Download

Kisah Shalat Ghaib Pertama: Ketulusan Raja Najasyi dan Penghormatan Rasulullah SAW

Suatu pagi di Madinah, suasana mendadak diselimuti duka. Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabatnya dengan wajah yang penuh kesedihan untuk mengabarkan berita kematian. Namun, kali ini yang wafat bukanlah penduduk kota Madinah ataupun salah seorang sahabat yang berada di dekat mereka.

Beliau bersabda, “Hari ini telah wafat seorang saudara kalian yang shalih dari negeri seberang.” Kabar tersebut membuat para sahabat tertegun, sebab sosok yang dimaksud berada di tempat yang sangat jauh, terpisah jarak lebih dari 1.000 kilometer di seberang lautan.

Sosok shalih yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah Ashamah An-Najasyi, sang Raja Habasyah (Ethiopia) di tanah Afrika. Di mata dunia saat itu, ia adalah seorang penguasa beragama Nasrani yang memimpin sebuah kerajaan besar. Ia bukanlah orang Arab, bukan pula kerabat dekat Nabi, bahkan secara lahiriah memiliki keyakinan yang berbeda dengan kaum Muslimin. Lantas, mengapa kepergiannya begitu menggetarkan hati Rasulullah ﷺ? Jawabannya bermula dari peristiwa bertahun-tahun sebelumnya.

Dulu, ketika kaum Muslimin di Makkah ditindas dan disiksa tanpa ampun oleh kaum kafir Quraisy, Nabi ﷺ memerintahkan sebagian dari mereka untuk berhijrah demi mencari perlindungan. Tujuan hijrah tersebut hanya satu: Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang dikenal sangat adil dan tidak pernah menzalimi siapa pun di sisinya. Sekelompok sahabat pun memberanikan diri menyeberangi lautan, meninggalkan tanah air tercinta demi bisa beribadah dengan aman. Setibanya di sana, mereka mengetuk pintu istana sang raja asing tersebut.

Melihat kaum Muslimin melarikan diri, kaum Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan diplomatik yang membawa hadiah-hadiah mewah ke istana Habasyah, menuntut agar para muhajirin (sebutan bagi kaum Muslimin yang berhijrah) diserahkan kembali kepada mereka untuk dihukum. Menanggapi tuntutan tersebut, Sang Raja bersikap adil dengan memanggil kaum Muslimin ke istana untuk memberikan penjelasan langsung dari kedua belah pihak.

Di hadapan singgasana kerajaan, Ja’far bin Abi Thalib bertindak sebagai juru bicara kaum Muslimin. Saat Raja Najasyi bertanya mengenai ajaran yang dibawa oleh nabi mereka, Ja’far maju dan membacakan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari awal Surat Maryam yang mengisahkan kesucian Maryam dan mukjizat kelahiran Nabi Isa Alaihis Salam.

Mendengar bait demi bait firman Allah tersebut, air mata Raja Najasyi mengalir deras hingga membasahi janggutnya dan menetes ke atas kitab suci di pangkuannya. Hatinya bergetar hebat karena menyadari kebenaran mutlak yang ada di dalamnya. Dengan penuh keyakinan, ia berkata, “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa keluar dari sumber cahaya yang sama.” Ia lalu menoleh tegas kepada utusan Quraisy dan mengusir mereka seraya berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian!”

Keesokan harinya, utusan Quraisy mencoba menghasut Raja kembali dengan mengatakan bahwa kaum Muslimin memiliki pandangan yang dianggap merendahkan tentang Nabi Isa. Raja pun kembali memanggil kaum Muslimin. Ketika ditanya, Ja’far bin Abi Thalib menjawab dengan tegas berdasarkan wahyu Al-Qur’an: “Kami mengatakan tentang Isa bahwa ia adalah hamba Allah, utusan-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang ditiupkan kepada perawan Maryam yang suci.”

Mendengar penuturan akidah tauhid yang murni tersebut, Raja Najasyi mengambil sebatang kayu kecil di tanah lalu berkata, “Demi Allah, apa yang kamu katakan tentang Isa tidak melampaui batas garis kayu ini.” Momen pengakuan akidah tauhid dan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ inilah yang menjadi titik balik utama Raja Najasyi memeluk Islam (mualaf) secara sembunyi-sembunyi di dalam hatinya.

Sang Raja memilih untuk melindungi kaum Muslimin yang lemah dan terasing itu di saat tidak ada satu pun penguasa lain di dunia yang mau menerima mereka. Ia bahkan rela mempertaruhkan hubungan diplomatik dan takhtanya demi mempertahankan keyakinan barunya dan melindungi sekelompok pendatang yang berbeda bangsa serta bahasa.

Tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslimin akhirnya telah kembali dari hijrah dan kota Madinah pun telah berdiri dengan kuat. Hingga pada suatu hari, tanpa ada surat ataupun utusan manusia yang membawa kabar, Rasulullah ﷺ mendapatkan wahyu langsung dari Allah SWT bahwa sang Raja adil itu telah wafat di negerinya. Allah memberitahukan kepergian hamba-Nya yang shalih tersebut secara langsung kepada Nabi. Tentu saja, Rasulullah ﷺ tidak ingin membiarkan jasa besar sang raja berlalu begitu saja tanpa penghormatan terakhir.

Rasulullah ﷺ segera keluar bersama para sahabat menuju ke sebuah tanah lapang. Beliau mengatur barisan para sahabat secara rapi layaknya shalat jenazah pada umumnya, lalu mengumandangkan takbir sebanyak 4 kali. Mereka semua menyalatkan jenazah seseorang yang jasadnya berada ribuan kilometer jauhnya di seberang lautan, jauh di tanah Afrika. Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi shalat ghaib pertama dalam sejarah Islam.

Sungguh sebuah kehormatan yang luar biasa. Seorang raja yang dahulu menyembunyikan keimanannya dan melindungi segelintir Muslim asing di istananya, kini jenajahnya disholati langsung oleh manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ, bersama para sahabat terbaiknya menembus batas jarak dan negeri. Kebaikan yang ditanam oleh Raja Najasyi secara diam-diam dibalas oleh Allah SWT dengan kemuliaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sungguh, tidak ada satu pun kebaikan yang akan hilang dan sia-sia di sisi Allah.

Pesan Berharga dari Kisah Raja Najasyi

Kita sering kali mengira bahwa kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan kepada orang lain akan berlalu begitu saja, tidak terlihat, bahkan tidak dihargai oleh dunia. Kita mungkin merasa lelah ketika harus membela orang yang terzalimi di saat orang-orang di sekitar memilih untuk diam. Kita merasa sendirian ketika melindungi mereka yang lemah di kala tidak ada satu pun orang yang peduli, atau ketika berbuat baik tanpa ada manusia yang mencatatnya.

Namun, kisah Raja Najasyi telah membuktikan hal yang sebaliknya. Satu kebaikan tulus yang ia tanam dengan penuh keberanian bertahun-tahun lalu, dibalas oleh Allah SWT dengan sebuah penghormatan agung yang menembus batas benua, jarak, bahkan menembus batas kematian itu sendiri.

Maka dari itu, jangan pernah sekalipun meremehkan kebaikan yang kamu kira sepele! Jangan pernah berhenti membela hal yang benar hanya karena tidak ada sepasang mata manusia yang melihat atau bibir yang memujimu. Teruslah menebar ketulusan, karena Allah SWT tidak pernah lupa. Balasan-Nya selalu nyata, dan cara-Nya memberikan balasan sering kali datang dengan cara yang indah serta jauh melampaui apa yang pernah kita bayangkan.

Sumber Rujukan Kisah:

  • Shahih Bukhari No. 1245, 1320, 3877

  • Shahih Muslim No. 951

  •   Instagram @daily.sirah
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *