Photo 1492176273113 2d51f47b23b0

Hikmah Pertama: Bersandarlah Hanya Kepada Rahmat Allah

Ustadz Agus Sutisna

 مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

“Salah satu tanda bergantungnya seseorang kepada amalnya adalah kurangnya roja’ (harapan terhadap rahmat Allah) tetkala ia mengalami kegagalan (dosa).”

Inilah hikmah pertama dari untaian aforisma Ibnu ‘Atha’illah Asy-Syakandari dalam kitab Al Hikam, salah satu masterpiece (karya agung) dalam literatur Tasawuf. Hikmah ini membuka pintu besar dalam jalan suluk untuk membedakan antara bersandar pada amal dan bersandar pada Allah. Ibn ‘Atha’illah mengingatkan bahwa ketika harapan (roja’) kita runtuh karena kesalahan yang dilakukan, itu pertanda bahwa kita terlalu bergantung pada amal, dan bukan pada rahmat-Nya.

Dalam tasawuf, amal bukanlah tujuan, melainkan wasilah. Amal adalah persembahan, bukan sandaran. Ketika salik (para pejalan yang sedang menempuh rute spiritual untuk mendekatakan diri kepada Allah) merasa hancur karena tergelincir, dan harapannya hilang, maka ia telah menjadikan amal sebagai pusat, bukan Allah sebagai sumber harapan. Ini merupakan kekeliruan yang harus segera dikoreksi.

Makna spiritual dari hikmah ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa rahmat Allah tidak tergantung pada kesempurnaan amal. Sebagaimana firman Allah:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘rāf: 156)

Ibn Atha’illah ingin membentuk paradigma ruhani yang jujur: bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan pintu untuk kembali. Harapan yang tetap menyala di tengah kesalahan adalah tanda bahwa hati masih terhubung dengan sumber Rahmat, yakni Allah SWT.

Di era digital, banyak orang hidup dalam tekanan performa: harus sempurna, harus konsisten, harus berhasil. Ketika gagal, mereka merasa tidak layak. Hikmah ini menjadi kritik terhadap spiritualitas performatif yang mengukur nilai diri dari amal lahiriah.

Dalam budaya algoritma, amal sering dipahami sebagai “output” yang harus optimal. Padahal, dalam tasawuf, amal adalah ekspresi cinta, bukan angka-angka statistik dan algoritmik. Ketika salik tergelincir, ia tidak kehilangan harapan, karena ia tahu bahwa rahmat Allah lebih luas dari kesalahan yang dilakukannya.

Fenomena burnout spiritual, rasa tidak cukup baik, dan krisis makna di kalangan pencari jalan adalah gejala dari bersandar pada amal. Hikmah ini mengajak untuk kembali kepada tauhid: bahwa hanya Allah yang menjadi sandaran, bukan amal kita. Dalam konteks ini, firman Allah dalam Al Quran Surat Az-Zumar ayat 53 penting untuk selalu dihayati :

قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

“Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”

Atau salah satu sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim : “Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”

Hikmah ini mengajak kita untuk jujur dalam menempuh jalan ruhani. Ketika tergelincir, jangan putus asa. Justru di situlah ruang kejujuran dibuka. Harapan yang tetap menyala adalah tanda bahwa kita masih bersandar pada Allah, bukan pada amal.

Bagi pendidik, penulis, dan pencari makna, hikmah ini menjadi pelita. Ketika karya belum sempurna, ketika revisi datang bertubi-tubi, jangan biarkan harapan hilang. Karena yang kita cari bukan pujian, tapi keberkahan.

Dalam kehidupan digital, banyak yang merasa gagal karena tidak “cukup baik” secara spiritual. Hikmah ini mengajak untuk berhenti menilai diri dari amal, dan mulai menilai dari kejujuran dan kebergantungan. Karena Allah tidak melihat jumlah, melainkan niat dan kesungguhan berikhtiar yang dibalut dengan harapan (roja’) kepada Allah.

Bagi para salik, hikmah ini adalah panduan. Ketika tergelincir, jangan menyerah, lalu berhenti atau bahkan lari dari ikhtiar yang sedang dijalani. Hadapilah dengan jujur dan tegar hati, tetaplah dalam track ikhtiar yang sedang ditempuh. Karena rahmat Allah tidak pernah tertutup bagi yang kembali dengan hati hancur dan harapan yang tulus.

Akhir kalam. Hikmah pertama ini menjadi ajakan kepada siapa saja yang dengan penuh kesungguhan, sabar dan tulus menjalani ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah untuk menata ulang orientasi spiritual. Dari amal menuju rahmat, dari performa menuju kejujuran, dari obsesi kesempurnaan menuju kesadaran bahwa diantara kelemahan dan serba kekurangan kita sebagai manusia ada rahmat Allah yang mahaluas, yang selalu terbuka untuk digapai. Inilah langkah awal salik dalam menempuh jalan yang diajarkan Ibn ‘Atha’illah Asy-Syakandari. (Bersambung).

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *