Guru, Murabbi, dan Arsitek Peradaban

Oleh Ustadz Agus Sutisna

Hari ini semua orang (mestinya) memeringati Hari Guru Nasional. Mengapa semua orang ? Karena sejatinya tidak ada seorangpun di dunia ini yang hidup tanpa pernah memiliki guru. Dari Ali bin Abi Thalib Rodiyallahu’anhu kita belajar : bahwa seseorang yang mengajarinya, meski hanya satu huruf, ia adalah guru kita.

Hari ini 25 November kita semua memeringati dan merayakan Hari Guru Nasional. Dan peringatan ini tentu saja bukan sekadar paket seremonial. Melainkan sebagai momentum reflektif untuk menimbang kembali hakikat guru. Mereka, guru-guru kita, bukan hanya profesi, tetapi juga panggilan jiwa. Mereka hadir sebagai murabbi, yakni pembimbing adab sebelum ilmu, sekaligus arsitek peradaban yang menyiapkan fondasi masa depan bangsa.

Dalam ungkapannya yang kini populer, Ki Hajar Dewantara menegaskan: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Filosofi ini menempatkan guru sebagai teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi dorongan di belakang. Hakikat guru adalah kehadiran yang menyeluruh dalam sepanjang perjalanan hidup murid-muridnya, bukan sekadar pengajar di ruang kelas atau majlis-majlis ilmu.

 Hakikat Guru sebagai Murabbi

Dalam tradisi pesantren, guru dipandang sebagai murabbi, pembimbing yang menanamkan adab sebelum ilmu. Seorang santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga menyerap keteladanan hidup sang kiai dan para ustadznya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Barangsiapa mengajarkan kepadaku satu huruf, maka aku menjadi budaknya.” Ungkapan ini mencerminkan posisi sosial sekaligus penghormatan luar biasa terhadap guru, bahkan untuk satu huruf ilmu yang diajarkan.

Di dalam Al Quran Surat Al-Mujadilah ayat 11, dijelaskan, bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Dalam komteks ini Al Quran menegaskan bahwa guru, sebagai pengajar ilmu, memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.

 Arsitek Peradaban, Pengampu Civic Education

Lebih dari sebagai pengajar, guru adalah arsitek peradaban yang merancang masa depan suatu bangsa. Paulo Freire menulis: “Education either functions as an instrument to facilitate integration of the younger generation into the logic of the present system, or it becomes the practice of freedom.” Guru, dengan demikian, bukan hanya pengajar, tetapi fasilitator kebebasan berpikir, yang menuntun murid untuk merdeka dalam akal dan adab.

Dalam pandangan Henry Adams, pengaruh guru melampaui ruang kelas, bahkan melampaui batas generasi.“A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.”

Dalam konteks kebangsaan, guru adalah pilar civic education. Mereka menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial. Guru membentuk warga negara yang tidak hanya tahu haknya, tetapi juga sadar akan kewajibannya. John Dewey menegaskan: “Education is not preparation for life; education is life itself.” Guru, dengan segala keterbatasannya, tetap menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalitas.

 Kurator Literasi, Seniman Kehidupan

Di tengah banjir informasi, guru berperan sebagai kurator literasi. Ia membantu murid memilah mana pengetahuan yang sahih dan mana yang menyesatkan. Terkait peran ini, Rasulullah ﷺ mengabarkan penghormatan semeseta kepada para guru melalui sabdanya :

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan betapa luasnya keberkahan seorang guru. Mereka tidak hanya dihargai oleh manusia, tetapi juga oleh seluruh makhluk Allah.

Albert Einstein pernah berkata: “It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge.” Guru adalah seniman kehidupan, yang dengan sabar melukis masa depan di kanvas generasi. Ia tidak hanya mengajarkan rumus atau teori, tetapi juga menghidupkan imajinasi, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membangkitkan semangat eksploratif.

 Refleksi dan Apresiasi

Hari Guru Nasional adalah momentum untuk meneguhkan komitmen kolektif: mendukung guru berarti mendukung masa depan bangsa. Guru adalah cahaya yang tak pernah padam, meski kadang redup oleh keterbatasan. Tugas kita sebagai masyarakat adalah memastikan cahaya itu terus menyala, dengan kebijakan yang berpihak, penghargaan yang layak, dan ruang yang mendukung kreativitas mereka.

Menghormati guru bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi dengan komitmen nyata: menyediakan ruang belajar yang layak, kebijakan pendidikan yang berkeadilan, dan penghargaan yang sepadan dengan peran mereka.

Guru menghadapi tantangan berat: keterbatasan fasilitas, rendahnya penghargaan, hingga beban administratif yang sering menggerus energi kreatif. Namun, di balik semua itu, guru tetap hadir dengan dedikasi. Jalaluddin Rumi berpesan: “Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder.” Guru menumbuhkan generasi dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan.

Akhir kalam. Guru adalah murabbi yang menanamkan adab, sekaligus arsitek yang merancang peradaban. Mereka hadir sebagai teladan, pembimbing, dan inspirasi. Hari Guru Nasional adalah saat yang tepat untuk meneguhkan kembali komitmen kita: mendukung guru berarti mendukung masa depan bangsa dan peradaban kemanusiaan.

Sebagaimana pesan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, penghormatan kepada guru adalah penghormatan kepada ilmu itu sendiri. Dan seperti kata Henry Adams, pengaruh guru melampaui batas generasi. Guru adalah cahaya yang tak pernah padam, murabbi yang menuntun, dan arsitek yang membangun peradaban.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *