الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَدِيمِ الْجَبَّارِ، الْقَادِرِ الْعَظِيمِ الْقَهَّارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمُتَعَالِي عَنْ دَرَكِ الْخَوَاطِرِ وَالْأَفْكَارِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ الْأَطْهَارِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَبْرَارِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Karena hanya dengan takwa, hati akan mampu melihat hakikat kehidupan dunia yang sering menipu pandangan manusia. Berapa banyak manusia yang tampak berhasil di dunia, namun gagal di akhirat; dan berapa banyak yang tampak miskin di dunia, namun dimuliakan di sisi Allah. Allah SWT menegur manusia dalam firman-Nya:
“اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ”
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan sekadar informasi, tapi peringatan keras agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Kata “اعْلَمُوا” (ketahuilah) adalah seruan untuk menyadarkan, bukan sekadar memberitahu. Allah ingin membuka mata hati manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah sandiwara sementara tempat ujian, bukan tujuan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Para mufassir menjelaskan bahwa ketika Allah menyebut dunia sebagai لَعِبٌ (permainan) dan لَهْوٌ (senda gurau), itu menunjukkan bahwa dunia sering melalaikan manusia dari tujuan sejatinya: beribadah kepada Allah. Sebagaimana anak kecil tenggelam dalam permainan dan lupa waktu, banyak orang dewasa tenggelam dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).
Artinya, bagi orang beriman, dunia ini tempat perjuangan, bukan tempat bersenang-senang. Dunia bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan menuju keabadian.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Kemudian Allah berfirman: “زِينَةٌ” perhiasan. Dunia ini dihiasi agar tampak indah di mata manusia: harta yang banyak, rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan popularitas. Namun semua itu hanyalah hiasan luar. Imam Ibn Katsir berkata,
“Dunia dihiasi agar menguji manusia: siapa yang tertipu olehnya dan siapa yang menggunakannya untuk mencari ridha Allah.”
Saudaraku, berapa banyak orang yang rela menggadaikan akhiratnya demi perhiasan dunia?
Ia menumpuk harta tanpa peduli halal haram, mengejar jabatan dengan cara yang batil, bahkan mengorbankan ibadah demi kesenangan sesaat. Padahal semua itu akan lenyap bersama waktu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Allah melanjutkan:
“وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ”
“Saling bermegah-megahan di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan keturunan.”
Inilah penyakit hati yang merusak zaman kita: pamer dan persaingan duniawi.
Dulu orang bermegah-megahan dengan istana dan pakaian, sekarang orang berlomba-lomba menampakkan gaya hidup di media sosial memperlihatkan apa yang mereka miliki, bukan apa yang mereka amalkan. Kita sibuk menghitung “likes” dan “followers”, tapi lupa menghitung amal baik dan istighfar.
Padahal Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal saleh yang kekal lebih baik di sisi Tuhanmu sebagai pahala dan harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam lanjutan ayat ini, Allah membuat perumpamaan:
“Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, kamu lihat warnanya kekuningan, lalu hancur.”
Perumpamaan ini luar biasa. Dunia memang indah di awal seperti tanaman hijau segar setelah hujan. Tapi lama-lama layu, menguning, dan hancur menjadi tanah.
Begitulah kehidupan kita: masa muda bergairah, masa tua melemah, lalu berakhir di liang lahat. Semua yang kita banggakan jabatan, wajah, dan kekayaan akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah selembar kain kafan dan amal perbuatan.
Untuk itu, agar kita tidak tertipu oleh dunia, Rasulullah SAW memberi tiga pedoman: Pertama, Ingat kematian. Sabda beliau:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi). Mengingat mati menjadikan kita bijak menempatkan dunia.
Kedua, Gunakan dunia untuk akhirat. Bekerjalah, berniagalah, dan berkeluargalah dengan niat mencari ridha Allah. Dunia ini ladang akhirat, bukan tempat tinggal abadi.
Terkakhir, Hidup sederhana dan bersyukur. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana‘ah dengan apa yang diberikan.” (HR. Muslim).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Ke II
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا
اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
