Jejak Nurani Ustadz Agus Sutisna
Setiap kali Gaza dibombardir, Tepi Barat digempur, dan Masjid Al-Aqsha dinodai, umat Islam di seluruh dunia bereaksi. Media sosial dipenuhi tagar solidaritas, mimbar-mimbar khutbah menyerukan doa, dan lembaga-lembaga zakat menggalang dana. Namun pertanyaannya tetap menggema: apakah solidaritas kita terhadap Palestina hanya berhenti pada retorika, atau sudah menjelma menjadi gerakan nyata?
Solidaritas sebagai Amanah Keimanan
Islam menempatkan solidaritas sebagai bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan cinta mereka bagaikan satu tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya.” (HR. Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan hanya tragedi regional, tetapi luka kolektif umat Islam. Maka, solidaritas bukan pilihan, melainkan sudah menjadi kewajiban spiritual, moral dan politik sekaligus.
Retorika Menggema, Aksi Masih Terbatas
Di banyak negara Muslim, solidaritas terhadap Palestina sering kali bersifat simbolik. Demonstrasi, pernyataan resmi, dan doa bersama memang penting, tetapi belum cukup. Banyak negara Arab justru menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, sementara bantuan kemanusiaan sering terhambat oleh birokrasi dan tekanan politik negara-negara Barat yang menjadi sekutu politik global mereka.
Menurut MUI, jihad Palestina bukan hanya pertempuran bersenjata, tetapi jihad kemanusiaan: membela tanah wakaf umat, menjaga Masjid Al-Aqsha, dan melawan penjajahan. Namun jihad ini harus diwujudkan dalam bentuk nyata: advokasi, pendidikan, bantuan sosial-ekonomi, dan terutama sikap politik yang tegas. Politik pemihakan dan pembebasan rakyat Palestina dari imperialisme Zionis Israel.
Gerakan Nyata: Dari Dana hingga Diplomasi
Di Indonesia, beberapa lembaga seperti BAZNAS, MER-C, dan KNRP telah menunjukkan bentuk nyata solidaritas. Mereka mengirimkan bantuan medis, kebutuhan pangan, pembangunan rumah sakit, dan advokasi internasional. Di tingkat masyarakat, kampanye digital, penggalangan dana, dan kajian tematik untuk menghidupkan terus solidaritas dan pembelaan terhadap Palestina kian tumbuh dimana-mana, terutama di kampus dan komunitas-komunitas umat Islam.
Dalam Surah An-Nisā’ ayat 75, Allah menyeru:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, wanita, dan anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya…’” (QS. An-Nisā’: 75). Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa membela Palestina adalah bagian dari jihad membela kaum tertindas.
Peran Pesantren dan Ulama dalam Menghidupkan Kesadaran
Ditengah konflik Arab-Israel yang entah sampai kapan, komunitas pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran umat. Kajian tematik tentang Palestina, khutbah Jumat yang menyentuh, dan literasi digital yang beradab bisa menjadi gerakan nyata sekaligus investasi politik pembelaan yang akan sangat berguna dalam perjuangan pembebasan Palestina. Ulama dan guru harus menjadi penjaga ruh solidaritas, bukan sekadar pengulang narasi.
MUI menyerukan agar jihad terhadap Palestina harus dimaknai sebagai jihad ilmu, doa, harta, dan sikap, terutama sikap politik. Ini membuka ruang bagi entitas-entitas pesantren dimanapun untuk menjadi pusat advokasi spiritual, sosial dan politik pembelaan.
Solidaritas bukan sekadar empati, tetapi tanggung jawab. Kita tidak cukup hanya bersedih, tetapi harus terus bergerak semakin masif. Dalam Surah Al-Mā’idah, Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2). Ayat ini menjadi panggilan untuk membangun gerakan kolektif: pendidikan, advokasi, dan bantuan yang berakar pada takwa dan keadilan.
Akhir kalam, Palestina bukan hanya isu politik, tetapi amanah spiritual. Solidaritas kita harus melampaui retorika dan menjelma menjadi gerakan nyata: dari ruang kajian ke ruang publik, dari doa ke diplomasi, dari empati ke aksi. Dan, sudah saatnya umat Islam tidak lagi hanya mengandalkan para pemimpin Arab yang sebagian diantara mereka terbutki lebih peduli dengan negaranya sendiri-sendiri dalam kaitan kepentingan politik global ketimbang sungguh-sungguh membela rakyat Palestina.
