Di masa lalu, hiduplah seorang pria yang menghabiskan seluruh jatah usianya dalam kelalaian dan maksiat. Tidak ada satu pun rekam jejak kebaikan yang menonjol dalam hidupnya. Hari-harinya ia habiskan hanya dengan melanggar batasan-batasan Allah. Namun, saat usianya mulai menua dan bayang-bayang maut mulai mendekat, sebuah ketakutan yang luar biasa mencekik lehernya. Kenyataan bahwa ia akan segera berdiri di hadapan Penguasa Alam dengan tumpukan dosa membuat akal sehatnya nyaris runtuh.
Dalam kepanikan dan napas yang mulai tersengal-sengal, ia memanggil anak-anaknya untuk berkumpul. Pria tua itu menatap mereka dengan wajah pucat pasi dan tatapan putus asa, lalu mengucapkan sebuah wasiat yang sangat tidak masuk akal.
“Jika aku mati nanti, bakarlah jasadku! Lalu tumbuklah tulang-tulangku hingga hancur menjadi debu yang sangat halus.” Ia melanjutkan, “Setelah itu, tunggulah hari di mana badai dan angin bertiup sangat kencang. Sebarkan separuh debuku ke lautan lepas, dan separuh lagi ke daratan yang gersang.” Anak-anaknya hanya bisa terdiam pucat mendengar permintaan ekstrem tersebut.
Pria itu memaksakan wasiat gilanya dengan satu logika keputusasaan: “Demi Allah… Jika Tuhanku berhasil mengumpulkan jasadku, Dia pasti akan menyiksaku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun di alam semesta!”
Pria itu pun wafat, dan anak-anaknya melaksanakan wasiat tersebut dengan patuh. Jasadnya dibakar, debunya beterbangan ditelan badai lautan dan pusaran angin gurun. Secara logika manusia, jejak pria ini telah musnah, dan ia merasa berhasil lolos dari keadilan Allah.
Namun di sinilah kebesaran plot twist dari Sang Pencipta bekerja. Melalui kalimat “Kun Fayakun!”, Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan kembali seluruh debu tersebut. Dalam sekejap mata, pria itu kembali berdiri utuh di hadapan Allah yang sangat dihindarinya.
Di bawah tatapan keagungan-Nya, Allah bertanya kepada pria tersebut dengan satu pertanyaan yang menggetarkan jiwa: “Apa yang mendoromgu melakukan semua ini?”
Dengan tubuh yang masih bergetar hebat, pria itu menunduk dan menjawab jujur dari lubuk hatinya: “Karena rasa takutku kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Jawaban yang lahir dari keputusasaan itu seketika membuat Allah menurunkan rahmat-Nya dan menghapus seluruh dosanya.
Pesan untuk Sahabat Sirah:
Kisah ini adalah sebuah pelukan hangat bagi kamu yang hari ini sering kali merasa terlalu hina untuk sekadar mengangkat tangan dan berdoa. Kamu merasa dirimu terlalu kotor, penuh masa lalu kelam, dan merasa tidak lagi pantas untuk mendapatkan ampunan.
Namun pahamilah, rasa takut yang membuatmu merasa begitu hina di hadapan-Nya, sejatinya adalah bukti ketulusan iman yang menyala di dalam dada. Jangan pernah membuang dirimu dalam keputusasaan! Karena air mata penyesalan dan perasaan “tidak pantas” milikmu, jauh lebih mahal harganya untuk mengetuk pintu rahmat langit daripada kesombongan sebuah ibadah.
(Sumber: Shahih Bukhari No. 3481 & Shahih Muslim No. 2756) dan Instagram @daily.sirah
