Hikmah Kedua Puluh Lima: Sandarkan Setiap Ikhtiar pada Allah, Bukan pada Keakuan Diri

Hikmah Kedua Puluh Lima: Sandarkan Setiap Ikhtiar pada Allah, Bukan pada Keakuan Diri

Ust. H. Agus Sutisna

 

Pengantar

Pada Hikmah Kedua Puluh Empat, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari telah mengingatkan kita agar tidak merasa heran atau kaget atas datangnya kekeruhan, kesulitan, dan kesedihan, karena dunia ini memang diciptakan sebagai tempat ujian dengan sifat aslinya yang keruh, kumuh.

Beranjak ke Hikmah Kedua Puluh Lima ini, As-Sakandari membawa kita pada dimensi yang lebih fundamental dalam mengarungi kehidupan, yakni ke mana arah tumpuan dan sandaran hati kita tatkala berikhtiar, dalam urusan apapun.

Sering kali, diantara kita terjebak dalam ilusi bahwa kesuksesan, rezeki, dan tercapainya sebuah hajat adalah murni hasil dari kecerdasan otak, kekuatan fisik, atau strategi  dan manajemen canggih yang dirancang sedemikian rupa.

Melalui untaian aforisma yang tajam namun menyejukkan hati ini,  Syekh As-Sakandari mengingatkan kita agar tidak salah menaruh sauh (jangkar) pengharapan. Berikut bait aforismanya:

مََا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أنْتَ طالِبُهُ بِرَبِّكَ. وَلا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طالِبُهُ بِنَفْسِكَ

“Tiadalah akan tertahan atau gagal suatu hajat yang engkau cari dengan pertolongan Tuhanmu (Allah), dan tiada pula akan pernah dipermudah suatu hajat yang engkau tuju dengan mengandalkan kekuatan dirimu sendiri.”

 

Kajian Referensi

Peringatan tegas mengenai bahaya mengandalkan diri sendiri (i’timad ‘alan-nafs) ini dibedah secara mendalam oleh para ulama pensyarah klasik kitab Al-Hikam.

Syekh Ibnu ‘Abbad ar-Rundi dalam Syarh Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa seorang hamba yang melangkah dalam hidup sering kali tergelincir ke dalam sifat ‘ujub (bangga diri). Ketika usahanya sukses, ia mengira itu semata-mata karena kehebatan manajemen dan keringatnya sendiri.

Ibnu ‘Abbad mengingatkan bahwa penyandaran diri kepada selain Allah adalah bentuk kelemahan hakiki. Segala sesuatu yang disandarkan pada kelemahan makhluk pasti akan rapuh dan berujung pada kebuntuan.

Selanjutnya, Syekh Ahmad bin Ajiba dalam Iqazh al-Himam menyoroti bahwa makna “bi rabbika” (dengan Tuhanmu) adalah kondisi di mana seorang hamba melepas keakuan (an-nafs), lalu tenggelam dalam kesadaran akan kefakirannya di hadapan Allah SWT.

Sebaliknya, orang yang berjalan dengan “binafsika” (dengan kekuatan dirimu) berarti ia sedang memutus sambungan rahmat Ilahi. Karena Allah membiarkan hamba tersebut menghadapi urusannya sendirian tanpa sokongan Qudrah-Nya.

Sementara itu, Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Bouthi memberikan ulasan sosio-teologis yang sangat relevan. Al-Bouthi menegaskan bahwa kegagalan mental manusia modern sering kali berakar dari ilusi kontrol (illusion of control).

Mereka merasa bisa mengatur masa depan hanya dengan kalkulasi materialistis, sehingga ketika takdir berkata lain, mereka jatuh pada stres kronis dan keputusasaan. Tauhid dalam ikhtiar menuntut kita untuk menempatkan ikhtiar sebagai bentuk adab (kepatuhan lahiriah), sementara hati tetap mutlak bergantung kepada ketetapan Allah SWT.

 

Syarah Kontemporer

Kontekstualisasi untaian hikmah abad ke-13 ini ke dalam lanskap kehidupan modern abad ke-21 membuka mata kita akan sebuah penyakit mental yang masif dan menjangkiti diantara kita. Yakni obsesi mandiri yang berlebihan (hyper-independence) dan kecemasan pencapaian.

Kita hidup di era kompetisi global yang menuntut produktivitas tanpa henti. Budaya hustle culture sering kali mendoktrin kita bahwa siapa yang bekerja paling keras, dialah yang akan menang. Akibatnya, manusia modern terjebak dalam kelelahan mental yang kronis.

Kita merasa seluruh beban hidup ada di pundak kita sendiri. Ketika target tercapai, kita sombong. Namun ketika gagal, kita merasa hancur lebur seolah-olah dunia kiamat.

Dalam konteks ini, kalimat “Tiadalah akan tertahan suatu hajat yang engkau cari dengan pertolongan-Nya” menjadi angin segar sekaligus koreksi telak. Betapa sering kita saksikan orang yang ikhtiarnya tampak sederhana, namun karena hatinya bersih dan bersandar penuh kepada Allah, urusannya dibukakan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka (min haitsu la yahtasib).     Sebaliknya, tidak sedikit orang yang secara hitungan matematis bisnis atau karier sudah sangat sempurna, namun hancur berantakan karena ada kesombongan batin yang mengandalkan kedigdayaan diri sendiri.

Kemudahan hidup, kelancaran bisnis, atau jabatan mentereng yang kita raih hari ini bukanlah bukti bahwa kita adalah makhluk paling hebat. Itu semua adalah bentuk kasih sayang Allah yang diberikan saat kita mau mengakui kelemahan diri dan melibatkan-Nya di setiap jengkal langkah dan ikhtiar kita.

 

Refleksi

Seperti biasa, mari kita bawa pulang petunjuk arah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini ke dalam keheningan malam kita masing-masing. Ketika besok pagi kita membuka mata, merencanakan target pekerjaan, atau menghadapi peliknya persoalan hidup, tanyakan pada kedalaman nurani: Kepada siapakah kita sejatinya menyandarkan setiap harapan hari ini?

Apakah kita melangkah dengan rasa sok jagoan, mengandalkan koneksi, otak, dan kecakapan sendiri? Ataukah kita melangkah dengan kesadaran penuh bahwa tanpa taufik dan izin-Nya, siapapun diantara kita tidak akan mampu menggerakkan satu langkah pun?

Jika hari ini ada hajat atau urusan kita yang terasa macet, buntu, dan penuh hambatan, mungkin ada yang keliru dengan titik sandaran hati kita. Barangkali kita terlalu sibuk mengandalkan kekuatan diri dan melupakan Sang Pemilik Segala Kemudahan.

Mulai hari ini, mari kita ubah orientasi batin kita. Lakukan ikhtiar terbaik secara profesional dan totalitas, namun gantungkan hasil akhirnya secara mutlak kepada Allah SWT. Ucapkan dalam hati setiap kali hendak memulai langkah: “Ya Allah, aku keluar dari daya dan upaya ku menuju kepada daya dan upaya-Mu.”

Dengarkan suara kebenaran di dalam batin yang terus berbisik: Wahai diri, jangan pernah sombong dengan kehebatanmu. Apa yang dicari dengan pertolongan-Nya tidak akan pernah sia-sia, dan apa yang dikejar dengan kesombongan diri tidak akan pernah membawa ketenangan sejati.

Sebab, seorang hamba yang cerdas tidak akan pernah mau bersandar pada ranting yang rapuh bernama ‘keakuan diri’. Jiwanya akan senantiasa tenang, merunduk dalam tawakal, dan berjalan tegap di bawah naungan pertolongan Sang Maha Kuasa. Wallahu’alam bi shawwab.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *