Images

Syarah Kontemporer Kitab Hikam As-Syakandari (1)

Oleh Ustadz Agus Sutisna

Biografi Singkat Ibnu ‘Aṭā’illah as-Syakandari

Ibnu ‘Aṭā’illah as-Syakandari (w. 709 H/1309 M) adalah seorang sufi besar dari tarekat Syādhiliyyah yang lahir di Iskandariyyah (Alexandria), Mesir. Beliau hidup pada masa Dinasti Mamluk dan dikenal sebagai murid dari Abū al-‘Abbās al-Mursī, yang merupakan penerus langsung dari Abū al-Ḥasan al-Shādhilī. Ibn ‘Aṭā’illah tidak hanya dikenal sebagai seorang sufi, tetapi juga sebagai ulama fikih dan ahli retorika yang mengajar di al-Azhar dan Madrasah al-Manṣūriyah.

Karya-karyanya mencerminkan kedalaman spiritual dan kecermatan intelektual. Di antara karya terkenalnya adalah al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, Tāj al-‘Arūs, dan Laṭāʾif al-Minan. Dalam setiap tulisannya, beliau menekankan pentingnya keikhlasan, ketundukan kepada kehendak Ilahi, dan pengenalan terhadap kelemahan diri sebagai pintu makrifat. Sebagaimana ditegaskan oleh beliau, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain kesadaran akan kelemahan diri” (Ibn ‘Aṭā’illah, n.d.).

 Posisi Kitab al-Ḥikam dalam Khazanah Tasawuf

Kitab al-Ḥikam menempati posisi istimewa dalam khazanah tasawuf Islam. Ia bukanlah kitab sistematis yang menjelaskan teori tasawuf secara akademik, melainkan kumpulan aforisme yang padat makna dan sarat pengalaman ruhani. Setiap hikmah adalah lentera yang menerangi jalan salik, mengajak pembaca untuk tidak bersandar pada amal, tetapi pada rahmat Allah. Hikmah-hikmah ini ditulis dalam bahasa Arab yang indah, ringkas, namun dalam, menjadikannya mudah diingat dan direnungkan.

Dalam tradisi pesantren dan kajian sufistik, al-Ḥikam sering dijadikan teks utama dalam halaqah ruhani. Ia menjadi pengantar bagi salik pemula maupun pendalaman bagi murid yang telah menempuh jalan panjang. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Ghazālī, “Ilmu yang tidak mengantarkan kepada makrifat adalah hijab, bukan cahaya” (Ghazālī, 2005). Maka, al-Ḥikam hadir sebagai cahaya yang menyingkap hijab, bukan sekadar ilmu yang menambah beban intelektual.

Posisi kitab ini juga diperkuat oleh para ulama dan sufi lintas zaman. Syekh ‘Abd al-Fattāḥ Abū Ghuddah menyebut al-Ḥikam sebagai “kitab yang menghidupkan hati dan menuntun jiwa kepada keikhlasan” (Abū Ghuddah, 1998). Bahkan dalam konteks modern, para pemikir seperti al-Attas dan Shihab mengakui bahwa teks-teks seperti al-Ḥikam memiliki daya hidup yang melampaui zaman, karena menyentuh dimensi terdalam manusia, yakni ruh dan kesadaran.

 Pendekatan Kontemporer dan Kontekstual

Di era digital, pendekatan terhadap teks klasik seperti al-Ḥikam membutuhkan pembaruan metodologis. Bukan untuk mengubah substansi, tetapi untuk menjembatani makna dengan konteks kekinian. Generasi digital hidup dalam lanskap yang berbeda: serba cepat, serba visual, dan sering kali kehilangan kedalaman. Maka, syarah yang komunikatif, reflektif, dan kontekstual menjadi kebutuhan mendesak.

Sebagaimana diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr (2007), “Spiritualitas modern harus mampu menjawab kegelisahan manusia tanpa kehilangan akar tradisi.” Pendekatan kontemporer memungkinkan integrasi antara teks klasik dan pemikiran modern. Kutipan dari al-Ghazālī, al-Attas, Shihab, dan Ramadan menjadi jembatan antara tradisi dan aktualitas. Dengan demikian, syarah ini tidak hanya menjadi penjelasan, tetapi juga ruang dialog antara masa lalu dan masa kini.

Urgensi pendekatan ini juga didorong oleh realitas spiritual yang semakin terfragmentasi. Banyak pencari makna yang tersesat dalam spiritualitas instan, motivasi dangkal, dan konten viral yang miskin kedalaman. Maka, syarah al-Ḥikam ini diharapkan menjadi ruang pemulihan ruhani, tempat di mana pembaca dapat menemukan kembali keheningan, kejujuran, dan kedalaman.

Dengan pendekatan naratif-reflektif, syarah ini akan menghadirkan hikmah-hikmah Ibn ‘Aṭā’illah sebagai cermin kehidupan. Ia tidak hanya menjelaskan makna, tetapi juga mengajak pembaca untuk mengalami, merenung, dan menghidupkan kembali ruh tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah zaman yang gelisah, hikmah menjadi penawar. Dan penawar itu, insyaAllah, akan kita sajikan dengan adab, kedalaman, dan keikhlasan.

Dalam menyusun syarah terhadap al-Ḥikam Ibn ‘Aṭā’illah, pendekatan metodologis menjadi fondasi penting agar makna hikmah tidak hanya tersampaikan secara tekstual, tetapi juga menyentuh konteks kehidupan pembaca. Syarah ini tidak dimaksudkan sebagai tafsir literal, melainkan sebagai jembatan antara teks klasik dan realitas kontemporer. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bersifat kontekstual, reflektif, dan komunikatif.

Pendekatan kontekstual dalam syarah ini bertujuan untuk menghidupkan makna hikmah dalam lanskap kehidupan modern. Hikmah-hikmah Ibn ‘Aṭā’illah tidak dipahami secara ahistoris, melainkan ditautkan dengan dinamika zaman: kegelisahan eksistensial, krisis makna, dan pencarian spiritual di tengah dunia digital. Sebagaimana ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas (1993), “Ilmu yang tidak mempertimbangkan konteks akan kehilangan adab dan arah.”

(Bersambung)

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *