana misalnya dalam Surat Ar-Ra’ad ayat 39 :

يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُۚ وَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ

Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul-Kitāb (Lauh Mahfuz).”

Kemudian didalam Surat Al Insan ayat 30 :

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ

“Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Namun demikian, ikhtiar juga harus dilakukan sebagaimana Allah isyaratkan dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11 :

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka…” 

Dengan kata lain, sejatinya ikhtiar adalah sesuatu yang wajib dilakukan dengan tetap memegang teguh kesadaran bahwa hasil akhirnya adalah hak ekslusif Allah. Dalam konteks kesadaran ini, Himmah tanpa disertai sikap ridha pada takdir potensial akan melahirkan keputusasaan. Sebaliknya, Himmah yang disertai pasrah (tawakal) akan melahirkan ketenangan bathin.

Di era yang serba kompetitif dengan serbuan kebutuhan, kepentingan dan ambisi keseharian, entah itu berkenaan dengan profesi, cita-cita, popularitas atau syahwat kuasa, kita seringkali hanya fokus pada ikhtiar dan yakin bahwa semata-mata dengan ikhtiar itulah keinginan, mimpi-mimpi, obsesi-obsesi dan ambisi bisa diwujudkan.

Kita lupa, atau bahkan mungkin tidak pernah mengerti bahwa sekeras apapun ikhtiar dan tekad untuk meraih sesuatu, sesungguhnya tetaplah dalam koridor kuasa dan kehendak Allah. Dialah yang memiliki takaran ruang dan waktu serta kepantasan seseorang dipertemukan dengan hasil setiap usaha dan tekadnya.

Akibatnya, ketika keinginan dan cita-cita serta mimpi-mimpi dan obsesi atas sesuatu gagal diraih (padahal telah berusaha sangat maksimal untuk mewujudkannya) kita marah, kecewa, stress bahkan akhirnya menjadi fatalis : frustasi akut dan berkepanjangan.

Pada titik inilah, hikmah ketiga Ibnu ‘Atho’illah menjadi penting dan relevan untuk dimuhasabahi dalam setiap kali kita berikhtiar meraih dan mewujudkan suatu kebutuhan, keinginan, cita-cita atau mimpi-mimpi, terkait apapun. Sekali lagi, bahwa “Himmah yang kokoh takkan mampu menembus dinding takdir.”

Tentu saja, bukan untuk menjadi orang yang pasif, apalagi berhenti berikhtiar atau mengubur setiap cita-cita, mimpi-mimpi atau keinginan. Melainkan tetap nenghidupkan cita-cita itu, mimpi-mimpi itu, keinginan-keinginan itu, dengan usaha dan tekad yang kuat, namun sambil menyadari bahwa hasil akhir setiap ikhtiar kita tetaplah merupakan otoritas ekslusif Allah SWT.

Dalam konteks itulah, doa dan roja (pengharapan) penting untuk kita sertakan dalam setiap usaha yang kita jalani. Karena doa dapat mengubah sebagian taqdir Allah (taqdir Mu’allaq). Sebagaimana hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah :

“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.”

Merujuk pada Atsar Umar bin Khatab, dengan doa “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).” Jadi, memohon sebagai substansi berdoa kepada Allah bukanlah menolak dan lari dari taqdir, melainkan (justru) merupakan ekspresi kecerdasan theologis dari kesadaran perihal relasi taqdir dan ikhtiar. (Bersambung).

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *