Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momentum untuk mengenang perjuangan para santri dalam menjaga agama, bangsa, dan negara. Santri bukan hanya identik dengan sorban dan kitab kuning, tetapi juga dengan semangat juang, keikhlasan, dan kecintaan terhadap ilmu serta tanah air. Tahun 2025 ini, peringatan Hari Santri memiliki makna yang lebih mendalam karena datang di tengah ujian berat yang sedang dihadapi oleh dunia pesantren.
Belakangan ini, publik dihebohkan dengan berbagai isu yang menyerang citra pesantren dan para kiai. Tuduhan miring, framing negatif di media sosial, hingga berita yang menggiring opini publik seolah-olah pesantren adalah tempat tertutup dan penuh masalah. Padahal, pesantren sejatinya adalah benteng moral bangsa, tempat ditempanya generasi yang berakhlak, cerdas, dan cinta tanah air. Satu dua kasus yang terjadi tidak bisa dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh lembaga pesantren yang jumlahnya ribuan dan selama ini telah banyak berkontribusi dalam membentuk karakter bangsa.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu dan menjadi penegak kebenaran adalah kemuliaan yang tinggi di sisi Allah. Santri adalah bagian dari barisan orang-orang yang diberi ilmu dan mengamalkannya untuk kemaslahatan umat. Maka ketika pesantren difitnah atau dijatuhkan, sesungguhnya itu adalah ujian keikhlasan dan keteguhan dalam menjaga amanah ilmu.
Hari Santri tahun ini seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pesantren. Santri dan kiai adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan. Mereka berperan besar dalam menjaga keutuhan bangsa dari penjajahan, baik fisik maupun ideologis. Di era modern ini, tantangan santri justru datang dalam bentuk baru — bukan lagi penjajahan senjata, tetapi perang narasi, perang opini, dan perang moral di dunia maya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa menjadi santri berarti sedang menapaki jalan menuju kemuliaan, bahkan menuju surga. Karena itu, tidak sepantasnya perjuangan santri dan pesantren direndahkan hanya karena segelintir kesalahan individu. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki diri, memperkuat sistem pendidikan, dan memperbanyak kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Kiai-kiai kita selalu mengajarkan bahwa fitnah adalah ujian bagi orang beriman. Maka, di tengah gempuran opini negatif, santri dan pesantren justru harus meningkatkan kualitas diri, memperkuat solidaritas, dan memperkokoh komitmen pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Pesantren tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga pemimpin bangsa, pendidik, dan pelaku perubahan yang membawa kebaikan.
Mari kita jadikan Hari Santri 2025 ini sebagai pengingat bahwa perjuangan santri belum selesai. Dunia boleh berubah, tapi nilai-nilai pesantren — keikhlasan, tawadhu’, cinta ilmu, dan cinta tanah air — harus tetap menjadi pondasi. Fitnah boleh datang silih berganti, tapi cahaya ilmu dan keikhlasan para santri tidak akan pernah padam. (pirireis)
Selamat Hari Santri Nasional 2025.
Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia
