Oleh Ustaz Agus Sutisna
Hari ini, 16 Januari 2026 bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriyah, kaum Muslimin memeringati salah satu peristiwa paling fenomenal dalam rangkaian sejarah peradaban Islam. Yakni peristiwa Isra Mi’raj.
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian Muhammad SAW yang menggabungkan dimensi horizontal (bumi) dan dimensi vertikal (langit). Peristiwa ini bukan sekadar sejarah yang statis, melainkan sumber mata air hikmah bagi mereka yang beriman dan berpikir. Isra Mi’raj mengandung sejumlah pesan penting bagi umat Islam. Berikut ini beberapa diantaranya.
Penegasan Keagungan Allah
Pesan pertama dari Isra Mi’raj adalah berkenaan dengan penegasan Allah tentang Kemahasucian dan Kemahaagungan-Nya yang tiada tara dan takkan pernah terbandingkan dengan kesucian dan keagungan siapapun. Penegasan ini Allah nyatakan dalam QS. aL-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam karya kontemporernya, Tafsir Al-Munir menjelaskan, frasa “Maha Suci” menunjukkan bahwa peristiwa ini berada di luar jangkauan hukum alam (sunnatullah) yang biasa. Melalui frasa ini Allah ingin menunjukkan bahwa bagi-Nya, tidak ada perbedaan antara jauh dan dekat. Allah tak terikat oleh dimensi ruang dan waktu karena Dia sendirilah pencipta ruang dan waktu itu.
Dengan elaborasi yang senafas, Ibnu Katsir dalam magnum opusnya, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim mengungkapkan bahwa frasa “Subhana ladzi” mewakili hakikat keagungan Allah yang tiada tara. Hanya Allah yang mampu memperjalankan (Isra) dari Mekkah (Arab Saudi) ke Yerusalem (Palestina) yang berjarak hampir 1.500 km), serta memfasilitasi kenaikan (Mi’raj) seorang hambaNya dari Palestina hingga langit ketujuh dalam waktu tak lebih dari semalam.
Abu Ishaq al-Tha’labi dalam karya klasiknya, Al-Kasyf wa Al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an melengkapi penjelasan makna dibalik frasa “Subhana ladzi” ini dengan ungkapan “keajaiban yang menakjubkan.” Keajaiban yang mustahil dilakukan oleh makhluknya, bahkan oleh kecanggihan teknologi yang paling mutakhir sekalipun.
Integrasi Ilmu dan Iman
Ketika berita Isra Mi’raj tersebar, masyarakat Quraisy menyerang Rasulullah dengan logika materialisme dan empirisme. Namun kala itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan standar baru dalam beragama. Kepada para sahabat dan koleganya, dalam sebuah hadits Abu Bakar menegaskan tanpa ragu :
“Jika ia (Muhammad) yang mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar. Bahkan aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu, yakni berita langit (wahyu).” (HR. Al-Hakim).
Inilah pesan kedua dari peristiwa Isra Mi’raj yang relevan dengan modernitas yang ditandai oleh keserbacanggihan teknologi saat ini. Bahwa tidak semua kebenaran harus dapat diindrai. Ada kebenaran khabariyyah (berdasarkan wahyu), kebenaran transenden yang melampaui rasio atau alam pikir manusia, yang berada diluar fenomena empirik dan inderawi. Ini adalah bentuk The Power of Belief yang menjadi pondasi umat Islam.
Dalam konteks ini, peristiwa Isra Mi’raj adalah ujian keimanan bagi setiap umat Islam, bukan hanya ketika peristiwa dahsyat itu terjadi belasan abad silam. Namun juga saat ini dan kedepan, terutama mengingat perkembangan dahsyat ilmu pengetahuan dan tekonlogi yang tanpa sadar dapat melahirkan gejala pemberhalaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Simbolisme Estafeta Kepemimpinan
Pesan ketiga Isra Mi’raj mengandung dimensi geopolitik dan spiritualisme. Perjalanan dari Makkah ke Palestina membawa pesan geopolitik dan spiritual. Ini adalah simbolisasi estafet kepemimpinan dunia dari Bani Israil ke umat Muhammad SAW.
Dalam karya fenomenalnya, Fi Zilalil Qur’an, Sayyid Qutub menyatakan bahwa keterhubungan dua masjid suci ini (Mesjidil Haram dan Mesjid Al Aqsho) menandakan bahwa Islam adalah agama yang merangkum seluruh risalah samawi. Bagi umat Islam ini adalah pesan untuk menjaga solidaritas global terhadap kesucian Masjidil Aqsa sebagai bagian tak terpisahkan dari akidah sekaligus peradaban Islam.
Shalat dan “Mi’rajul Mu’minin”
Pesan terakhir berkenaan dengan perintah Sholat yang diterima Rosulullah dari Allah SWT. Berbeda dengan syariat lain yang turun melalui perantara Malaikat Jibril di bumi, shalat diterima langsung oleh Rasulullah di Sidratul Muntaha.
Dalam sebuah Majazi, para ulama sufi kerap menungkapka, bahwa :
الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Shalat itu adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman.”
Dalam perspektif Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, shalat adalah saat di mana seorang hamba “lepas landas” dari kesibukan duniawi menuju hadirat Ilahi. Jika Rasulullah menembus tujuh lapis langit secara fisik, maka seorang Muslim menembus sekat-sekat nafsu melalui sujudnya. Melalui shalat yang khusyuk dan iman yang kokoh, setiap individu memiliki kesempatan untuk mencapai “puncak spiritual” masing-masing.
Akhir kalam. Kiranya melalui peringatan Isra Mi’raj ini menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbaiki kualitas pengabdian kepada Allah SWT dan kontribusi kepada kemanusiaan. Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis adalah Founder dan Ketua Yayasan Podiumm Pesantren Nurul Madany
