Oleh Ust. H. Agus Sutisna, S.IP,.M.Si.
Hari ini, babak baru sejarah pesantren dan “ngelmu” kembali dimulai. Pesantren tidak lagi sepi. Ia kembali hidup karena kehadiran jiwa-jiwa muda yang datang membawa tekad besar di dadanya untuk menanam tonggak awal perjalanan menuju masa depan yang gemilang.
Selamat bergabung, selamat pulang kembali ke Nurul Madany. Kalian adalah putra-putri terpilih yang melangkahkan kaki ke tempat ini bukan sekadar untuk menuntut ilmu duniawi. Melainkan untuk menempa diri menjadi pribadi yang kokoh di atas jalan Allah.
Di setiap sudut koridor, asrama, ruang kelas, mesjid, bahkan halaman pesantren ini, kelak akan bergema lantunan ayat suci Al-Qur’an serta diskusi-diskusi ilmiah yang akan mengasah kecerdasan intelektual sekaligus menghidupkan kemuliaan akhlak kalian.
Di sinilah, kalian akan belajar bagaimana menyelaraskan antara kecerdasan akal dan kebersihan hati. Kami menyambut kalian dengan tangan terbuka dan doa yang tulus, berharap agar semangat yang kalian bawa hari ini tetap menyala hingga masa tertentu di fase perjuangan nanti. Selamat berproses dalam lingkaran keberkahan, wahai pejuang ilmu. Mari kita mulai perjalanan ini dengan niat yang murni: lillahi ta’ala.
Untuk kalian Santri Baru yang Mulai Melangkah
Bagi kalian yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini, selamat datang di rumah kedua kalian. Kami tahu, ada sejuta rasa yang berkecamuk di dalam dada.
Ada rasa rindu rumah yang mulai menyergap, ada kebingungan menghadapi lingkungan baru, dan mungkin ada tetesan air mata yang tertahan saat bersalaman pamit dengan orang tua siang atau sore nanti. Ketahuilah Nak, air mata dan rasa asing itu adalah hiasan pertama dari sebuah perjuangan besar.
Setiap kali rasa sepi itu datang menyergap di sepertiga malam nanti, ingatlah wajah ayah yang melepaskanmu dengan senyum bangga. Dan tataplah mata bunda kalian yang barangkali saat ini sedang diam-diam mendoakanmu di setiap sujudnya.
Sadarilah, mereka tidak sedang membuangmu. Mereka sedang menitipkan hartanya yang paling berharga ke taman surga ini agar kelak kalian tumbuh menjadi pohon yang rindang, yang menaungi keluarga dengan keberkahan ilmu dan amal sholeh kalian.
Pesantren ini memang belum terasa seperti rumah, namun ketahuilah bahwa setiap sudut kamar, setiap jengkal sajadah, dan setiap untaian doa dari para guru di sini akan menjadi saksi lahirnya versi terbaik dari diri kalian.
Di sini, kalian akan belajar bahwa kemandirian bukanlah sebuah siksaan, melainkan anak tangga pertama menuju kedewasaan yang hakiki. Mengantre air wudu, ambil makan yang juga ngantri, dan berbagi ruang dengan teman-teman dari berbagai penjuru daerah adalah cara Allah melembutkan ego kalian.
Jangan takut jika awalnya terasa berat, karena besi yang paling kuat pun harus melewati tempaan api yang sangat panas sebelum menjelma menjadi pedang yang tajam atau tombak yang digdaya. Kalian tidak sendirian. Kami semua ada di sini untuk berjalan beriringan bersama kalian.
Untuk kalian Santri Lama yang Kembali Menjaga Nyala Api
Bagi kalian yang kembali setelah melepas rindu di kampung halaman, selamat datang kembali di medan perjuangan. Liburan telah usai, dan kini saatnya menata kembali niat yang mungkin sempat mengendur atau memudar karena lingkungan yang tak ramah “ngelmu”.
Kalian adalah kakak, cermin, dan pelindung bagi adik-adik baru kalian. Jadilah teladan yang hangat. Tunjukkan kepada mereka bahwa kehidupan pesantren adalah kehidupan yang indah, penuh kemandirian, dan sarat akan keberkahan. Ingatlah kembali cita-cita awal saat kalian pertama kali datang dulu, dan jadikan tahun ini sebagai langkah yang lebih dekat menuju mimpi indah tersebut.
Kembalinya kalian ke sini adalah bukti keteguhan iman yang luar biasa. Di luar sana, angin dunia bertiup begitu kencang dengan segala hiruk-pikuk dan kelalaiannya. Namun kalian memilih untuk kembali bersimpuh di depan meja kecil, menghadap kitab suci, dan menghidupkan malam-malam dengan bait-bait hafalan dan tahajud.
Bersyukurlah karena Allah masih memilih hati kalian untuk menjadi wadah bagi ilmu-ilmu syariat-Nya, sebuah hak istimewa yang tidak diberikan kepada setiap anak muda di zaman ini.
Kini, tugas kalian bukan lagi sekadar belajar untuk diri sendiri, melainkan menjaga atmosfer kesalehan di pondok ini tetap hidup. Tataplah wajah adik-adik baru kalian. Mereka melihat gerak-gerikmu, caramu berbicara, dan caramu menghormati guru sebagai kompas pertama mereka.
Jadilah telaga yang menyejukkan bagi kebingungan mereka, dan jadilah mercusuar yang membimbing mereka saat mereka mulai meraba-raba indahnya kehidupan menjadi seorang santri.
Menyatukan Langkah dalam Keberkahan
Esok hari dan hari-hari selanjutnya, fajar akan menyingsing dan bunyi bel subuh akan kembali memanggil kalian. Semua akan mengantre wudu bersama, bersujud dalam barisan yang rapat, lalu menundukkan kepala menyimak bait demi bait ilmu dari guru-guru kalian.
Di pesantren ini, kalian belajar bahwa kemuliaan tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari seberapa bersih hati kita dan seberapa bermanfaat ilmu kita.
Proses itu tidak akan selalu mudah. Akan ada malam-malam yang melelahkan, hafalan yang terasa berat, dan kejenuhan yang datang menyapa. Namun, justru di situlah letak mahalnya sebuah berkah. Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil.
Mari kita buka tahun ajaran ini dengan kelapangan hati, niat yang tulus karena Allah SWT, dan semangat yang tak padam. Mari saling menggenggam tangan. Kalian yang senior membimbing yang junior, dan yang junior menghormati yang senior.
Selamat bergabung para generasi Rabbani yang baru. Selamat datang kembali para santri lama. Selamat berjuang semuanya, para penjaga amanah agama, umat dan bangsa.
Untuk para orang tua dan walisantri, terima kasih sudah mengantarkan putra-putrinya ke Nurul Madany: Rumah Generasi Rabbani, Cerdas, dan Berakhlah mulia. InsyaAllah.
Dan jangan pernah bosan untuk melangitkan doa-doa bapak dan ibu sepanjang waktu untuk keberhasilan putra-putrinya, sekaligus untuk kemaslahatan dan keberkahan pesantren kita bersama.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ،ََ أَسْتَغْفِرُك وَأَتُوبُ إِلَيْك
“Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
