Oleh Ustadz Agus Sutisna
MUKADDIMAH
إِلٰهِي أَنْتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي
“Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan keridhaan-Mu adalah yang aku cari.”
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي نَوَّرَ قُلُوبَ أَوْلِيَائِهِ بِنُورِ ٱلْـحِكْمَةِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَ ٱلْفَهْمِ وَٱلْـمَعْرِفَةِ، وَصَلَّى ٱللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٱلَّذِي بَلَّغَ ٱلرِّسَالَةَ وَأَدَّى ٱلْأَمَانَةَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَـنَسْأَلُ ٱللَّهَ ٱلْـكَرِيمَ أَنْ يَجْعَلَ هٰذَا ٱلْـعَمَلَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ، وَأَنْ يَفْتَحَ لَنَا أَبْوَابَ ٱلْـفَهْمِ وَٱلْـحِكْمَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَ كَلِمَاتِ ٱلْـحِكَمِ نُورًا لِقُلُوبِنَا فِي زَمَانٍ ٱلْـفِتْنَةِ وَٱلْـغَفْلَةِ.
Segala puji bagi Allah yang telah menerangi hati para wali-Nya dengan cahaya hikmah, membuka bagi mereka pintu pemahaman dan makrifat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ yang telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Adapun setelah itu, kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menjadikan karya ini ikhlas karena-Nya, membuka bagi kami pintu pemahaman dan hikmah, serta menjadikan kalimat-kalimat hikmah sebagai cahaya bagi hati kami di zaman fitnah dan kelalaian.
Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk dunia digital, manusia modern kerap kehilangan ruang sunyi untuk merenung. Kegelisahan bukan lagi sekadar fenomena psikologis, melainkan gejala spiritual yang merambat ke dalam relung terdalam eksistensi. Dalam lanskap ini, jalan tasawuf bukanlah pelarian, melainkan peneguhan arah. Ia hadir sebagai kompas ruhani yang menuntun manusia kembali kepada pusat makna, yakni Tuhan.
Tasawuf, sebagai jalan penyucian jiwa, telah lama menjadi warisan agung dalam khazanah peradaban Islam. Namun, di era algoritma dan performativitas digital, Tasawuf menghadapi tantangan baru. Yakni bagaimana ia tetap relevan tanpa kehilangan kedalaman.
Diantara kitab-kitab Tasawuf terutama yang biasa dikaji di lingkungan pesantren-pesantren di Nusantara, Al–Ḥikam karya Ibnu Atho’illah As-Syakandari menjadi salah satu rujukan utama yang menyediakan untaian jawaban atas kegelisahan manusia modern. Tentu saja, Al Hikam tidak menawarkan solusi instan. Melainkan mengajak pembaca untuk menyelami hikmah, mengelola batin, dan menempuh jalan salik dengan kesadaran penuh.
Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn ‘Atho’illah, “Janganlah engkau merasa gelisah karena keterlambatan pemberian, tetapi gelisahlah jika engkau tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa” (al-Ḥikam, Pasal ke-6). Hikmah ini mengandung resonansi mendalam bagi generasi yang terbiasa dengan kecepatan dan instan. Ia mengajarkan bahwa spiritualitas bukan soal hasil, melainkan proses yang penuh kesungguhan dan keikhlasan.
Artikel ini merupakan Mukaddimah buku yang memuat ikhtiar membingkai urgensi jalan tasawuf di era digital dan kontemporer. Bukan untuk mengidealisasi masa lalu, tetapi untuk menghadirkan ruhnya ke dalam realitas terkini. Jalan salik bukanlah nostalgia, melainkan praksis kontemporer yang membentuk karakter, kesadaran, dan orientasi hidup. Dalam konteks ini, al-Ḥikam menjadi teks yang hidup, bukan sekadar bacaan klasik.
Harapan dari penyusunan syarah ini adalah agar pembaca, khususnya generasi muda, dapat menemukan kembali makna spiritualitas yang autentik. Bukan spiritualitas yang dikomodifikasi, tetapi yang berakar pada kejujuran batin dan kedekatan dengan Tuhan. Sebagaimana diungkapkan oleh al-Ghazaly, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (Ghazālī, 2005). Hikmah-hikmah Ibnu ‘Atho’illah menjadi cermin untuk mengenali diri, dan melalui itu, kemudian mengenali Tuhan.
Era digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, berpikir, dan merasa. Namun, kebutuhan akan makna tetap abadi. Dalam konteks ini, pendekatan tasawuf yang reflektif dan kontekstual menjadi sangat relevan. Seperti yang ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, “Kegelisahan modern adalah akibat dari kehilangan adab dan kekacauan dalam ilmu” (al-Attas, 1993). Maka, syarah ini juga menjadi ikhtiar untuk mengembalikan adab dalam memahami teks dan realitas.
Mukaddimah ini juga menjadi ruang untuk menegaskan bahwa spiritualitas bukanlah domain eksklusif para sufi, tetapi kebutuhan universal manusia. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, hikmah menjadi jembatan antara batin dan lahir, antara tradisi dan inovasi. Maka, syarah kontemporer ini mengajak pembaca untuk hadir sepenuhnya dalam setiap hikmah yang disajikan.
Dengan pendekatan naratif-reflektif, syarah ini tidak hanya menjelaskan makna teks, tetapi juga berupaya mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Analogi, kutipan, dan refleksi praktis menjadi bagian integral dari proses pemahaman. Harapannya, pembaca tidak hanya memahami, tetapi mengalami hikmah sebagai jalan hidup. Sebagaimana Ibn ‘Atho’illah menulis, “Ilmu yang tidak mengantarkan kepada makrifat adalah hijab, bukan cahaya” (al-Ḥikam, Pasal ke-112).
Akhir kalam, mari kita menempuh jalan salik bersama Ibn ‘Aṭho’illah, bukan sebagai pengikut pasif, tetapi sebagai pencari aktif. Di tengah zaman yang kian gelisah, hikmah menjadi lentera. Dan lentera itu, insyaAllah, akan kita nyalakan bersama dalam setiap syarah dari jejak hikmah dan untaian tawsiyah Mahaguru Ibnu Atho’illah As-Syakandari.
(Bersambung)
